duniabola Michel Salgado menilai Lamine Yamal memiliki kualitas langka yang membuatnya layak dibandingkan dengan Lionel Messi. Mantan bek Timnas Spanyol itu melihat sejumlah kesamaan antara keduanya menjelang Piala Dunia 2026.
Spanyol akan memulai perjalanan mereka di Grup H Piala Dunia 2026 bersama Tanjung Verde, Arab Saudi, dan Uruguay. La Roja dijadwalkan menghadapi Tanjung Verde pada laga pembuka.
Meski mengakui Messi berada pada level yang sangat istimewa, Salgado menilai Yamal mempunyai karakteristik yang membuatnya berbeda dari pemain lain. Pemain Barcelona itu disebut memiliki keberanian dan kemampuan individu yang luar biasa.
Yamal sendiri datang ke Piala Dunia 2026 dengan reputasi yang terus menanjak. Di usia yang masih sangat muda, ia sudah menjadi salah satu andalan Timnas Spanyol.
Kualitas Lamine Yamal yang Mengingatkan pada Lionel Messi
Salgado mengaku sangat antusias melihat penampilan Yamal di Piala Dunia 2026. Menurutnya, pemain berusia 18 tahun itu mempunyai atribut yang membuat banyak orang ingin menyaksikannya bermain.
Mantan pemain Real Madrid tersebut menilai kemampuan Yamal dalam menghadapi lawan secara langsung menjadi salah satu keunggulan terbesar yang dimilikinya. Bahkan, ia menyebut kemampuan itu mengingatkannya pada sosok Messi.
“Kami sangat tidak sabar melihat seperti apa Lamine yang akan tampil di Piala Dunia ini. Itu akan luar biasa,” ujar Salgado.
“Messi adalah pemain dari galaksi lain, tetapi memang ada beberapa kesamaan. Lamine adalah salah satu pemain yang ingin disaksikan banyak orang. Tidak banyak pemain yang memiliki kepribadian seperti itu dalam duel satu lawan satu, bahkan satu lawan dua atau satu lawan tiga. Itu adalah sesuatu yang juga dimiliki Messi,” lanjut Salgado.

Tumbuh di Lingkungan Akademi Barcelona
Salgado menilai latar belakang Yamal dan Messi di akademi Barcelona turut berperan besar dalam perkembangan mereka. Keduanya tumbuh dalam lingkungan sepak bola yang memiliki identitas permainan sangat kuat.
Menurut Salgado, Yamal bahkan sudah berada dalam kultur Barcelona sejak usia yang lebih muda dibandingkan Messi. Faktor itu diyakini membantu Yamal menghadapi tekanan sepak bola level tertinggi.
“Messi datang saat berusia 12 tahun dan Lamine bahkan lebih awal dari itu,” kata Salgado.
“Mereka tumbuh dalam lingkungan sepak bola Barcelona yang sangat istimewa. Apa yang dicapai Lamine di usia 17 tahun sungguh luar biasa. Memang dia belum memenangkan Liga Champions, tetapi dia masih memiliki banyak waktu untuk meraihnya. Dia juga sudah menjuarai Piala Eropa dan menjadi salah satu pemain penting di sana, sesuatu yang tidak mudah dilakukan,” jelas Salgado.

Sudah Terlihat sebagai Pemain Istimewa
Salgado mengaku pernah menyaksikan langsung awal kemunculan Messi saat masih aktif bermain. Ia mengatakan ruang ganti Real Madrid langsung menyadari bahwa mereka sedang menghadapi talenta yang berbeda.
Momen tersebut terjadi ketika Messi tampil gemilang dalam laga El Clasico dan mencetak hattrick. Sejak saat itu, Salgado yakin pemain Argentina tersebut akan menjadi salah satu pesepak bola terbaik dalam sejarah.
“Saya beruntung bisa melihatnya sejak awal. Kami langsung membicarakannya di ruang ganti Real Madrid ketika melihatnya pada El Clasico pertama melawan kami, saat dia mencetak hattrick,” ungkap Salgado.
“Sejak saat itu kami tahu dia adalah pemain yang berbeda, berada di level para pemain besar. Ketika saya berbicara tentang para pemain besar, saya berbicara tentang Maradona, Pele, dan mereka yang telah menandai sebuah era serta berada di atas yang lain,” tegas Salgado.
Menjaga Ekspektasi dan Masa Depan di Piala Dunia 2026
Meski perbandingan dengan Messi tidak terhindarkan, Salgado juga mengingatkan pentingnya melindungi Yamal dari tekanan yang berlebihan. Berada di panggung sebesar Piala Dunia pada usia 18 tahun adalah ujian mental yang sangat berat. Menurutnya, kunci keberhasilan Yamal di masa depan adalah mempertahankan kegembiraan bermain bola seperti yang ia tunjukkan saat ini, tanpa harus terbebani oleh bayang-bayang status “The Next Messi.”
Ujian pertama Yamal untuk membuktikan kematangannya akan segera tersaji di fase grup. Menghadapi ketangguhan fisik Uruguay serta kedisiplinan Arab Saudi dan Tanjung Verde, kreativitas dan kemampuan duel satu lawan satu milik Yamal akan menjadi senjata rahasia pelatih Spanyol. Publik sepak bola dunia kini tertuju pada Amerika Utara, menanti apakah remaja ajaib ini mampu mereplikasi magis Messi dan membawa La Roja kembali ke puncak kejayaan dunia.
Bagi Spanyol, kehadiran Yamal bukan sekadar tentang masa depan, melainkan tentang ambisi nyata di masa kini. Jika ia mampu tampil lepas dan konsisten, Piala Dunia 2026 bisa menjadi panggung pengukuhan resmi Lamine Yamal sebagai megabintang baru yang siap mendominasi sepak bola modern dalam satu dekade ke depan.

