Mohamed Salah Berani Hadapi Media Ketika Liverpool Terpuruk

Mohamed Salah merayakan gol bersama rekan setimnya, Roberto Firmino (belakang).

duniabola Krisiss yang tengah membelit Liverpool memunculkan satu suara lantang dari legenda klub, Jamie Carragher. Eks bek The Reds itu menilai Mohamed Salah seharusnya tampil ke depan dan berbicara mewakili tim, terutama setelah rentetan hasil buruk yang semakin menekan suasana di Anfield.

Liverpool kembali terperosok usai secara mengejutkan dibantai Nottingham Forest dengan skor telak 0-3 di Anfield, Sabtu (22/11/2025) kemarin.

Kekalahan keenam dalam tujuh laga Premier League itu membuat The Reds merosot ke peringkat 12 dan tertinggal 11 poin dari pemuncak klasemen sementara, Arsenal. Situasi yang jauh dari ideal untuk klub sebesar Liverpool.

Cuma Van Dijk yang Berani Bicara

Seorang pemain Liverpool merayakan gol di depan penonton dengan wajah penuh semangat.
Momen emosional sang pemain Liverpool saat merayakan gol krusial, menunjukkan semangat juang di Anfield

Dalam analisisnya di Sky Sports Monday Night Football, Carragher menyebut bahwa selama masa sulit ini, hanya sang kapten, Virgil van Dijk, yang konsisten muncul di hadapan media untuk menjelaskan kondisi tim.

Namun, menurutnya, peran itu tidak boleh dibebankan hanya kepada sang kapten.

“Van Dijk selalu muncul setelah kekalahan. Itu memang tugas kapten, tapi harusnya ada pemain lain yang ikut bicara untuk klub,” tegas Carragher

Tantangan Carragher untuk Mohamed  Salah

Mohamed Salah melambaikan tangan kepada penonton setelah pertandingan Liga Champions
Mohamed Salah menyapa atau berterima kasih kepada penggemar Liverpool setelah pertandingan ketat melawan Eintracht Frankfurt di Liga Champions

Nama Mohamed Salah pun disebut secara langsung. Carragher menyinggung bagaimana musim lalu bintang asal Mesir itu cukup vokal soal masa depannya ketika pembicaraan kontrak berlangsung panas. Namun ketika klub sedang terpuruk,Mohamed Salah justru memilih diam.

“Setahun lalu,Mohamed Salah tidak ragu bicara soal kontraknya. Tapi saya hanya mendengarnya bicara ketika ia jadi man of the match atau ketika membahas kontrak baru,” ujar Carragher.

“Sebagai salah satu legenda dan pemimpin di tim, seharusnya dia muncul dan bicara untuk tim. Tidak selalu harus kapten.”

Penampilan Salah musim ini memang jauh dari standar terbaiknya. Dalam 12 laga Premier League, ia baru mencetak 4 gol dan 2 assist, kontras dengan musim 2024/25 ketika ia mencatat kontribusi luar biasa: 47 gol dan assist

Slot: Sangat Buruk, Tak Ada Alasan

Potret Pelatih Liverpool, Arne Slot, mengenakan pakaian hitam di pinggir lapangan.
Pelatih kepala Liverpool, Arne Slot, mengamati pertandingan dari pinggir lapangan, berusaha membalikkan keadaan tim di tengah krisis.

Pelatih Arne Slot pun mengakui hasil kontra Forest merupakan salah satu yang terburuk sepanjang musim.

“Kalah 0-3 di kandang, dari siapa pun, itu hasil yang sangat, sangat buruk,” ungkapnya.

“Justru yang membuat frustrasi, kami memulai pertandingan dengan bagus. Dalam 30 menit pertama, kami menciptakan banyak peluang. Tapi ketika kami gagal memanfaatkannya dan lawan mencetak gol dari kesempatan pertama, itu menjadi kombinasi yang sangat sulit diterima.”

Liverpool sejauh ini baru meraup 18 poin dari 36 yang mungkin diraih. Sebuah pencapaian yang menandai betapa timpangnya performa mereka dibandingkan musim-musim sebelumnya.

Dengan tekanan semakin memuncak dan sorotan tajam mengarah ke para pemain senior, Carragher menegaskan bahwa momen ini adalah saat bagi para pemimpin di ruang ganti termasuk Mohamed Salah untuk bersuara dan mengangkat moral tim

Krisis Kepemimpinan di Anfield: Di Mana Suara Bintang-Bintang Liverpool?

 

Kritik pedas Jamie Carragher yang menantang Mohamed Salah untuk bersuara di tengah badai krisis Liverpool menyoroti masalah yang lebih dalam dari sekadar performa buruk di lapangan: krisis kepemimpinan di ruang ganti. Kekalahan telak 0-3 dari Nottingham Forest di Anfield bukan hanya soal kehilangan tiga poin; itu adalah penanda runtuhnya kepercayaan diri, mentalitas, dan yang paling penting, tanggung jawab kolektif.

