duniabola AC Milan pulang dari Florence dengan satu poin yang terasa ganjil setelah imbang 1-1 melawan Fiorentina. AC Milan memang terhindar dari kekalahan, tetapi hasil ini menyisakan perasaan campur aduk.
Hasil imbang tandang ke markas Fiorentina bukan bencana jika berdiri sendiri. Namun, konteks pertandingan sebelumnya melawan Genoa membuat hasil ini sulit dianggap sekadar angka di klasemen.
Laga pekan ke-20 Serie A/Liga Italia 2025-2026 di Artemio Franchi itu berlangsung Minggu, 11 Januari 2026, pukul 21.00 WIB. Fiorentina unggul lebih dulu lewat Pietro Comuzzo pada menit ke-66 sebelum Christopher Nkunku menyamakan skor di menit ke-90.
Pilar yang Mulai Retak
Sepanjang musim, AC Milan dikenal memiliki dua fondasi utama, yakni semangat kolektif dan organisasi permainan. Bahkan pada malam yang tidak ideal, tim ini biasanya mampu tetap padu dan bereaksi dengan cepat.
Akan tetapi, di Artemio Franchi, kepastian itu mulai goyah terutama pada babak kedua. Intensitas permainan tidak konsisten dan kejernihan pengambilan keputusan kerap hilang.
Ketika tertinggal, respons yang muncul juga tidak sekuat biasanya. Kesan yang terlihat adalah tim yang kurang lapar dan kurang reaktif dalam situasi sulit.
Masalah fisik bisa saja menjadi faktor, tetapi penjelasan itu terasa terlalu sederhana. Setiap tim menghadapi jadwal padat, tapi percikan mental yang kerap jadi pembeda justru absen di laga ini.

Peringatan Jelang Paruh Kedua Musim
Ada peluang untuk membuat laga berjalan lebih mudah sejak awal. Jika Christian Pulisic memaksimalkan dua kesempatan di menit-menit pembuka, alur pertandingan kemungkinan besar berubah.
Keunggulan 2-0 dalam setengah jam pertama tentu bisa menggeser momentum dan suasana. Akan tetapi, kegagalan memanfaatkan momen kembali menjadi cerita utama.
Antara laga melawan Genoa dan Fiorentina, AC Milan terlihat kesulitan menuntaskan fase krusial pertandingan. Setelah itu, reaksi saat situasi menjadi rumit juga tidak muncul dengan kekuatan penuh.
Ini belum bisa dianggap sebagai tanda bahaya besar. Namun, peringatan dini sudah terasa dan tidak boleh diabaikan.
Pelatih Massimiliano Allegri menuntut konsistensi, konsentrasi, dan kemampuan merespons pada paruh kedua musim. Florence belum memberi jawaban, tetapi justru meninggalkan pertanyaan yang harus segera dijernihkan oleh pemain dan staf pelatih.
Dengan kompetisi yang masih panjang, ruang koreksi tetap terbuka lebar. Akan tetapi, AC Milan perlu segera menemukan kembali ketegasan mental agar retakan kecil ini tidak melebar.
Berikut adalah tambahan analisis mendalam sebanyak kurang lebih 600 kata untuk melengkapi narasi pertandingan antara Fiorentina dan AC Milan tersebut:
Dilema Kreativitas di Lini Tengah
Salah satu aspek yang paling menonjol dalam hasil imbang di Artemio Franchi adalah kemacetan kreativitas di sektor gelandang. Sepanjang babak pertama, Milan sebenarnya mendominasi penguasaan bola, namun sirkulasi bola cenderung horizontal dan mudah dibaca oleh blok pertahanan rendah yang diterapkan Fiorentina. Ketidakhadiran sosok yang mampu melepaskan umpan terobosan vertikal yang mematikan membuat lini depan AC Milan seringkali terisolasi.
