duniabola Liverpool tidak menunjukkan bahwa mereka adalah juara bertahan saat menjamu Nottingham Forest pada laga pekan ke-12 Premier League 2025/2026, Sabtu (22/11) malam WIB. The Reds tampil buruk dan melanjutkan hobi mereka kalah dengan skor 3-0.
Liverpool awalnya diprediksi akan meraih tiga poin pada duel lawan Nottingham. Lawan yang dihadapi adalah tim yang sangat labil dan tengah berada di zona degradasi pada klasemen Premier League.
Namun, Nottingham justru memberikan luka yang dalam bagi Liverpool. Tiga gol mampu mereka sarangkan ke gawang The Reds lewat aksi Murillo pada menit ke-33, Nicolo Savona pada menit ke-46, dan Morgan Gibbs-White pada menit ke-78.
Kekalahan memalukan tersebut membuat kubu Liverpool kini turun ke peringkat ke-11 klasemen Premier League dengan 18 poin. Lebih dari itu, kekalahan ini adalah momen memalukan karena terjadi di Anfield. Yuk simak ulasannya di bawah ini ya Bolaneters.
Kekalahan 3-0 ke-3 untuk Liverpool

Bagi Liverpool, Nottingham bukan tim pertama yang mampu mengalahkan mereka. Performa Mohamed Salah dan kolega musim ini memang mengkhawatirkan. Liverpool sudah sering merasakan kekalahan, bahkan tiga diantaranya dengan skor 0-3.
Kekalahan dengan skor 0-3 pertama terjadi pada duel lawan Nottingham, seperti yang sudah dibahas dalam penjelasan di atas.
Sebelumnya, Liverpool juga kalah dengan skor 0-3 saat tandang ke markas Man City pada pekan ke-11 Premier League. The Reds kalah pada laga ke 1000 Pep Guardiola sebagai manajer Man City. Hasil yang buruk bagi Liverpool.
Mundur ke belakang lagi, Liverpool juga kalah dengan skor 0-3 saat bersua Crystal Palace pada Putaran 4 Carabao Cup. Laga ini dimainkan di Anfield. Ismailla Sarr jadi mimpi buruk bagi Liverpool lewat dua gol yang dicetaknya.
Pertahanan Liverpool yang Bobrok
Rangkaian hasil buruk di atas jadi bukti bahwa ada yang salah dengan Liverpool, secara khusus di lini belakang. Kapten Virgil van Dijk, usai laga melawan Nottingham, mengakui jika timnya bertahan dengan cara yang buruk.
“Kami kebobolan terlalu banyak gol mudah. Mereka jelas mencetak gol lagi dari situasi bola mati,” ucap Van Dijk dikutip dari BBC Sport.
“Anda bisa bertanya apakah dia berada di depan Alisson, tapi itu penting, jadi kami tertinggal 1-0. Kami kurang bagus dalam hal pertarungan, tekel, dan pertarungan, terlalu terburu-buru. Situasinya sangat sulit saat ini,” tegasnya.
Analisis Mendalam Krisis Liverpool Usai Dipecundangi Nottingham Forest
Kekalahan telak 0-3 yang diderita Liverpool dari Nottingham Forest di Anfield bukan sekadar hasil minor di pekan ke-12 Premier League; itu adalah alarm keras yang menunjukkan bahwa juara bertahan sedang berada dalam fase krisis performa yang mendalam. Skor yang identik untuk kali ketiga musim ini (setelah Man City dan Crystal Palace) menegaskan bahwa masalah Liverpool bukanlah insiden, melainkan pola yang mengakar di hampir setiap lini.

Lini Belakang: Lebih dari Sekadar “Bobrok”
Pengakuan Virgil van Dijk bahwa timnya “kebobolan terlalu banyak gol mudah” dan “bertahan dengan cara yang buruk” adalah kejujuran yang pahit. Namun, masalahnya jauh melampaui kesalahan individual. Lini pertahanan Liverpool tampak kehilangan struktur dan komunikasi yang selama ini menjadi ciri khas mereka di bawah asuhan manajer.
Gol pertama Nottingham Forest yang dicetak oleh Murillo pada menit ke-33 berawal dari situasi set-piece—sebuah kelemahan yang berulang kali dieksploitasi lawan. Ketiadaan marking yang ketat dan koordinasi yang lambat dalam merespons umpan silang membuat Murillo memiliki ruang bebas untuk menyundul bola.
