duniabola Lionel Messi kembali berdiri di ambang tonggak bersejarah. Memasuki 2026, megabintang Argentina itu hanya berjarak empat gol dari catatan 900 gol sepanjang karier profesionalnya.
Capaian itu semakin menegaskan betapa konsistennya Lionel Messi selama lebih dari dua dekade, dari debut remajanya bersama Barcelona hingga kini memimpin lini depan Inter Miami.
Pertanyaan pun bergeser lebih jauh. Setelah 900 gol tercapai, mungkinkah Lionel Messi menembus angka 1.000 dan bahkan melampaui rival abadinya, Cristiano Ronaldo?
Menuju Gol ke-900 di Awal 2026
Lionel Messi menutup tahun 2025 dengan koleksi 896 gol senior, setelah membantu Inter Miami menjuarai MLS Cup lewat kemenangan atas Vancouver Whitecaps pada 5 Desember.
Musim MLS 2026 baru akan dimulai pada 21 Februari, sementara tim nasional Argentina baru kembali bertanding saat menghadapi Spain di ajang Finalissima di Doha pada 27 Maret.
Artinya, publik harus sedikit bersabar sebelum Lionel Messi berkesempatan mencetak empat gol penentu menuju angka 900.
Meski begitu, dengan usia 38 tahun dan statusnya sebagai pusat permainan Inter Miami, pencapaian tersebut diperkirakan hanya tinggal menunggu waktu begitu kompetisi resmi kembali bergulir.
Perbandingan Langsung dengan Cristiano Ronaldo
Saat ini, hanya satu pemain aktif yang telah menembus lebih dari 900 gol profesional, yakni Cristiano Ronaldo yang mencapai tonggak itu pada September 2024.
Jarak Messi dengan Ronaldo masih signifikan, tetapi konteksnya menarik. Pemain aktif dengan jumlah gol terbanyak berikutnya hanyalah Robert Lewandowski dengan 685 gol, mempertegas dominasi dua ikon sepak bola modern tersebut.
Dengan Ronaldo kini mendekati usia 40 dan Lionel Messi lebih muda hampir dua setengah tahun, peluang persaingan keduanya tidak hanya soal siapa mencapai 1.000 lebih dulu, tetapi juga siapa yang menutup karier dengan total gol lebih tinggi.
Ketajaman Messi di MLS menjadi kunci utama pengejarannya terhadap catatan 1.000 gol sepanjang karier
Fondasi Rekor: Dominasi di Barcelona dan Argentina
Sebagian besar gol Lionel Messi lahir bersama Barcelona. Selama 17 musim, ia mencetak 672 gol dalam 778 laga, atau sekitar 75 persen dari total kariernya.
Setelah itu, Lionel Messi menambah 32 gol bersama Paris Saint-Germain dan 77 gol bersama Inter Miami. Di level internasional, ia telah mengoleksi 115 gol dari 196 pertandingan bersama Argentina.
Dua gol Lionel Messi di final Piala Dunia 2022 melawan Prancis menjadi salah satu momen paling ikonik, menegaskan bahwa kontribusinya di panggung terbesar tidak pernah memudar.
Konsistensi Musiman yang Sulit Ditandingi
Messi menjalani debut profesionalnya pada 2004/2005 di bawah asuhan Frank Rijkaard. Gol pertamanya tercipta pada Mei 2005, hasil umpan Ronaldinho saat menghadapi Albacete.
Sejak mencetak 10 gol pada musim 2005/2006, Lionel Messi tidak pernah lagi keluar dari jalur dua digit gol dalam 20 musim berikutnya. Puncaknya terjadi pada 2011/2012 dengan 82 gol dalam satu musim.
Musim itu pula ia melampaui rekor gol Barcelona milik Cesar Rodriguez lewat hat-trick ke gawang Granada. Rekor demi rekor berlanjut saat ia melampaui catatan LaLiga milik Telmo Zarra setelah mencetak hat-trick ke gawang Sevilla pada 2014.
Bisakah Messi Menyentuh Angka 1.000 Gol?
Messi masih memiliki lebih dari 100 gol untuk mencapai angka 1.000. Namun, peluang itu terbuka lebar setelah ia menandatangani perpanjangan kontrak dengan Inter Miami hingga akhir musim MLS 2028.
Sejak pindah ke MLS pada Juli 2023, Messi mencatat rata-rata 36 gol per musim untuk klub dan negara. Meski masa depannya bersama Argentina belum pasti, terutama terkait Piala Dunia 2026, produktivitasnya di level klub tetap tinggi.