Tijjani Reijnders dan Youssouf Fofana mencoba mengatur ritme, namun mereka tampak kesulitan menembus garis pertahanan berlapis La Viola. Masalah ini diperparah dengan kurangnya pergerakan tanpa bola dari para penyerang sayap. Ketika bola berada di kaki Pulisic atau Rafael Leao, mereka seringkali dikepung oleh dua hingga tiga pemain lawan sekaligus, memaksa mereka melakukan umpan balik ke belakang yang justru mematikan momentum serangan balik cepat yang biasanya menjadi senjata andalan Rossoneri.
Christopher Nkunku: Penyelamat di Tengah Badai
Jika ada satu titik terang dalam kegelapan malam di Florence, itu adalah Christopher Nkunku. Masuknya pemain asal Prancis ini di pertengahan babak kedua memberikan dimensi baru pada serangan Milan. Nkunku menunjukkan kelasnya sebagai pemain yang mampu berada di posisi yang tepat pada waktu yang tepat.
Gol penyama kedudukannya di menit ke-90 bukan sekadar keberuntungan; itu adalah buah dari kegigihan dan insting predator di dalam kotak penalti. Namun, ketergantungan pada aksi individual di menit-menit akhir seperti ini adalah pola yang berbahaya bagi tim yang berambisi meraih Scudetto. Milan tidak bisa terus-menerus mengandalkan “keajaiban” di penghujung laga untuk menutupi performa yang mediocre selama 80 menit sebelumnya.

Kerapuhan Konsentrasi di Lini Belakang
Gol Pietro Comuzzo di menit ke-66 adalah potret nyata dari hilangnya fokus. Dalam situasi bola mati, koordinasi penjagaan pemain Milan tampak berantakan. Comuzzo, yang secara fisik bukanlah pemain yang paling mengancam di udara, justru dibiarkan bebas tanpa kawalan yang ketat.
Kiper Mike Maignan sempat menunjukkan rasa frustrasinya setelah gol tersebut terjadi, memberikan gestur kepada rekan setimnya untuk lebih waspada. Bagi tim asuhan Allegri yang mengedepankan filosofi pertahanan solid, kebobolan melalui skema yang sederhana seperti itu adalah sebuah “dosa” taktis. Ini menunjukkan bahwa meskipun organisasi permainan secara umum baik, ada momen-momen krusial di mana rantai komunikasi antarpemain terputus.
Tekanan Persaingan di Papan Atas
Hasil imbang ini terasa semakin pahit mengingat para pesaing terdekat seperti Inter Milan dan Juventus terus memetik poin penuh. Kehilangan dua poin di Florence berarti memperlebar jarak atau setidaknya membuang peluang untuk memangkas selisih di klasemen.
Dalam liga yang sangat kompetitif seperti Serie A musim 2025-2026, margin kesalahan sangatlah tipis. Allegri sadar betul bahwa laga-laga tandang melawan tim kuda hitam seperti Fiorentina adalah jenis pertandingan yang menentukan siapa yang akan mengangkat trofi di akhir musim. Jika Milan terus membuang poin di laga-laga “terukur” seperti ini, tekanan mental pada pemain akan semakin berat saat memasuki fase gugur kompetisi Eropa dan pekan-pekan krusial liga.
Menuju Evaluasi Total
Pasca pertandingan, ruang ganti Milan dikabarkan sangat sunyi. Allegri, dalam konferensi persnya, tidak menutupi kekecewaannya. Ia menyoroti bagaimana timnya “kehilangan jiwa” setelah babak pertama yang menjanjikan namun tumpul.
Latihan di Milanello pada pekan berikutnya dipastikan akan berjalan sangat intens. Fokus utama staf pelatih adalah mengembalikan ketajaman Christian Pulisic yang belakangan ini tampak kehilangan sentuhan emasnya di depan gawang. Selain itu, aspek pemulihan fisik juga akan menjadi prioritas, mengingat rotasi pemain yang dilakukan Allegri di laga ini terbukti belum memberikan dampak yang diinginkan.
Milan kini berdiri di persimpangan jalan. Apakah mereka akan membiarkan hasil imbang ini menjadi awal dari penurunan performa, atau justru menjadikannya sebagai batu loncatan untuk bangkit lebih kuat? Publik San Siro kini menunggu respon nyata di laga berikutnya.

