Kepergian Mohamed Salah dari Liverpool bukan sekadar akhir dari sebuah kontrak. Momen itu menjadi penutup emosional dari perjalanan panjang seorang legenda yang telah mengubah sejarah klub dalam hampir satu dekade terakhir. Stadion Anfield menjadi saksi bagaimana sosok yang selama ini dikenal dingin dan tajam di depan gawang akhirnya tak mampu menyembunyikan air mata.
Dalam laga terakhir Premier League musim 2025/2026 melawan Brentford, Minggu malam WIB, Salah resmi memainkan pertandingan terakhirnya bersama The Reds. Suasana haru sudah terasa bahkan sejak sebelum pertandingan dimulai. Para pendukung Liverpool memenuhi tribun dengan mosaik besar bertuliskan “Mo 11” sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pemain yang telah memberikan begitu banyak kenangan indah untuk klub Merseyside tersebut.
Pertandingan itu bukan hanya soal hasil akhir, melainkan tentang perpisahan seorang ikon. Setiap sentuhan bola Mohamed Salah disambut tepuk tangan meriah. Setiap langkahnya di lapangan terasa berbeda karena semua orang di Anfield tahu bahwa malam itu adalah terakhir kalinya mereka melihat sang raja Mesir mengenakan jersey merah Liverpool.
Assist Terakhir Mohamed Salah untuk Liverpool
Meski pertandingan berlangsung penuh emosi, Salah tetap menunjukkan kualitasnya sebagai pemain kelas dunia. Winger asal Mesir itu berhasil mencatatkan assist penting untuk gol Curtis Jones yang membantu Liverpool mengamankan tiket menuju Champions League musim depan.
Momen tersebut terasa sangat simbolis. Salah tidak mencetak gol dalam laga terakhirnya, tetapi ia tetap memberikan kontribusi penting untuk tim, seperti yang selalu ia lakukan selama bertahun-tahun di Anfield. Itu menjadi gambaran sempurna tentang dedikasi dan pengorbanannya bersama Liverpool.
Ketika pelatih memutuskan menarik Salah keluar pada menit ke-74, seluruh stadion langsung berdiri. Ribuan suporter memberikan standing ovation yang menggema di seluruh penjuru Anfield. Tepuk tangan panjang, nyanyian, dan sorakan cinta dari fans menjadi bukti bahwa Salah telah meninggalkan jejak yang tidak akan pernah hilang dalam sejarah klub.

Air Mata yang Tak Bisa Disembunyikan
Selama ini Mohamed Salah dikenal sebagai pemain yang kuat secara mental. Ia jarang menunjukkan emosi berlebihan di depan publik. Namun malam perpisahan itu benar-benar menghancurkan pertahanannya.
Sesaat sebelum meninggalkan lapangan, Salah terlihat bersujud lalu mencium rumput Anfield untuk terakhir kalinya. Rekan-rekan setim langsung menghampiri dan memeluknya di tengah suasana yang sangat emosional. Banyak fans yang ikut menangis melihat momen tersebut.
Dalam wawancara setelah pertandingan, Salah akhirnya mengungkapkan bahwa dirinya memang beberapa kali menangis menjelang kepergiannya dari Liverpool.
“Saya banyak menangis. Saya pikir lebih banyak daripada yang saya lakukan sepanjang hidup saya. Sangat sulit meninggalkan tempat seperti ini,” ungkap Salah.
Pengakuan itu membuat banyak penggemar semakin tersentuh. Di balik sosok agresif dan penuh percaya diri di atas lapangan, ternyata Mohamed Salah menyimpan ikatan emosional yang begitu besar terhadap Liverpool.
Ia juga mengaku sempat menangis di tempat latihan karena sulit menerima kenyataan bahwa perjalanannya bersama klub akan segera berakhir.
“Saya bukan tipe pria yang emosional. Kalian jarang melihatnya di media. Kalian selalu melihat saya tangguh dan agresif, tetapi di dalam diri saya, saya menerimanya seperti seorang bayi,” lanjut Salah.
Kata-kata tersebut langsung viral di media sosial. Banyak pendukung Liverpool merasa bahwa kepergian Salah akan menjadi salah satu perpisahan paling emosional dalam sejarah klub.
Sembilan Tahun Penuh Kejayaan
Mohamed Salah datang ke Liverpool pada tahun 2017 dengan banyak keraguan. Saat itu, sebagian orang mempertanyakan apakah ia mampu bersinar di Premier League setelah sebelumnya gagal bersama Chelsea.
Namun semua keraguan langsung dibungkam pada musim pertamanya. Mohamed Salah tampil luar biasa dengan torehan gol fantastis yang membuatnya langsung menjadi idola baru di Anfield. Sejak saat itu, namanya terus berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dunia.
Selama sembilan musim berseragam Liverpool, Salah berhasil mempersembahkan sembilan trofi bergengsi. Ia membawa klub memenangkan Premier League, Liga Champions, FA Cup, Carabao Cup, UEFA Super Cup, hingga FIFA Club World Cup.
Tidak hanya sukses secara tim, Salah juga mencetak berbagai pencapaian individu luar biasa. Ia meraih empat Sepatu Emas Premier League dan berkali-kali menjadi pemain terbaik klub.
Konsistensinya benar-benar luar biasa. Hampir setiap musim Mohamed Salah selalu menjadi mesin gol utama Liverpool. Bahkan ketika performa tim menurun, dirinya tetap mampu tampil tajam dan menjadi pembeda di lapangan.
Karena itulah, banyak fans menganggap Mohamed Salah sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah Liverpool.
