👑 Kebangkitan Sang Jenderal: Enam Bulan Pertama Xabi Alonso di Real Madrid (Juni – November 2025)
Madrid – Kedatangan Xabi Alonso ke Santiago Bernabéu sebagai pelatih kepala Real Madrid pada 1 Juni 2025, menggantikan Carlo Ancelotti, langsung memicu gelombang optimisme. Setelah sukses fenomenal memutus dominasi Bayern Munchen di Jerman dengan membawa Bayer Leverkusen meraih gelar Bundesliga, DFB-Pokal, dan Piala Super Jerman, harapan besar disematkan pada pria Spanyol ini untuk memulai era baru di klub yang sangat dikenalnya.
🤝 Kembali ke Rumah: Transisi dan Filosofi
Alonso, yang pernah menjadi legenda Los Blancos sebagai pemain antara 2009 hingga 2014 dan memenangkan La Decima, bukanlah sosok asing. Ia memulai karir kepelatihannya di akademi Real Madrid U-12. Kedekatan emosional dan pemahamannya terhadap DNA klub menjadi modal utamanya.
Fokus Awal: Piala Dunia Antarklub 2025
Tantangan pertama yang dihadapi Alonso datang lebih cepat dari biasanya, yaitu di Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 yang digelar di Amerika Serikat pada 15 Juni hingga 13 Juli. Ajang ini menjadi medan ujian pertama Alonso untuk mengimplementasikan filosofi permainannya yang didominasi oleh penguasaan bola, penekanan tinggi, dan formasi fleksibel, seringkali mengandalkan skema 3-4-2-1 yang khas ia terapkan di Leverkusen.
💥 Musim 2025/2026: Awal yang Penuh Tekanan
Memasuki kompetisi domestik dan Eropa, Alonso harus menyeimbangkan ambisi klub dengan kebutuhan untuk meregenerasi skuad. Kehadiran pemain baru seperti bek Dean Huijsen dan kemungkinan transfer besar lainnya, seperti Trent Alexander-Arnold (yang dikabarkan pindah pada 1 Juni), menandai upaya Alonso untuk membentuk tim sesuai visi taktisnya.
Tantangan Taktis dan Ruang Ganti
Di paruh pertama musim 2025/2026 (hingga November), media menyoroti tantangan Alonso dalam menyeimbangkan taktik dan mengelola ruang ganti, sebuah tugas yang selalu berat di Real Madrid.
-
Isu Serangan: Munculnya kritik terhadap efektivitas serangan tim, terutama setelah beberapa pertandingan di Liga Champions dan liga, menjadi perhatian. Bintang seperti Kylian Mbappé yang gagal mencatatkan tembakan tepat sasaran dalam laga besar, menunjukkan bahwa Alonso masih mencari racikan terbaik untuk memaksimalkan potensi lini serang yang bertabur bintang.
-
Dua Blok di Ruang Ganti: Sejumlah laporan mengindikasikan adanya ketegangan, termasuk dugaan keretakan hubungan antara Alonso dan salah satu pemain kunci seperti Vinicius Junior, yang memicu spekulasi tentang adanya “dua blok” dukungan di internal tim.
-
Posisi di La Liga: Hingga pertengahan November 2025, Real Madrid menunjukkan performa solid namun belum sepenuhnya dominan, berada di posisi atas klasemen (misalnya, di posisi ke-2 dengan 31 poin, di bawah pemimpin klasemen), menandakan bahwa persaingan di La Liga ketat sejak awal.
🎤 Respon Alonso terhadap Kritik
Menanggapi tekanan dan kritik yang meningkat, terutama dari pers Madrid, Alonso menunjukkan ketenangan khasnya. Dalam konferensi pers pada 22 November 2025, ia menegaskan bahwa tuntutan tinggi di Real Madrid adalah hal yang wajar.
“Kami tahu di mana kami berada. Tuntutan ini, kami menghadapinya secara normal, kami menerimanya. Kami tidak memberinya bobot lebih. Anda harus kuat secara mental dan memiliki keseimbangan, agar tidak menjadi roller coaster emosional setelah setiap pertandingan.”
