DuniaBola – Martin Odegaard kembali menunjukkan mengapa dirinya merupakan salah satu pemain terpenting di skuad Arsenal. Setelah melewati musim 2025/26 yang cukup sulit akibat masalah kebugaran, sang kapten kini tampil jauh lebih agresif dan produktif pada awal musim 2026/27.
Perubahan tersebut bukan sekadar soal keberuntungan. Mikel Arteta tampaknya memberikan kebebasan lebih besar kepada Martin Odegaard untuk bermain di area yang lebih dekat dengan kotak penalti lawan. Hasilnya langsung terlihat dari kontribusi gol dan peningkatan intensitas pergerakannya.
Terbaru, Martin Odegaard menjadi pahlawan Arsenal saat menghadapi Napoli pada laga pembuka Liga Champions 2026/27. Gelandang asal Norwegia itu mencetak satu-satunya gol dalam kemenangan 1-0 The Gunners di Naples.
Gol tersebut sekaligus menjadi gol keempat Ødegaard dalam lima penampilannya bersama Arsenal di seluruh kompetisi musim ini. Catatan itu sangat kontras dengan musim lalu, ketika ia hanya mampu mencetak satu gol akibat rangkaian cedera yang mengganggu kiprahnya.
Peran Martin Odegaard Mulai Berubah

Salah satu faktor utama di balik kebangkitan Martin Odegaard adalah perubahan posisinya ketika Arsenal memasuki fase menyerang.
Arteta masih mengandalkan kemampuan Martin Odegaard sebagai gelandang nomor delapan yang membantu sirkulasi bola dan mengatur permainan. Namun, sang kapten kini lebih sering bergerak maju ketika Arsenal menguasai bola.
Ia tidak lagi selalu berada di area tengah untuk menerima bola dan membangun serangan dari belakang. Martin Odegaard semakin sering melakukan penetrasi ke kotak penalti, mencari ruang di antara lini tengah dan pertahanan lawan, serta muncul sebagai opsi penyelesaian akhir.
Menurut analisis Opta, jumlah high-intensity runs Martin Odegaard menuju kotak penalti lawan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan musim lalu. Di Premier League, angkanya naik dari sekitar 1,4 menjadi 3,2 kali per 90 menit ketika Arsenal menguasai bola.
Perubahan sederhana tersebut memberikan dimensi baru dalam permainan Arsenal.
Lebih Dekat dengan Kai Havertz

Perubahan posisi Martin Odegaard juga berkaitan dengan karakteristik pemain yang berada di depannya.
Kai Havertz semakin sering digunakan sebagai penyerang yang memiliki kebebasan untuk turun ke area tengah. Ketika Havertz bergerak meninggalkan posisi nomor sembilan, ruang di belakangnya dapat dimanfaatkan Martin Odegaard untuk melakukan penetrasi.
Pola tersebut sudah terlihat ketika Arsenal menghadapi Chelsea.
Christos Tzolis bergerak dari sisi kiri menuju kotak penalti sebelum mengirim bola ke arah Havertz. Sang striker kemudian melakukan dummy sehingga bola justru jatuh kepada Martin Odegaard yang sudah bergerak masuk ke area berbahaya.
Martin Odegaard tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan melepaskan penyelesaian yang membawa Arsenal unggul. The Gunners akhirnya menang 2-1 atas Chelsea.
Pola serupa kembali menghasilkan gol ketika Arsenal menghadapi Napoli beberapa hari kemudian.
Gol ke Gawang Napoli Jadi Bukti Terbaru