Perpisahan Andy Robertson yang Tak Kalah Emosional
Malam itu ternyata bukan hanya menjadi perpisahan untuk Salah. Andy Robertson juga memainkan laga terakhirnya bersama Liverpool.
Bek kiri asal Skotlandia tersebut selama ini menjadi bagian penting dalam era kejayaan Liverpool di bawah asuhan Jurgen Klopp. Kerja keras, determinasi, dan loyalitas Robertson membuatnya sangat dicintai para pendukung.
Salah secara khusus memberikan penghormatan kepada Robertson dalam wawancaranya. Ia menyebut sang bek sebagai contoh sempurna tentang arti pengorbanan untuk klub.
Menurut Salah, Robertson mungkin tidak selalu menjadi pemain paling berbakat di lapangan, tetapi semangat juangnya membuat para fans mencintainya tanpa syarat.
“Inilah mengapa Robertson mungkin dicintai lebih dari siapa pun, karena dia memberikan segalanya di lapangan dan penggemar mencintainya karena itu,” kata Salah.
Ucapan tersebut menggambarkan betapa kuat hubungan antarpemain di ruang ganti Liverpool selama bertahun-tahun terakhir.
Pesan Menyentuh Salah untuk Generasi Baru Liverpool
Sebelum meninggalkan Liverpool, Salah juga memberikan pesan penting kepada para pemain muda yang akan melanjutkan perjuangan klub.
Ia mengatakan bahwa generasi mereka telah berhasil mengembalikan Liverpool ke level tertinggi sepak bola Eropa. Karena itu, standar tersebut harus tetap dijaga.
“Kami meninggalkan masa muda kami di sini. Kami berbagi segalanya dari awal hingga akhir. Kami menempatkan klub ini kembali ke tempat yang semestinya,” ujar Salah.
Pesan itu bukan sekadar nasihat biasa. Salah ingin pemain-pemain baru memahami bahwa bermain untuk Liverpool membutuhkan lebih dari sekadar bakat.
Menurutnya, fans Liverpool hanya menginginkan satu hal dari para pemain: kerja keras dan pengorbanan penuh di atas lapangan.
“Para penggemar tidak terlalu peduli dengan hasil selama Anda berkeringat dan memberikan darah Anda di sini. Mereka akan mencintai Anda selamanya,” lanjutnya.
Kata-kata itu langsung mendapat pujian dari banyak mantan pemain dan pengamat sepak bola. Banyak yang menilai Salah benar-benar memahami budaya dan identitas Liverpool.
Anfield Memberikan Cinta Terakhir

Hasil imbang melawan Brentford memastikan Liverpool finis di posisi kelima klasemen akhir Premier League dan lolos ke Champions League musim depan. Meski gagal bersaing memperebutkan gelar juara, malam itu tetap terasa spesial karena seluruh stadion fokus memberikan penghormatan kepada dua pemain senior mereka.
Suporter Liverpool menunjukkan betapa besar cinta mereka kepada Mohamed Salah. Nyanyian untuk sang pemain terus terdengar bahkan setelah pertandingan selesai.
Salah sendiri mengaku sangat tersentuh dengan dukungan luar biasa dari fans.
“Hal terpenting ketika kami pergi adalah para penggemar menghargai apa yang telah Anda lakukan untuk klub,” tutur Salah.
Ia mengatakan bahwa cinta dari fans jauh lebih penting dibanding trofi atau penghargaan individu. Bagi Salah, dihormati dan dikenang oleh para pendukung Liverpool adalah pencapaian terbesar dalam kariernya.
“Ini bukan seperti, ‘Pergilah, kami tidak menginginkanmu lagi.’ Tidak. Anda melihat cinta dari para penggemar. Itu adalah hal terpenting bagi saya,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut membuat suasana perpisahan semakin emosional. Banyak fans percaya bahwa Salah bukan hanya pemain hebat, tetapi juga sosok yang benar-benar memahami arti bermain untuk Liverpool.
Mohamed Salah dan Warisan Besarnya di Liverpool
Sulit membayangkan Liverpool tanpa Mohamed Salah. Selama hampir satu dekade, ia menjadi simbol kebangkitan klub. Dari pemain yang diragukan menjadi legenda hidup Anfield, perjalanan Salah adalah kisah yang akan terus dikenang dalam sejarah sepak bola.
Ia tidak hanya menghadirkan gol dan trofi, tetapi juga mentalitas juara yang membantu mengubah Liverpool menjadi salah satu klub terbaik di dunia.
Kecepatan, ketajaman, dan konsistensinya menjadikan Salah mimpi buruk bagi lawan-lawannya di Premier League. Namun di luar semua itu, kerendahan hati dan dedikasinya membuat ia semakin dicintai para fans.
Banyak pemain hebat datang dan pergi dari Liverpool, tetapi tidak semuanya mampu meninggalkan hubungan emosional sedalam Mohamed Salah.
Kini Liverpool memasuki era baru tanpa Salah dan Robertson. Tantangan besar menanti generasi berikutnya untuk menjaga standar tinggi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Sementara itu, para pendukung Liverpool hanya bisa mengenang malam penuh air mata di Anfield. Malam ketika seorang legenda mencium rumput stadion untuk terakhir kalinya dan mengucapkan selamat tinggal kepada klub yang telah menjadi rumahnya selama sembilan tahun.
Mohamed Salah mungkin telah pergi, tetapi namanya akan selalu hidup di hati para pendukung Liverpool. Anfield tidak akan pernah melupakan sang Raja Mesir.