➡️ Proyek Jangka Panjang
Meskipun menghadapi awal yang bergejolak, penunjukan Xabi Alonso hingga 30 Juni 2028 menunjukkan komitmen Real Madrid terhadap proyek jangka panjang. Pria berusia 43 tahun ini membawa janji sepak bola yang cerdas dan modern, bertujuan menjembatani transisi generasi dan mengembalikan kejayaan Eropa.
Enam bulan pertama Alonso adalah periode adaptasi yang intens—antara mengelola ekspektasi yang selangit, tekanan media yang tak terhindarkan, dan tugas krusial untuk mengintegrasikan pemain bintang dalam sistem barunya. Musim masih panjang, dan publik Madridista akan terus mengamati bagaimana Jenderal lapangan tengah mereka ini akan mengemudikan Los Blancos melewati badai kompetisi.
⚔️ Pertandingan Penting Real Madrid di Bawah Xabi Alonso (2025/2026)
Periode awal kepelatihan Alonso di Real Madrid ditandai dengan kemenangan meyakinkan melawan tim-tim menengah, tetapi juga menunjukkan kerentanan yang signifikan ketika menghadapi lawan-lawan elite yang menggunakan taktik agresif.
1. Debut Kompetitif: Piala Dunia Antarklub FIFA 2025
-
Lawan: Al Hilal (Pertandingan Pembuka Grup H)
-
Tanggal: 19 Juni 2025
-
Hasil: Imbang 1-1 (Debut Minor)
-
Komentar: Pertandingan ini adalah debut resmi Alonso. Real Madrid sempat unggul 1-0 melalui gol pemain muda Gonzalo Garcia, namun keunggulan tersebut sirna setelah Al Hilal menyamakan kedudukan lewat penalti. Alonso mencatat bahwa timnya “kekurangan banyak hal” di babak pertama dan butuh waktu untuk mengimplementasikan filosofi barunya, terutama setelah Raúl Asencio mendapat kartu merah.
-
-
Lawan: Juventus (Babak 16 Besar)
-
Hasil: Menang 1-0
-
Komentar: Kemenangan ini krusial untuk lolos ke Perempat Final, menunjukkan kemampuan Alonso untuk meraih hasil penting, meskipun masih mengandalkan gol tunggal dari pemain muda Gonzalo Garcia.
-
2. Debut di La Liga & Awal yang Solid
-
Lawan: Osasuna (Jornada 1 La Liga)
-
Tanggal: 17 Agustus 2025 (WIB: 20 Agustus)
-
Hasil: Menang (Skor Tidak Disebutkan, namun diklaim mengukir catatan manis)
-
Komentar: Kemenangan di laga kandang ini menjadi awal yang positif bagi Alonso di kompetisi domestik, memberinya start manis di hadapan publik Santiago Bernabéu.
-
3. Kekalahan Telak Pertama: Semifinal Piala Dunia Antarklub
-
Lawan: Paris Saint-Germain (PSG)
-
Hasil: Kalah 0-4
-
Komentar: Kekalahan telak ini menjadi alarm pertama. Ini menunjukkan kerentanan pertahanan Real Madrid terhadap serangan balik cepat dan tekanan tinggi dari tim-tim papan atas Eropa. Alonso mengakui bahwa kekalahan ini adalah “cerminan dari banyak aspek yang perlu diperbaiki.”
-
4. Ujian Berat di Derby Madrid
-
Lawan: Atlético Madrid (Derbi Madrid, Jornada 7 La Liga)
-
Tanggal: 28 September 2025
-
Hasil: Kalah 2-5
-
Komentar: Ini adalah kekalahan paling menyakitkan di awal musim. Alonso menjadi pelatih Real Madrid pertama yang kebobolan lima gol dalam laga derby debutnya di La Liga. Kekalahan ini menimbulkan sorotan tajam tentang kesiapan taktik Alonso, terutama dalam pertandingan yang membutuhkan kekuatan mental dan fisik ekstra.
