Membandingkan Kasus Mohamed Salah dengan Cristiano Ronaldo

Para pemain sepak bola Liverpool merayakan kemenangan di atas lapangan dengan mengenakan jersey merah.”

duniabola Konflik terbaru antara Mohamed Salah dan Liverpool kembali menempatkan sang penyerang senior dalam sorotan, bukan karena performanya di lapangan, melainkan ucapannya di luar pertandingan.

Situasi ini mencuat seusai laga imbang 3-3 di markas Leeds United, ketika Salah buka suara mengenai posisinya di tim. Wawancara tersebut memperlihatkan sisi emosional pemain yang tengah berada dalam tekanan, terlebih setelah penurunan kontribusi gol dalam beberapa bulan terakhir.

Pelatih Arne Slot juga menghadapi tekanan besar di tengah upayanya menemukan kembali stabilitas permainan Liverpool. Di tengah dinamika tersebut, pernyataan Salah disebut memiliki kemiripan dengan langkah kontroversial Cristiano Ronaldo sebelum hengkang dari Manchester United.

Ketegangan Usai Wawancara dan Penurunan Performa

Performa Salah musim ini berada jauh di bawah standar terbaiknya. Ia hanya mencetak lima gol dalam 19 laga, sebuah penurunan yang menjadi alasan Slot mengambil keputusan berani untuk mencadangkannya.

Slot sebelumnya sudah mencoba merotasi beberapa pemain depan lain demi membangkitkan lini serang. Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Hugo Ekitike sempat digeser dari susunan utama, tapi langkah tersebut tidak memberi hasil memadai.

Dalam konteks inilah Salah harus menerima perlakuan yang sama dengan pemain lain. Namun, gestur dan kata-katanya mengindikasikan bahwa ia tidak sepenuhnya bisa menerima keputusan tersebut.

Seorang pemain sepak bola mengenakan jersey merah sedang berdiri di lapangan

Bayang-Bayang Kasus Ronaldo

Dalam wawancara yang memicu perdebatan itu, Salah menyampaikan keluhan bahwa dirinya telah diperlakukan tidak adil. Ia bahkan menilai ada upaya menjadikannya kambing hitam atas menurunnya performa tim.

“Saya tidak mau berjuang mengamankan posisi saya setiap hari, sebab saya berhak mendapatkannya,” kata Salah. “Saya tidak lebih besar dari klub. Saya tidak lebih besar dari apa pun. Namun, saya berhak mendapatkannya.”

Pernyataannya muncul setelah ia sebelumnya mengatakan bahwa dirinya telah dijadikan kambing hitam oleh pihak klub dan bahwa ada seseorang yang ingin Salah jadi pihak yang disalahkan.

Mau tak mau, kasus Salah ini membangkitkan memorti terhadap kasus Cristiano Ronaldo beberapa tahun lalu. Ronaldo pernah merasa dikhianati oleh Manchester United dan hubungannya dengan Erik ten Hag telah rusak.

Dampak Internal dan Pertaruhan Masa Depan

Komentar Salah di Leeds memiliki potensi merusak dinamika tim sama besarnya dengan kegagalannya menekan atau bertahan di lapangan. Untungnya, Liverpool bisa langsung bangkit ketika bermain di Liga Champions, mengalahkan Inter Milan 1-0.

Ucapan Salah juga dinilai sebagai bentuk tantangan kepada manajemen klub untuk memilih antara dirinya dan Slot. Namun, mempertahankan pemain senior yang mendekati usia 34 tahun jelas tidak begitu menguntungkan.

Di sisi lain, Arne Slot yang baru enam bulan lalu membawa Liverpool meraih gelar Premier League, juga berada dalam pertaruhan besar untuk mempertahankan posisinya.

Dilihat dari berbagai sisi, kasus Salah kali ini hampir sama dengan kasus Ronaldo yang akhirnya meninggalkan klub menuju Saudi Pro League. Artinya, sangat mungkin Salah akan mengambil jalan yang sama dalam waktu dekat.

Kontroversi Publik: Jembatan yang Dibakar

Pernyataan “Saya tidak mau berjuang mengamankan posisi saya setiap hari, sebab saya berhak mendapatkannya” yang dilontarkan Mohamed Salah adalah inti dari konflik ini dan merupakan titik balik signifikan. Dalam budaya sepak bola modern, terutama di klub-klub elite Eropa yang kompetitif, klaim hak istimewa seperti itu hampir selalu dipandang negatif. Ini menunjukkan adanya keretakan mentalitas antara pemain dan filosofi pelatih yang menekankan bahwa semua harus berjuang mendapatkan tempat.