Jika rata-rata tersebut bertahan, Messi berpeluang mencetak gol ke-1.000 pada penghujung musim 2028. Sebuah perhitungan sederhana, tetapi cukup untuk menempatkan namanya sejajar, atau bahkan melampaui, Ronaldo dalam sejarah pencetak gol terbanyak sepak bola dunia.
Faktor Pendukung di MLS: Lingkungan yang Ramah bagi Messi
Kepindahan Messi ke Major League Soccer menjadi faktor krusial dalam peluangnya menambah pundi-pundi gol di fase akhir karier. Berbeda dengan intensitas fisik dan tekanan taktis di Eropa, MLS menawarkan ritme permainan yang relatif lebih terbuka. Banyak tim bermain dengan garis pertahanan tinggi dan transisi cepat, kondisi yang sangat cocok dengan visi, akurasi tembakan, serta kemampuan membaca ruang yang dimiliki Messi.
Inter Miami sendiri dibangun mengelilingi Messi. Kehadiran rekan-rekan lamanya seperti Sergio Busquets dan Jordi Alba membuat alur permainan tim lebih terstruktur, memungkinkan Messi beroperasi sebagai playmaker sekaligus finisher tanpa harus menguras energi secara berlebihan. Dengan jadwal MLS yang lebih bersahabat dan manajemen menit bermain yang cermat, Messi dapat menjaga kebugarannya sepanjang musim.
Selain itu, MLS tidak memiliki kepadatan kompetisi setinggi liga-liga top Eropa. Minimnya pertandingan tengah pekan dan absennya turnamen domestik berlapis memberi Messi waktu pemulihan yang ideal, sesuatu yang sangat penting bagi pemain di usia mendekati 40 tahun.
Evolusi Peran: Dari Penyerang Sayap ke Otak Permainan
Dengan 115 gol internasional, Messi menatap ajang Finalissima 2026 sebagai panggung tambahan menambah pundi-pundi golnya
Salah satu alasan utama Messi tetap produktif adalah kemampuannya beradaptasi. Jika di usia muda ia dikenal sebagai penyerang sayap eksplosif, kini Messi lebih sering bermain sebagai false nine atau playmaker bebas. Posisi ini memungkinkan dirinya memilih momen terbaik untuk menusuk ke kotak penalti, sekaligus menjadi pengatur tempo serangan.
Transformasi ini membuat Messi tidak lagi bergantung pada kecepatan sprint, melainkan pada kecerdasan posisi, sentuhan pertama, dan penyelesaian akhir yang tetap mematikan. Banyak golnya bersama Inter Miami tercipta dari luar kotak penalti atau situasi bola mati—dua aspek yang relatif tidak tergerus usia.
Dalam konteks ini, mengejar 1.000 gol bukanlah sekadar soal jumlah pertandingan, melainkan efisiensi. Messi mungkin tidak lagi mencetak hat-trick secara rutin, tetapi konsistensi satu gol setiap dua pertandingan sudah cukup untuk menjaga lajunya menuju tonggak bersejarah.
Tim Nasional Argentina: Bonus atau Penentu?
Peran Messi di timnas Argentina masih menjadi tanda tanya. Setelah menuntaskan segalanya dengan menjuarai Piala Dunia 2022 dan Copa America 2024, keputusan untuk tampil di Piala Dunia 2026 sepenuhnya berada di tangannya.
Jika Messi memilih tetap bermain bersama Argentina setidaknya hingga 2026, maka peluang mencapai 1.000 gol akan semakin besar. Laga kualifikasi, Finalissima, dan turnamen internasional memberi tambahan kesempatan mencetak gol, terutama menghadapi tim-tim dengan level di bawah Argentina.
Namun bahkan tanpa kontribusi besar di level internasional, jalur menuju 1.000 gol tetap realistis lewat performanya di MLS.
Warisan yang Melampaui Angka
Terlepas dari apakah Messi benar-benar mencapai 1.000 gol atau tidak, pencapaiannya tetap luar biasa. Ia bukan hanya pencetak gol, tetapi juga kreator utama, pemimpin, dan simbol dominasi sebuah era sepak bola.
Perbandingan dengan Cristiano Ronaldo akan selalu menjadi bagian dari narasi. Namun jika Ronaldo merepresentasikan kekuatan fisik, ambisi, dan ketajaman insting predator, Messi adalah perwujudan keindahan, efisiensi, dan kecerdasan bermain.
Jika suatu hari Messi menutup kariernya dengan angka gol lebih tinggi dari Ronaldo, itu akan menjadi penutup sempurna bagi rivalitas terbesar dalam sejarah sepak bola. Namun jika tidak pun, perjalanan Messi menuju 900, dan mungkin 1.000 gol, sudah cukup untuk memastikan satu hal: dunia sepak bola kemungkinan besar tidak akan pernah melihat pemain seperti Lionel Messi lagi.