-
5. El Clásico Pertama Era Alonso vs. Flick
-
Lawan: Barcelona (Jornada 10 La Liga)
-
Tanggal: 26 Oktober 2025
-
Hasil: Menang 2-1
-
Komentar: Kemenangan krusial ini menjadi momen kebangkitan dan bukti nyata kehebatan taktis Alonso. El Clásico ini adalah pertarungan pelatih baru: Xabi Alonso (Real Madrid) vs Hansi Flick (Barcelona).
-
Analisis Taktik: Alonso menerapkan rencana yang sempurna, menggunakan Aurélien Tchouaméni sebagai bek tengah tambahan (sehingga menjadi formasi 4-1-4-1 atau 3-4-2-1) untuk menetralisir serangan Barcelona. Gol dari Kylian Mbappé dan kerja keras dari Vinicius Junior mengamankan kemenangan 2-1, yang mengangkat moral tim setelah kekalahan derby. Kemenangan ini juga mengukuhkan Real Madrid sebagai penantang serius gelar La Liga.
-
Secara keseluruhan, paruh pertama musim 2025/2026 Real Madrid di bawah Alonso adalah periode yang sarat pembelajaran:
| Fase Kompetisi | Hasil Kunci | Implikasi |
| Piala Dunia Antarklub | Kalah 0-4 dari PSG | Menyoroti kelemahan saat melawan tim elite dengan serangan cepat. |
| La Liga – Derby Madrid | Kalah 2-5 dari Atlético Madrid | Menimbulkan keraguan besar terhadap pertahanan dan taktik gegenpressing Alonso yang rentan. |
| La Liga – El Clásico | Menang 2-1 dari Barcelona | Bukti kemampuan Alonso untuk merancang taktik yang unggul dan memenangkan pertarungan mental di laga terbesar. |
1. 🎯 Polemik Eksekutor Penalti: Mbappé vs. Vinicius
Isu eksekutor penalti menjadi sorotan utama di awal musim, terutama setelah kegagalan Vinicius Junior.
-
Keputusan Alonso: Sejak awal musim, Xabi Alonso membuat keputusan tegas untuk mengakhiri kerancuan yang ada di era Carlo Ancelotti dengan menunjuk Kylian Mbappé sebagai eksekutor penalti utama (primer). Keputusan ini didasarkan pada analisis statistik dan dianggap sebagai upaya Alonso untuk memperkuat posisi Mbappé sebagai pemimpin di lini serang tim.
-
Insiden Kontra Valencia: Polemik ini mencapai puncaknya pada 2 November 2025, saat Real Madrid mengalahkan Valencia 4-0. Setelah Mbappé sukses mengonversi penalti pertama, Madrid mendapat penalti kedua. Vinicius Junior, yang saat itu mengejar gol untuk mengamankan brace-nya, memutuskan mengambil penalti tersebut, meskipun Mbappé adalah eksekutor utama.
-
Gagal dan Reaksi: Tendangan Vinicius gagal ditepis kiper Valencia, Julen Agirrezabala. Alonso menunjukkan reaksi marah di pinggir lapangan.
-
Klarifikasi Alonso: Setelah pertandingan, Alonso menegaskan: “Mbappé memang bukan satu-satunya pengambil penalti. Kami sudah menetapkan pengambil penalti, dan Kylian adalah pilihan pertama. … Saya tadi marah karena penaltinya gagal, itu kan sesaat sebelum turun minum dan kami bisa saja unggul 3-0.” Alonso menyiratkan bahwa Vinicius tidak mengikuti hierarki yang telah ditetapkan.
2. ⚡ Hubungan Xabi Alonso dan Vinicius Junior yang Memanas
Polemik penalti hanyalah salah satu indikasi dari keretakan hubungan yang lebih dalam antara pelatih dan bintang Brasil tersebut. Ketegangan ini dilaporkan sudah muncul sejak Piala Dunia Antarklub dan memuncak pasca El Clásico (26 Oktober 2025).