Lebih lanjut, absennya Trent Alexander-Arnold di sisi kanan karena cedera terasa sangat vital. Penggantinya, meskipun berusaha, tidak mampu memberikan output serangan yang sama dan sering kali terekspos dalam situasi transisi pertahanan. Bersama Van Dijk, Ibrahima Konate atau Joel Matip di jantung pertahanan terlihat sering terlambat menutup ruang, meninggalkan Alisson Becker dalam posisi sulit yang tak terhindarkan. Pertahanan yang dulu dikenal sangat tinggi dan agresif kini tampak ragu-ragu dan mudah dipecah dengan umpan terobosan sederhana.
Lini Tengah: Hilangnya Energi dan Kreativitas
Jika pertahanan adalah fondasi, lini tengah adalah mesin yang menghidupkannya. Musim ini, mesin Liverpool tampak sering terlalu panas dan macet. Gelandang-gelandang yang diturunkan—terlepas dari rotasi—gagal memenangkan duel di lini tengah.
Kekalahan dari Forest membuktikan bahwa keseimbangan di lini tengah belum ditemukan. Pemain seperti Dominik Szoboszlai dan Alexis Mac Allister yang diharapkan menjadi dinamo kreatif sering terpaksa turun terlalu dalam untuk membantu pressing yang tidak efektif, sehingga menghilangkan koneksi dengan lini serang. Kehilangan Fabinho dan Jordan Henderson—meskipun perlahan menua—masih terasa dampaknya pada aspek ball-winning dan mentalitas kepemimpinan di lapangan tengah.
Gol kedua Nottingham oleh Nicolo Savona sesaat setelah jeda (menit ke-46) adalah contoh kegagalan pressing lini tengah. Liverpool kehilangan bola dengan mudah di area berbahaya, dan transisi cepat lawan tidak mampu diimbangi oleh gelandang yang terlambat melakukan recovery. Hal ini menciptakan ruang lebar yang dimanfaatkan lawan dengan akurat.
Lini Serang: Tumpulnya Ketajaman The Reds
Masalah Liverpool tidak berhenti di belakang. Lini serang, yang dipimpin oleh Mohamed Salah, juga menghadapi tantangan besar. Meskipun Salah tetap menjadi pencetak gol utama, efektivitas serangan secara keseluruhan menurun drastis.
Ketiadaan sentuhan akhir yang klinis, ditambah dengan kurangnya pergerakan tanpa bola dari striker dan winger lainnya, membuat serangan Liverpool mudah dibaca. Melawan Nottingham Forest, dominasi penguasaan bola (sekitar 70% hingga 75%) hanya menghasilkan sedikit peluang bersih yang mengancam. Upaya tembakan sering kali melenceng atau langsung mengarah ke pelukan kiper.
Darwin Nunez, meskipun penuh semangat, sering kali gagal memanfaatkan positioning yang tepat, sementara Cody Gakpo terlihat kelelahan dan kurang memiliki impact yang signifikan. Gol ketiga Forest, yang dicetak oleh Morgan Gibbs-White (menit ke-78) melalui serangan balik, terjadi ketika lini serang Liverpool terlalu fokus menyerang tanpa cover yang memadai di belakang.
Tekanan yang Meningkat pada Manajer
Hasil buruk ini tentu saja meningkatkan tekanan pada manajer tim. Posisi di peringkat ke-11 klasemen Premier League dengan hanya 18 poin setelah 12 pertandingan adalah sebuah catatan terburuk dalam beberapa tahun terakhir bagi klub sebesar Liverpool.
Pertanyaan mulai muncul: apakah manajer telah kehilangan magic-nya? Apakah skuad yang ada sudah jenuh dengan taktik yang sama? Manajer kini harus segera menemukan solusi, baik melalui penyesuaian taktik, perubahan formasi, atau bahkan manajemen mental pemain yang tampak rapuh. Jika tren kekalahan 0-3 terus berlanjut, posisi manajer akan menjadi sorotan utama, terutama menjelang jeda internasional berikutnya.
Kekalahan di Anfield ini bukan sekadar tiga poin yang hilang; ini adalah cerminan dari krisis identitas yang tengah melanda Liverpool. Mereka harus segera berbenah jika tidak ingin musim ini berakhir tanpa gelar dan bahkan terlempar dari zona Eropa.

