Granit Xhaka Pamer Levelnya di Piala Dunia 2026
Granit Xhaka kembali menunjukkan mengapa dirinya masih menjadi salah satu gelandang terbaik di sepak bola internasional. Pada pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Aljazair, kapten Timnas Swiss tampil luar biasa dan menjadi sosok yang mengendalikan jalannya pertandingan dari lini tengah.
Swiss berhasil mengamankan tiket ke babak 16 besar usai menundukkan Aljazair dengan skor meyakinkan 2-0 pada Jumat (3/7/2026). Breel Embolo dan Dan Ndoye memang mencatatkan nama mereka di papan skor, tetapi peran Xhaka di balik kemenangan tersebut tak kalah penting. Pengalaman, visi bermain, dan kepemimpinannya menjadi fondasi yang membuat Swiss tampil dominan sepanjang laga.
Pertandingan tersebut juga menjadi momen bersejarah bagi Xhaka. Gelandang berusia 33 tahun itu mencatatkan penampilan ke-150 bersama Timnas Swiss, sebuah pencapaian yang semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu legenda sepak bola negaranya.
Penampilan ke-150 yang Berakhir Manis

Laga melawan Aljazair menjadi malam spesial bagi Granit Xhaka. Tidak banyak pemain yang mampu mencapai 150 penampilan di level internasional, terlebih masih mampu tampil sebagai pemain terbaik di lapangan.
Sejak menit awal, Xhaka memperlihatkan kualitasnya sebagai pemimpin. Ia tampil tenang ketika menerima tekanan dari lawan dan mampu menjaga keseimbangan permainan Swiss. Setiap kali Aljazair mencoba meningkatkan intensitas serangan, Xhaka selalu menemukan cara untuk memperlambat tempo sekaligus mengembalikan kontrol permainan kepada timnya.
Pengalaman panjang yang dimiliki mantan gelandang Arsenal tersebut terlihat begitu berharga. Ia mampu membaca situasi pertandingan dengan sangat baik dan selalu mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai momen penting.
Xhaka Jadi Pengatur Ritme Permainan Swiss
Meski tidak mencetak gol ataupun assist, kontribusi Granit Xhaka sangat terasa sepanjang pertandingan. Ia menjadi pemain dengan jumlah sentuhan bola terbanyak di lapangan, yakni mencapai 85 kali selama 90 menit.
Tidak hanya itu, Xhaka juga menjadi pemain yang paling aktif mendistribusikan bola. Ia mencatatkan 70 operan dengan tingkat akurasi mencapai 87 persen. Statistik tersebut menunjukkan betapa besarnya pengaruh sang kapten dalam membangun serangan Swiss sejak lini belakang.
Kemampuannya mengatur ritme membuat Swiss mampu bermain lebih sabar ketika menguasai bola. Sebaliknya, saat melihat peluang melakukan serangan cepat, Xhaka juga tidak ragu mempercepat tempo permainan.
Kontribusi defensifnya pun sama impresifnya. Ia menjadi salah satu pemain yang paling sering memenangkan duel di lini tengah dan berkali-kali memutus aliran serangan Aljazair sebelum berkembang menjadi ancaman serius.
Pengalaman Jadi Kunci Kesuksesan Swiss

Usia 33 tahun tidak membuat performa Xhaka menurun. Sebaliknya, pengalaman yang dimilikinya justru menjadi aset terbesar bagi Timnas Swiss di Piala Dunia 2026.
Pandit BBC Sport, Sue Smith, memberikan pujian tinggi kepada sang gelandang. Menurutnya, Xhaka adalah pemain yang menentukan bagaimana Swiss memainkan pertandingan.
“Saya menyebut Granit Xhaka berulang kali karena dialah yang menentukan tempo permainan. Dia memutuskan kapan tim harus mempercepat serangan dan kapan harus memperlambat ritme pertandingan,” ujar Sue Smith.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran pemain berpengalaman seperti Xhaka memberikan rasa tenang kepada para pemain muda Swiss yang tengah berkembang.
Menurut Sue Smith, kombinasi pengalaman dan kualitas pemain muda membuat Swiss memiliki peluang untuk melangkah lebih jauh di turnamen kali ini.
Johan Manzambi Bersinar Berkat Dukungan Xhaka
Selain Xhaka, kemenangan Swiss juga tidak lepas dari kontribusi pemain muda berbakat Johan Manzambi. Gelandang berusia 20 tahun itu kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu talenta paling menjanjikan di Piala Dunia 2026.
Manzambi menjadi kreator gol pembuka Swiss. Ia berhasil melewati bek Aljazair, Aissa Mandi, sebelum mengirimkan umpan matang yang diselesaikan Breel Embolo menjadi gol.
Assist tersebut membuat Manzambi kini telah terlibat langsung dalam lima gol Swiss sepanjang turnamen. Sebelumnya, ia sudah mencetak tiga gol di fase grup dan kini menambah satu assist penting pada fase gugur.
Menurut data Opta, Manzambi menjadi pemain Swiss pertama sejak 1966 yang terlibat langsung dalam lima gol pada satu edisi Piala Dunia. Catatan tersebut menunjukkan betapa besarnya pengaruh sang gelandang muda.
Namun, perkembangan pesat Manzambi juga tidak terlepas dari peran Xhaka. Sang kapten terus memberikan arahan sepanjang pertandingan dan membantu para pemain muda tetap tenang menghadapi tekanan laga fase gugur.
Swiss Semakin Percaya Diri Menatap Babak 16 Besar

Keberhasilan mengalahkan Aljazair membuat Swiss semakin percaya diri menghadapi babak 16 besar Piala Dunia 2026. Tim asuhan Murat Yakin memperlihatkan keseimbangan antara pemain senior dan generasi muda yang tampil tanpa rasa takut.
Granit Xhaka menjadi simbol dari keseimbangan tersebut. Ia bukan lagi hanya seorang gelandang bertahan, melainkan pemimpin yang mampu mengendalikan emosi tim, mengatur tempo permainan, sekaligus membimbing pemain-pemain muda agar tampil maksimal.
Jika Xhaka mampu mempertahankan performa seperti saat menghadapi Aljazair, Swiss memiliki peluang besar untuk terus melangkah jauh di Piala Dunia 2026. Pengalaman sang kapten dipadukan dengan ledakan talenta muda seperti Johan Manzambi, Breel Embolo, dan Dan Ndoye membuat Swiss layak diperhitungkan sebagai salah satu kuda hitam yang siap memberikan kejutan pada fase gugur.