Pemicu Utama: Pergantian di El Clásico
-
Insiden: Pada pertandingan El Clásico yang dimenangkan Madrid 2-1, Alonso memutuskan untuk mengganti Vinicius Junior pada menit ke-72 saat kedudukan masih 2-1.
-
Reaksi Vinicius: Vinicius bereaksi dengan marah dan frustrasi, menunjukkan ekspresi ketidakpercayaan kepada Alonso sebelum langsung menuju lorong ruang ganti tanpa berinteraksi dengan pelatih maupun bangku cadangan.
-
Dampak: Peristiwa ini digambarkan media Spanyol sebagai “titik didih” atau “bom waktu” yang telah bergejolak selama berbulan-bulan. Laporan menyebutkan Vinicius merasa tidak disukai oleh Alonso dan merasa kurang dihargai, padahal ia telah berusaha keras beradaptasi dengan tuntutan taktis sang pelatih (seperti lebih banyak bertahan).
Isu Kontrak dan Masa Depan
-
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Alonso telah mengganti Vinicius dalam 13 dari 17 pertandingan sejak ia datang.
-
Karena keretakan ini, pembicaraan mengenai perpanjangan kontrak Vinicius, yang berakhir pada Juni 2027, dikabarkan telah terhenti. Spekulasi pun muncul bahwa Vinicius siap “angkat kaki” dari Real Madrid pada 2026 jika Alonso tetap menjadi pelatih.
-
Manajemen klub dilaporkan sepenuhnya mendukung Xabi Alonso dalam segala keputusan taktisnya, termasuk pergantian pemain dan penetapan eksekutor penalti.
3. 🚨 Kritik Umum Terhadap Metode Alonso
Terlepas dari hubungan yang tegang dengan Vinicius, secara umum, ada laporan mengenai ketidaknyamanan sebagian pemain di ruang ganti Real Madrid terhadap metode kepelatihan Alonso:
-
Disiplin Tinggi: Alonso menerapkan metode latihan yang sangat disiplin, detail, dan menuntut performa fisik dan mental yang lebih tinggi, yang dianggap sebagai “gegar budaya” setelah era Ancelotti yang lebih santai.
-
Kurangnya Keamanan Posisi: Pemain senior merasa posisi mereka tidak aman, karena Alonso tidak ragu mencadangkan siapa pun dan kerap mengubah susunan pemainnya berdasarkan kebutuhan taktis.
-
Pemain Tidak Bahagia: Beredar kabar bahwa beberapa pemain kunci, termasuk Jude Bellingham, Eduardo Camavinga, dan Federico Valverde, juga merasa tidak puas karena harus bermain di posisi yang bukan peran alami mereka demi menyesuaikan sistem Alonso, atau merasa performa mereka kurang optimal di bawah taktik baru tersebut.
Singkatnya, awal era Xabi Alonso di Real Madrid adalah transisi yang sukses dalam hal hasil (posisi atas di La Liga) tetapi bermasalah secara internal. Alonso harus menyeimbangkan antara menegakkan disiplin taktisnya dengan mengelola ego dan ekspektasi para pemain bintangnya.
👶 Integrasi Pemain Muda dan ‘Cantera’ (Akademi)
Salah satu janji utama Alonso saat kedatangannya adalah memberi kesempatan lebih besar kepada bakat-bakat dari akademi (Cantera) Real Madrid.
1. Bintang Baru dari Akademi: Gonzalo Garcia
-
Peran Kunci: Pemain muda yang paling bersinar di bawah Alonso adalah Gonzalo Garcia. Ia tidak hanya menjadi opsi rotasi, tetapi juga pencetak gol krusial di Piala Dunia Antarklub (seperti yang disebutkan sebelumnya).
-
Dampak: Kepercayaan Xabi Alonso pada Garcia dan pemain muda lainnya mengirimkan pesan kuat kepada skuad bahwa performa di sesi latihan lebih penting daripada reputasi atau pengalaman. Alonso terkenal dengan pendekatannya yang adil, memberikan merit-based kepada pemain muda yang mau mengikuti sistemnya.
