Presiden La Liga, Javier Tebas, kembali menjadi sorotan dunia sepak bola. Kali ini, pria yang dikenal vokal terhadap berbagai kebijakan FIFA tersebut secara terbuka meminta Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk mengakhiri masa jabatannya.
Pernyataan itu muncul setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Menurut Tebas, turnamen empat tahunan tersebut justru memperlihatkan banyak persoalan yang menunjukkan bahwa FIFA membutuhkan perubahan besar, terutama pada level kepemimpinan Gianni Infantino.
Dalam wawancara bersama media Italia La Gazzetta dello Sport, Tebas menilai berbagai keputusan FIFA selama Piala Dunia 2026 telah memicu kontroversi dan mengurangi kredibilitas sepak bola dunia. Ia bahkan menyebut bahwa masa kepemimpinan Gianni Infantino telah berakhir.
Artikel ini akan membahas secara lengkap alasan Javier Tebas meminta Gianni Infantino mundur, berbagai kontroversi selama Piala Dunia 2026, hingga dampaknya terhadap masa depan sepak bola internasional.
Javier Tebas Kembali Melontarkan Kritik kepada FIFA Dan Gianni Infantino
Javier Tebas bukanlah sosok baru yang mengkritik FIFA dan Gianni Infantino. Selama beberapa tahun terakhir, Presiden La Liga tersebut berkali-kali menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap berbagai kebijakan organisasi sepak bola dunia itu.
Menurut Tebas, FIFA semakin sering mengambil keputusan yang lebih mengutamakan kepentingan komersial dibandingkan perkembangan olahraga sepak bola.
Ia menilai kalender pertandingan semakin padat, jumlah kompetisi internasional terus bertambah, sementara klub dan pemain menjadi pihak yang paling dirugikan.
Karena itu, kritik yang disampaikan Tebas kali ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Namun, yang membuat pernyataannya berbeda adalah seruan terbuka agar Gianni Infantino mengundurkan diri sebagai Presiden FIFA.
Tebas Menilai Waktu Gianni Infantino Sudah Habis

Saat ditanya apakah Gianni Infantino seharusnya mundur dari jabatannya, Javier Tebas memberikan jawaban tanpa ragu.
Menurutnya, FIFA membutuhkan pemimpin baru yang mampu mengembalikan kepercayaan publik terhadap organisasi tersebut.
Ia mengatakan bahwa kepemimpinan Infantino sudah tidak lagi membawa perubahan positif bagi sepak bola dunia.
“Menurut pendapat saya, ya, saya pikir waktunya sudah habis.”
Pernyataan tersebut menjadi salah satu kritik paling keras yang pernah dilontarkan Tebas terhadap FIFA.
Meski demikian, Tebas mengakui bahwa peluang terjadinya pergantian kepemimpinan masih sangat kecil.
Ia menilai struktur politik di FIFA membuat hampir tidak ada kandidat yang berani menantang Gianni Infantino.
Akibatnya, posisi Presiden FIFA dinilai masih sangat kuat meskipun menuai berbagai kritik dari banyak pihak.
Sistem Pemilihan Presiden FIFA Dinilai Bermasalah
Menurut Javier Tebas, salah satu penyebab sulitnya perubahan di FIFA adalah sistem pemilihan presiden.
Ia menganggap banyak tokoh sepak bola sebenarnya tidak puas terhadap kepemimpinan Gianni Infantino.
Namun, hampir tidak ada yang bersedia maju sebagai penantang karena peluang untuk menang sangat kecil.
Dalam pandangan Tebas, kondisi tersebut membuat proses demokrasi di FIFA kehilangan keseimbangan.
Tidak adanya kandidat oposisi membuat organisasi tersebut sulit mengalami perubahan.
Ia bahkan mengatakan bahwa situasi seperti ini hanya akan memperpanjang berbagai persoalan yang selama ini menjadi sorotan.
Kontroversi Piala Dunia 2026 Jadi Sorotan
Alasan utama Javier Tebas meminta Gianni Infantino mundur tidak terlepas dari berbagai kontroversi selama Piala Dunia 2026.
