Demi Instruksi Taktik, Erling Haaland Tak Bisa Jadi Kapten Manchester City!
Dunia Bola – Manchester City masih mencari sosok yang tepat untuk mengisi posisi kapten setelah Bernardo Silva tidak lagi menjadi pilihan utama. Nama Erling Haaland sempat masuk dalam kandidat, tetapi peluang striker asal Norwegia itu justru mendapat tantangan dari aturan taktik yang diterapkan Enzo Maresca.
Maresca memiliki kebiasaan unik ketika menangani tim. Saat masih berada di Leicester City dan Chelsea, ia menerapkan aturan bahwa kapten harus segera mendatangi bangku cadangan setelah tim mencetak gol.
Tujuannya bukan untuk mengurangi momen selebrasi, melainkan agar kapten bisa menerima instruksi terbaru dari pelatih. Informasi tersebut kemudian dapat diteruskan kepada rekan-rekan setim ketika pertandingan kembali dilanjutkan.
Aturan Maresca Bisa Menjadi Masalah bagi Haaland

Bagi sebagian pemain, aturan tersebut mungkin tidak terlalu sulit untuk dijalankan. Namun, situasinya berbeda jika pemain yang mengenakan ban kapten adalah Haaland.
Striker Manchester City tersebut merupakan salah satu pencetak gol paling produktif di skuad. Berdasarkan catatan yang disebutkan Maresca, Haaland telah mengoleksi 162 gol dari 198 penampilan bersama The Citizens.
Artinya, Haaland justru menjadi pemain yang sangat mungkin berada di pusat perhatian ketika Manchester City mencetak gol. Jika ia menjadi kapten sekaligus pencetak gol, aturan Maresca bisa menghadirkan situasi yang cukup rumit.
Maresca pun menyadari persoalan tersebut. Ia membutuhkan sosok kapten yang bisa dengan cepat meninggalkan momen selebrasi untuk menerima instruksi dari bangku cadangan.
“Kalau dia sendiri yang mencetak gol, ya silakan saja merayakannya. Kalau Erling jadi kapten, wah gawat—bisa jadi masalah, bisa bayangkan tidak?” ujar Maresca seperti dikutip Sky Sports.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Haaland bukan terletak pada kemampuan memimpin. Justru, produktivitasnya sebagai penyerang membuat tugas tersebut menjadi kurang praktis jika dikombinasikan dengan aturan sang pelatih.
Kapten Dibutuhkan untuk Menyampaikan Instruksi
Dalam pertandingan sepak bola modern, perubahan kecil dalam taktik bisa menentukan jalannya pertandingan. Karena itu, Maresca menganggap komunikasi antara pelatih dan kapten tetap penting meski hanya berlangsung selama beberapa menit.
Ketika sebuah gol tercipta, tim biasanya membutuhkan waktu untuk kembali berkonsentrasi. Pada momen tersebut, pelatih dapat memberikan penyesuaian mengenai posisi pemain, cara bertahan, atau pola permainan yang harus diterapkan.
Maresca sebelumnya menerapkan sistem serupa di Leicester City dan Chelsea. Kapten diminta datang ke area bangku cadangan untuk mendapatkan informasi, alih-alih langsung ikut merayakan gol bersama pemain lainnya.
Dalam konteks Manchester City, Haaland bisa menjadi pilihan yang kurang ideal karena posisinya sebagai ujung tombak membuatnya lebih sering berada jauh dari area pelatih.
Namun, aturan tersebut tidak serta-merta menutup peluang Haaland untuk menjadi pemimpin di ruang ganti. Sang penyerang tetap dapat memberikan pengaruh kepada rekan-rekannya melalui performa, karakter, serta perannya di dalam tim tanpa harus mengenakan ban kapten.

Manchester City Masih Punya Beberapa Kandidat

Maresca menyebut masih ada sekitar tiga atau empat kandidat yang dapat mengisi posisi kapten Manchester City. Persaingan tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi Rodri yang masih menjalani pemulihan setelah operasi punggung.
“Menurut saya, meskipun cuma dua atau tiga menit, selalu ada hal yang perlu disesuaikan. Saat ini, kami punya tiga atau empat (kapten) dan sedang kekurangan satu orang,” kata Maresca.
Kondisi Rodri tentu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Gelandang Spanyol tersebut memiliki peran penting dalam struktur permainan Manchester City dan juga dianggap sebagai salah satu sosok berpengaruh di dalam skuad.
Jika Rodri belum tersedia secara penuh, Manchester City perlu menentukan pemain lain yang mampu menjalankan tanggung jawab tersebut secara konsisten.
Haaland Tetap Bisa Jadi Pemimpin
Meski peluangnya mengenakan ban kapten menjadi lebih kecil, Haaland tetap memiliki kualitas untuk menjadi salah satu pemimpin Manchester City.
Ketajaman di depan gawang membuatnya menjadi pemain penting dalam proyek tim. Kehadirannya juga dapat memberikan motivasi kepada pemain lain, terutama ketika pertandingan berjalan sulit.
Akan tetapi, jika Maresca benar-benar mempertahankan aturan mengenai kapten yang harus menerima instruksi setelah gol, pemain dari lini tengah atau belakang kemungkinan lebih diuntungkan.
Mereka biasanya lebih dekat dengan area teknis dan dapat menerima pesan pelatih dengan lebih cepat. Instruksi tersebut kemudian bisa langsung diterapkan di lapangan.
Pada akhirnya, keputusan mengenai kapten Manchester City bukan hanya soal popularitas atau kualitas individu. Kebutuhan taktik juga menjadi pertimbangan penting.
Haaland mungkin merupakan salah satu kandidat paling kuat dari sisi pengaruh dan produktivitas. Namun, aturan unik Maresca membuat ban kapten kemungkinan lebih cocok diberikan kepada pemain yang dapat menjalankan tugas komunikasi tanpa harus meninggalkan peran utamanya di lapangan.