2. Integrasi Arda Güler
-
Peningkatan Peran: Di bawah Xabi Alonso, peran Arda Güler ditingkatkan. Ia dipertimbangkan sebagai bagian penting dari rotasi lini tengah dan serangan.
-
Keunggulan Taktis: Güler dinilai ideal untuk gaya possession-based Alonso karena kemampuan teknisnya yang tinggi dan visinya dalam memecahkan garis pertahanan lawan, meskipun ia masih bekerja keras untuk memenuhi tuntutan fisik Xabi Alonso.
3. Pemanfaatan Pemain Serbaguna
-
Alonso sering memanfaatkan serbagunaan (versatility) pemainnya, yang dipelajarinya dari mantan pelatihnya, Jose Mourinho dan Pep Guardiola.
-
Aurélien Tchouaméni: Lebih sering ditempatkan sebagai center-back (CB) ketiga dalam formasi tiga bek atau sebagai pivot yang lebih dalam dan disiplin, menunjukkan bahwa Alonso ingin Tchouaméni lebih fokus pada aspek defensif. Xabi Alonso
-
Jude Bellingham: Posisinya disesuaikan, kadang menjadi gelandang serang (CAM) yang lebih maju di belakang striker, dan terkadang lebih didorong ke sayap, memaksa Bellingham beradaptasi dengan peran yang lebih taktis dan kurang bebas. Xabi Alonso
-
2. 💰 Strategi Transfer dan Pembentukan Skuad
Pada bursa transfer musim panas 2025, Alonso, bersama manajemen klub, melakukan penyesuaian untuk membentuk skuad yang lebih fleksibel dan taktis. Xabi Alonso
1. Fokus pada Pertahanan dan Transisi
-
Alonso dilaporkan meminta setidaknya dua rekrutan besar, fokus pada pemain yang mahir dalam transisi pertahanan ke serangan cepat, sebuah ciri khas dari tim Leverkusen-nya. Xabi Alonso
-
Transfer Masuk Penting:
-
Dean Huijsen: Bek tengah muda dari Juventus yang didatangkan untuk memperkuat kedalaman lini belakang. Xabi Alonso
-
Pemain Sayap Bertahan: Alonso mencari bek sayap yang memiliki disiplin pertahanan tinggi, berbeda dengan gaya ofensif Dani Carvajal atau Ferland Mendy.
-
2. Manajemen Pemain Veteran
-
Kedatangan Alonso mempercepat keputusan mengenai masa depan beberapa pemain veteran. Beberapa pemain seperti Luka Modric dikabarkan mendapatkan peran yang jauh lebih terbatas, atau bahkan dilepas. Hal ini menunjukkan bahwa Alonso memprioritaskan energi dan kesegaran pemain yang bisa berlari mengikuti tuntutan gegenpressing-nya. Xabi Alonso
3. Filosofi Keuangan:
-
Strategi transfer Alonso berupaya menyeimbangkan kedatangan pemain mahal (seperti Mbappé yang direkrut sebelum Alonso datang, tetapi merupakan asetnya) dengan pemain muda berprospek cerah, menjaga stabilitas keuangan Real Madrid, dan membangun tim untuk jangka waktu lima hingga tujuh tahun ke depan.
Secara keseluruhan, periode awal Alonso tidak hanya tentang hasil pertandingan, tetapi juga tentang pembangunan fondasi taktis dan budaya baru di klub.
Apakah Anda ingin saya mencari detail tentang hasil pertandingan Real Madrid di Liga Champions di bawah Alonso hingga November 2025?
Tentu, pertanyaan tentang hasil Real Madrid di Liga Champions di bawah Xabi Alonso sangat relevan. Namun, berdasarkan tanggal hari ini (24 November 2025) dan data yang tersedia, tim Real Madrid baru saja mengalami beberapa hasil yang mengecewakan di La Liga dan kompetisi domestik menjelang jeda musim dingin.