Carragher benar. Ketika sebuah klub sebesar Liverpool berada dalam masa tergelapnya—merangkak di peringkat ke-12 dan menghadapi rekor kekalahan terburuk dalam beberapa tahun—kapten tim, Virgil van Dijk, memang menjalankan tugasnya dengan berani menghadapi media. Namun, kepemimpinan sejati diukur dari bagaimana suara-suara berpengaruh lainnya di tim bereaksi.

Mencari ‘The Voice’ Selain Kapten

 

Di era kejayaan Jürgen Klopp, suara-suara itu bergema. Ada Jordan Henderson dengan semangatnya yang tak pernah padam, James Milner dengan profesionalisme yang membimbing, dan bahkan Trent Alexander-Arnold yang sesekali berani menyuarakan ambisi. Kini, di bawah kepemimpinan Arne Slot yang masih berjuang menemukan pijakannya, tim membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan atas kekalahan. Mereka membutuhkan pernyataan tegas, janji perbaikan, dan yang terpenting, upaya untuk melindungi pelatih baru dari gelombang kritik.

Mohamed Salah, sebagai pemain dengan status global yang setara dengan sedikit pemain di dunia, membawa beban yang unik. Kontraknya yang besar, rekor golnya, dan posisinya sebagai ikon klub menempatkannya pada eselon kepemimpinan. Ketika ia vokal membicarakan kontrak atau pencapaian pribadi, hal itu menarik perhatian seluruh dunia. Oleh karena itu, keheningannya saat ini terasa memekakkan telinga. Sikap diam ini, seperti yang diisyaratkan Carragher, bisa diartikan sebagai kurangnya kepedulian terhadap situasi klub yang semakin memburuk, atau bahkan rasa frustrasi yang memilih disimpan.

Dampak Keheningan Bintang pada Moral Tim

 

Keheningan para bintang senior seperti Mohamed Salah mengirimkan sinyal negatif ke skuat muda. Pemain seperti Harvey Elliott, Curtis Jones, atau Darwin Núñez yang sedang berjuang keras membutuhkan jaminan dan dukungan moral dari pemain yang mereka idolakan. Jika pemimpin gol tim hanya berbicara saat menang atau saat negosiasi finansial, moral tim akan runtuh.

Tanggung jawab kepemimpinan bukan hanya tentang mengenakan ban kapten. Ini adalah tentang bertanggung jawab secara publik atas kegagalan tim. Ini adalah tentang menempatkan diri sebagai tameng bagi rekan setim yang lebih muda. Dalam ketiadaan suara-suara ini, semua tekanan jatuh ke bahu Van Dijk, yang penampilannya sendiri musim ini juga jauh dari standar kelas dunianya.

Analisis Taktik Arne Slot yang Tertekan

 

Di luar masalah kepemimpinan, hasil buruk ini juga menempatkan Arne Slot dalam posisi yang sangat sulit. Keterangan Slot setelah pertandingan kontra Forest menunjukkan kombinasi antara frustrasi dan keputusasaan.

“Justru yang membuat frustrasi, kami memulai pertandingan dengan bagus. Dalam 30 menit pertama, kami menciptakan banyak peluang. Tapi ketika kami gagal memanfaatkannya dan lawan mencetak gol dari kesempatan pertama, itu menjadi kombinasi yang sangat sulit diterima,” ungkap Slot.

Analisis ini merangkum masalah utama Liverpool saat ini: inefisiensi di depan gawang dan rapuhnya pertahanan mental. Menciptakan peluang adalah satu hal, tetapi mengubahnya menjadi gol adalah hal lain. Dengan hanya 4 gol dan 2 assist dari Salah dalam 12 pertandingan, daya serang yang biasanya mematikan telah tumpul. Pertandingan melawan Forest adalah contoh sempurna: Liverpool mendominasi penguasaan bola dan menciptakan peluang, tetapi satu gol balasan dari serangan balik atau set-piece lawan meruntuhkan semua mentalitas tim.

Statistik Expected Goals (xG) Liverpool mungkin tinggi, tetapi hasilnya nol. Fenomena ini menunjukkan adanya masalah psikologis yang serius, di mana tim kehilangan keyakinan saat menghadapi kesulitan kecil. Ketika lawan mencetak gol, alih-alih bangkit, Liverpool justru tenggelam.

Dengan 18 poin dari 36 yang seharusnya bisa diraih, performa Liverpool kini setara dengan tim-tim papan tengah, sebuah posisi yang tidak pernah mereka hadapi sejak masa awal Brendan Rodgers. Sorotan Carragher terhadap Mohamed Salah adalah upaya untuk memicu reaksi, sebuah wake-up call bahwa reputasi klub, dan warisan para pemain senior, dipertaruhkan. Jika Mohamed Salah benar-benar menganggap dirinya legenda masa depan Anfield, inilah saatnya bagi The Egyptian King untuk tampil, bukan hanya dengan gol, tetapi dengan suara dan semangat yang mampu mengangkat tim keluar dari palung krisis.

Leave a Reply