Tunisia Pecat Sabri Lamouchi Hanya Setelah Satu Laga Piala Dunia 2026?
Piala Dunia 2026 baru saja dimulai, tetapi kejutan besar sudah datang dari kubu Tunisia. Tim asal Afrika Utara itu dikabarkan mengambil keputusan drastis dengan mengakhiri kerja sama bersama pelatih Sabri Lamouchi setelah kekalahan telak pada laga pembuka turnamen. Situasi ini membuat Tunisia menjadi sorotan dunia sepak bola karena berpotensi menjadi negara pertama yang mengganti pelatih selama berlangsungnya Piala Dunia 2026.
Awal Buruk Tunisia di Piala Dunia 2026

Perjalanan Tunisia di Piala Dunia 2026 dimulai dengan hasil yang jauh dari harapan. Menghadapi Swedia pada laga pertama Grup G, Tunisia justru tampil di bawah performa terbaik dan harus menelan kekalahan menyakitkan dengan skor 1-5.
Sejak menit awal pertandingan, Swedia tampil lebih agresif dan mampu mengendalikan jalannya laga. Tunisia kesulitan mengimbangi tempo permainan lawan yang tampil efektif dalam memanfaatkan setiap peluang yang tercipta.
Kekalahan besar tersebut langsung memicu berbagai spekulasi mengenai masa depan Sabri Lamouchi. Tekanan terhadap pelatih berusia 54 tahun itu meningkat tajam karena hasil buruk tersebut dianggap memperlihatkan berbagai kelemahan yang sudah terlihat sejak sebelum turnamen dimulai.
Menurut sejumlah laporan media internasional, Federasi Sepak Bola Tunisia langsung mengadakan evaluasi darurat setelah pertandingan berakhir. Hasil evaluasi tersebut diyakini menjadi awal dari keputusan untuk mengakhiri masa jabatan Lamouchi.
Kekalahan dari Swedia Jadi Titik Balik

Swedia tampil sangat dominan sepanjang pertandingan dan memperlihatkan kualitas yang sulit dibendung Tunisia. Dua gol dari Yasin Ayari menjadi fondasi kemenangan tim Skandinavia tersebut.
Selain Ayari, dua penyerang papan atas Eropa juga ikut mencatatkan nama di papan skor. Viktor Gyokeres dan Alexander Isak menunjukkan kualitas mereka sebagai ujung tombak berbahaya yang mampu memanfaatkan celah sekecil apa pun di pertahanan lawan.
Tunisia sebenarnya sempat memberikan sedikit perlawanan melalui gol yang dicetak Omar Rekik. Namun gol tersebut tidak cukup untuk mengubah jalannya pertandingan yang sudah dikuasai Swedia.
Hasil akhir 1-5 menjadi pukulan telak bagi Tunisia yang datang ke turnamen dengan harapan bisa memberikan kejutan. Sebaliknya, kekalahan tersebut justru memperbesar keraguan terhadap arah permainan tim di bawah kepemimpinan Lamouchi.
Hubungan dengan Federasi Disebut Tidak Harmonis

Menariknya, tanda-tanda perpisahan antara Lamouchi dan federasi sebenarnya sudah mulai terlihat bahkan sebelum pertandingan pembuka Piala Dunia berlangsung.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa hubungan antara pelatih dan petinggi federasi tidak berada dalam kondisi ideal. Setelah kekalahan dari Swedia, Lamouchi bahkan dikabarkan mengakui adanya persoalan internal yang memengaruhi situasi tim.
Kondisi tersebut membuat posisi sang pelatih semakin sulit dipertahankan. Apalagi publik Tunisia menginginkan respons cepat dari federasi untuk menyelamatkan peluang lolos dari fase grup.
Jika pemecatan ini benar-benar dikonfirmasi secara resmi, maka masa jabatan Lamouchi akan berakhir hanya beberapa bulan setelah dirinya ditunjuk sebagai pelatih kepala tim nasional Tunisia.
Wahbi Khazri Siap Ambil Alih Sementara
Di tengah situasi yang tidak menentu, nama Wahbi Khazri muncul sebagai solusi sementara. Mantan pemain Sunderland tersebut dikabarkan akan memimpin Tunisia untuk dua pertandingan tersisa di fase grup.
Tugas yang menanti Khazri tentu tidak mudah. Tunisia masih harus menghadapi Jepang dan Belanda, dua lawan yang memiliki kualitas tinggi dan berpotensi memberikan tantangan berat.
Meski berstatus pelatih sementara, Khazri diharapkan mampu membangkitkan semangat para pemain yang terpukul akibat hasil buruk pada pertandingan pertama.
Sementara itu, federasi disebut mulai mempertimbangkan sejumlah kandidat untuk mengisi posisi pelatih secara permanen setelah turnamen berakhir. Nama Mondher Kebaier menjadi salah satu sosok yang paling sering disebut sebagai kandidat terkuat.
Pemain Tunisia Minta Maaf kepada Suporter
Usai pertandingan melawan Swedia, para pemain Tunisia tidak menutupi rasa kecewa mereka. Bek Mohamed Amine Ben Hamida secara terbuka meminta maaf kepada para pendukung yang telah memberikan dukungan penuh.
Menurutnya, Tunisia melakukan terlalu banyak kesalahan yang akhirnya dimanfaatkan secara maksimal oleh lawan. Ia menilai tim harus segera melakukan evaluasi agar tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama pada pertandingan berikutnya.
Ben Hamida juga menegaskan bahwa seluruh pemain masih memiliki semangat untuk bangkit. Ia percaya Tunisia masih memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan apabila mampu tampil lebih disiplin dan fokus pada dua laga tersisa.
Dengan situasi yang berkembang saat ini, perhatian publik kini tertuju pada langkah resmi Federasi Sepak Bola Tunisia. Jika pemecatan Sabri Lamouchi benar-benar diumumkan, maka kisah tersebut akan menjadi salah satu drama terbesar yang terjadi pada awal gelaran Piala Dunia 2026