Berikut adalah gambaran hasil dan sorotan utama Real Madrid di kompetisi Eropa (Liga Champions) dan kompetisi domestik lainnya, yang mencerminkan kesulitan taktis di bawah Alonso:
🇪🇺 Liga Champions UEFA (UCL) 2025/2026: Ujian Kontras
Meskipun detail spesifik pertandingan grup di UCL tidak tersedia, hasil-hasil domestik memberikan petunjuk tentang performa Madrid di Eropa:
-
Tren Negatif Terbaru: Laporan menunjukkan bahwa sebelum jeda internasional November, Real Madrid mengalami kekalahan 0-1 dari Liverpool (kemungkinan besar di ajang Liga Champions) dan imbang 0-0 dengan Rayo Vallecano di La Liga. Kekalahan dari Liverpool ini menjadi indikator bahwa sistem Alonso masih rentan terhadap tim-tim Eropa elite yang menggunakan serangan balik dan intensitas fisik. Xabi Alonso
-
Ketidakmampuan Mengonversi Peluang: Masalah utama yang terlihat jelas di media adalah ketidakmampuan tim untuk mengonversi peluang. Dalam hasil imbang 2-2 melawan Elche (24 November 2025), misalnya, Madrid mencatatkan 19 percobaan tembakan, namun hanya mampu mencetak dua gol. Masalah konversi ini diperkirakan juga menghantui performa mereka di UCL. Xabi Alonso
-
Ketergantungan pada Individual: Ketika taktik tim tidak berjalan sempurna, Real Madrid sangat bergantung pada kehebatan individu. Jude Bellingham dan Kylian Mbappé adalah penyelamat di beberapa pertandingan, di mana Bellingham mencetak gol dan assist krusial dalam hasil imbang melawan Elche. Xabi Alonso
🇪🇸 Sorotan dari La Liga (Periode Akhir November 2025)
Pekan-pekan terakhir di bulan November menunjukkan tren yang mengkhawatirkan:
-
Tiga Laga Tanpa Kemenangan: Hingga 24 November 2025, Real Madrid tercatat tanpa kemenangan dalam tiga laga beruntun (Kalah 0-1 dari Liverpool, Imbang 0-0 vs Rayo Vallecano, Imbang 2-2 vs Elche).
-
Tekanan pada Trent Alexander-Arnold: Salah satu rekrutan besar di musim panas, Trent Alexander-Arnold, dilaporkan mengalami kesulitan besar di musim pertamanya di bawah Alonso. Trent, yang dikenal sangat ofensif, harus beradaptasi dengan peran bek sayap yang lebih disiplin dan taktis yang dituntut oleh Alonso, sehingga ia belum mampu memberikan dampak yang diharapkan.
-
Peran Dean Huijsen: Bek muda Dean Huijsen, yang menjadi rekrutan pertahanan utama Alonso, justru menjadi salah satu pencetak gol (bersama Bellingham) dalam hasil imbang 2-2 melawan Elche. Hal ini ironis, karena bek harus mencetak gol untuk menyelamatkan tim dari kekalahan, yang menunjukkan bahwa lini serang sedang bermasalah. Xabi Alonso
Kesimpulan Aspek Taktis:
-
Formasi dan Fleksibilitas: Alonso mencoba menerapkan sistem yang fluida (cair), sering beralih antara 4-3-3 dan 3-4-2-1. Namun, hal ini menyebabkan beberapa pemain kunci (seperti Vinicius Jr. dan Bellingham) merasa tidak nyaman di posisi baru mereka, yang mengurangi efektivitas serangan. Xabi Alonso
-
Ketergantungan pada Mbappé: Meskipun Alonso secara terbuka menyatakan tim harus mencari alternatif gol lain, kegagalan Mbappé mengonversi peluang emas dalam beberapa laga krusial (seperti melawan Elche) menunjukkan bahwa tim masih terlalu bergantung pada performa individu sang bintang Prancis tersebut. Xabi Alonso
Secara keseluruhan, periode awal Xabi Alonso adalah fase transisi yang berat yang ditandai dengan kemenangan taktis yang brilian (El Clásico) tetapi juga kegagalan adaptasi yang signifikan (Derby Madrid dan tren negatif November). Xabi Alonso