Arsenal sebenarnya tampil dominan dalam pertandingan melawan Napoli. Tim asuhan Arteta menciptakan banyak peluang, tetapi penyelesaian akhir mereka beberapa kali gagal menghasilkan gol.
Ketika pertandingan mulai memasuki fase akhir, Martin Odegaard muncul sebagai pembeda.
Pada menit ke-75, sang kapten melepaskan tembakan rendah dari luar kotak penalti setelah Arsenal membangun serangan dengan kombinasi umpan yang rapi. Bola mengenai tiang sebelum akhirnya masuk ke gawang Napoli.
Gol tersebut memastikan kemenangan 1-0 Arsenal sekaligus memberikan awal sempurna bagi mereka di fase liga Liga Champions musim ini.
Lebih penting lagi, gol itu menunjukkan bahwa Martin Odegaard kini tidak takut mengambil posisi dan kesempatan menembak di area yang lebih maju.
Kebugaran Menjadi Faktor Penting
Arteta juga menilai kebugaran sebagai salah satu alasan utama mengapa Martin Odegaard bisa tampil berbeda musim ini.
Pada musim lalu, Martin Odegaard harus berjuang menghadapi sejumlah masalah cedera. Kondisi tersebut membuat kontribusinya tidak maksimal dan membatasi jumlah pertandingan yang bisa ia jalani.
Ia hanya tampil sebagai starter dalam 16 pertandingan Premier League musim lalu. Arsenal tetap mampu memenangkan gelar liga, tetapi peran Ødegaard tidak sebesar yang diharapkan dari seorang kapten.
Kini situasinya berubah.
Ødegaard terlihat lebih bugar, lebih percaya diri dan lebih berani mengambil risiko dalam serangan. Arteta pun bisa memaksimalkan kemampuan sang kapten tanpa terlalu khawatir kehilangan pemain penting karena masalah kebugaran.
“Pertama-tama dia harus tersedia,” ujar Arteta setelah kemenangan atas Napoli, sambil menyoroti bagaimana Ødegaard kini dapat bermain di berbagai ketinggian dalam fase menyerang.
Statistik Menunjukkan Peningkatan Signifikan
Perubahan Martin Odegaard tidak hanya terlihat melalui jumlah gol.
Statistik juga memperlihatkan bagaimana sang gelandang lebih aktif masuk ke area penalti lawan.
Sentuhannya di dalam kotak penalti meningkat dari sekitar 2,5 kali per 90 menit musim lalu menjadi 4,3 kali per 90 menit pada awal musim ini.
Ia juga semakin sering melakukan pergerakan tanpa bola untuk menjadi target umpan silang. Pergerakan seperti itu membuat pertahanan lawan harus lebih waspada karena Arsenal kini memiliki ancaman tambahan dari lini kedua.
Inilah yang membuat Ødegaard semakin sulit dikawal.
Jika lawan fokus kepada Havertz atau pemain sayap Arsenal, Ødegaard dapat masuk dari lini kedua. Sebaliknya, ketika lawan mencoba menutup ruang untuk Ødegaard, pemain seperti Bukayo Saka dan Tzolis bisa mendapatkan lebih banyak ruang di sisi lapangan.
Arsenal Punya Senjata Tambahan
Kebangkitan Ødegaard membuat Arsenal memiliki lebih banyak variasi dalam menyerang.
Selama beberapa musim terakhir, Arsenal sering mengandalkan kreativitas Ødegaard untuk menciptakan peluang. Namun sekarang sang kapten tidak hanya berperan sebagai kreator.
Ia mulai menjadi penyelesai serangan.
Hal ini sangat penting bagi Arsenal karena Arteta membutuhkan lebih banyak pemain yang mampu mencetak gol secara konsisten.
Ketika striker atau winger mengalami kebuntuan, pemain dari lini tengah harus mampu mengambil alih tanggung jawab tersebut. Ødegaard tampaknya sedang menjawab kebutuhan itu.
Dengan empat gol dalam lima pertandingan pada awal musim 2026/27, produktivitasnya bahkan sudah mendekati pencapaian yang sebelumnya sulit diraih pada musim lalu.
Tantangan Berikutnya Menanti
Meski start Ødegaard sangat mengesankan, tantangan terbesar adalah mempertahankan konsistensi.
Arsenal saat ini harus menghadapi jadwal padat yang mencakup Premier League dan Liga Champions. Setelah kemenangan atas Napoli, The Gunners dijadwalkan menghadapi Sunderland pada 12 September sebelum kembali melanjutkan persaingan domestik.
Dalam situasi tersebut, kebugaran Ødegaard akan menjadi salah satu perhatian utama.
Arteta tentu tidak ingin mengulangi situasi musim lalu ketika sang kapten harus absen dalam banyak pertandingan. Arsenal membutuhkan Ødegaard bukan hanya untuk mencetak gol, tetapi juga sebagai pemimpin di lapangan.
Kapten Arsenal Kembali ke Level Terbaik
Start impresif Ødegaard menunjukkan bahwa Arsenal mungkin mendapatkan kembali versi terbaik dari sang kapten.
Ia masih menjalankan tugas sebagai gelandang pengatur permainan, tetapi sekarang memiliki kebebasan lebih besar untuk masuk ke area penalti. Kombinasi kreativitas, pergerakan tanpa bola dan kemampuan mencetak gol membuat ancaman Arsenal menjadi semakin beragam.
Setelah membantu Arsenal memenangkan Premier League musim lalu, Ødegaard tampaknya belum puas.
Jika mampu menjaga kebugaran dan mempertahankan agresivitasnya, pemain berusia 27 tahun itu berpotensi menjadi salah satu faktor terbesar dalam upaya Arsenal mempertahankan gelar domestik sekaligus mengejar trofi Liga Champions.
Perubahan peran tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Ødegaard tidak lagi hanya menjadi pemain yang menciptakan peluang bagi Arsenal.
Kini, dia juga menjadi pemain yang datang untuk menyelesaikannya.