Pakar transfer Eropa, Fabrizio Romano, dalam kolom terbarunya, menggarisbawahi kemiripan situasi ini dengan babak akhir Cristiano Ronaldo di Manchester United. Ronaldo juga merasa dirinya ‘berhak’ mendapatkan tempat di starting eleven terlepas dari usia dan performanya. Konflik ini, baik pada Ronaldo maupun Mohamed Salah, bukan hanya tentang taktik, tetapi tentang otoritas manajerial. Ketika seorang pemain kunci secara terbuka menantang keputusan pelatih, itu memaksa klub untuk memilih: mendukung pelatih dan prinsip klub, atau mendukung bintang senior.

Bagi Liverpool, dengan Arne Slot yang sedang membangun era baru, mendukung Mohamed Salah bisa melemahkan otoritas Slot secara permanen. Pengorbanan jangka pendek berupa penjualan Mohamed Salah mungkin diperlukan untuk menegaskan bahwa tidak ada pemain yang lebih besar dari klub—prinsip yang dulu juga dipegang teguh oleh Manchester United saat melepas Ronaldo.

🇸🇦 Spekulasi Saudi Pro League: Peluang dan Godaan Finansial

Spekulasi mengenai kepindahan Mohamed Salah ke Saudi Pro League (SPL) menjadi semakin kuat setelah insiden wawancara tersebut. Selama dua musim terakhir, klub-klub Saudi, terutama Al-Ittihad dan Al-Hilal, tidak pernah menyembunyikan minat mereka yang besar dan serius terhadap Mohamed Salah.

Pada bursa transfer musim panas sebelumnya, Al-Ittihad dilaporkan siap menawar hingga $\text{£}150$ juta untuk Mohamed Salah , tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh manajemen Liverpool. Namun, situasinya kini telah berubah.

  1. Usia dan Nilai Jual: Mohamed Salah akan berusia 34 tahun di akhir musim ini. Jika Liverpool tidak menjualnya sekarang, nilai transfernya akan anjlok drastis atau ia akan pergi dengan status bebas transfer. Ini adalah jendela terakhir Liverpool untuk mendapatkan biaya transfer yang signifikan, mungkin masih berkisar antara $\text{£}80$ juta hingga $\text{£}100$ juta.

  2. Gaji Menggiurkan: Arab Saudi dapat menawarkan gaji yang jauh melebihi kemampuan Liverpool, kemungkinan mencapai $\text{£}2.5$ juta per minggu, seperti yang diterima oleh Ronaldo. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup bagi Mohamed Salah untuk mengamankan stabilitas finansial jangka panjang yang tak tertandingi.

Jika Liverpool memutuskan bahwa perpisahan adalah jalan terbaik, proses negosiasi dengan klub Saudi diperkirakan akan berjalan sangat cepat, mengingat keinginan kuat dari pihak Saudi dan potensi gaji yang ditawarkan.

❓ Pilihan Slot dan Masa Depan Liverpool Tanpa Salah

Kepergian Salah, jika terjadi, memang akan meninggalkan lubang besar di sisi kanan serangan Liverpool. Namun, di bawah Slot, The Reds telah menunjukkan tanda-tanda ketergantungan yang berkurang pada satu bintang. Pemain seperti Florian Wirtz dan perkembangan Harvey Elliott menunjukkan bahwa Slot sedang mempersiapkan Liverpool untuk masa depan pasca-Salah.

Slot mungkin melihat penjualan Salah sebagai modal yang diperlukan untuk merekrut pemain muda yang lebih sesuai dengan sistem pressing dan rotasi yang ia inginkan. Dana segar dari penjualan tersebut dapat digunakan untuk mendatangkan dua hingga tiga pemain yang dapat menyuntikkan energi baru dan mentalitas kolektif ke dalam skuad, mengurangi risiko munculnya kembali “kasus Ronaldo” di masa depan. Perpisahan ini, meskipun pahit bagi sebagian suporter, mungkin menjadi langkah taktis yang krusial bagi Slot untuk membangun warisan dan otoritasnya di Anfield.

Leave a Reply