Turnamen yang seharusnya menjadi pesta sepak bola dunia justru dipenuhi berbagai keputusan yang memancing perdebatan.
Menurut Tebas, banyak kebijakan FIFA selama kompetisi berlangsung tidak memberikan citra positif terhadap sepak bola internasional.
Beberapa di antaranya bahkan dianggap mencederai sportivitas.
Berikut beberapa kontroversi yang menjadi perhatian Javier Tebas.
Jeda Hidrasi yang Menuai Perdebatan
Salah satu keputusan FIFA yang dikritik adalah penerapan jeda hidrasi dalam sejumlah pertandingan.
Memang, cuaca panas di Amerika Serikat menjadi alasan utama diterapkannya kebijakan tersebut.
Namun, Tebas menilai FIFA seharusnya lebih matang dalam menentukan jadwal pertandingan sejak awal.
Menurutnya, jika kondisi cuaca sudah diperkirakan sebelumnya, maka waktu kick-off bisa disesuaikan sehingga tidak memerlukan terlalu banyak penghentian pertandingan.
Ia khawatir terlalu banyak intervensi justru mengurangi ritme permainan.
Durasi Turun Minum Final Dinilai Berlebihan
Kontroversi berikutnya muncul pada laga final Piala Dunia 2026.
Durasi turun minum yang lebih panjang dibandingkan pertandingan biasa memunculkan banyak pertanyaan.
FIFA disebut memberikan waktu tambahan demi kepentingan hiburan dan berbagai agenda komersial.
Kebijakan tersebut dinilai kurang sesuai dengan tradisi sepak bola.
Bagi Tebas, pertandingan sepak bola seharusnya tetap mengutamakan aspek olahraga dibandingkan pertunjukan komersial.
Kasus Folarin Balogun Menjadi Perdebatan

Salah satu kontroversi terbesar selama Piala Dunia 2026 adalah kasus Folarin Balogun.
Penyerang Amerika Serikat itu sempat terancam hukuman skorsing setelah menerima kartu merah.
Namun, hukuman tersebut akhirnya ditunda sehingga Balogun tetap dapat tampil pada babak 16 besar melawan Belgia.
Keputusan tersebut langsung mengundang kritik.
Banyak pihak mempertanyakan konsistensi FIFA dalam menerapkan regulasi disiplin.
Javier Tebas termasuk salah satu yang secara terbuka menyoroti kasus tersebut.
Ia menilai keputusan itu berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap independensi FIFA.
Dugaan Intervensi Donald Trump
Kontroversi Balogun semakin memanas setelah muncul kabar mengenai dugaan intervensi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Meski isu tersebut memunculkan banyak spekulasi, Tebas menjadikannya sebagai contoh bahwa FIFA harus mampu menjaga independensi dalam setiap keputusan.
Menurutnya, sepak bola dunia tidak boleh dipengaruhi oleh tekanan politik ataupun kepentingan pihak tertentu.
Bagi Tebas, integritas kompetisi adalah fondasi utama yang harus dijaga.
Wacana Piala Dunia 64 Tim Juga Dikritik
Selain berbagai keputusan selama turnamen berlangsung, Javier Tebas juga menyoroti rencana FIFA memperluas jumlah peserta Piala Dunia menjadi 64 negara.
Menurutnya, ide tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan bisnis dibandingkan kualitas kompetisi.
Ia khawatir semakin banyak peserta justru akan menurunkan standar pertandingan.
Selain itu, jadwal kompetisi juga akan semakin padat.
Akibatnya, pemain harus menjalani musim yang jauh lebih melelahkan.
Tebas menilai FIFA seharusnya memikirkan keseimbangan antara perkembangan bisnis dan kesehatan pemain.
Kalender Sepak Bola Semakin Padat
Kritik Javier Tebas terhadap FIFA sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Ia berkali-kali mengeluhkan kalender sepak bola internasional yang semakin penuh.
Kompetisi baru terus bermunculan.
Jumlah pertandingan bertambah.
Sementara waktu istirahat pemain semakin sedikit.
Menurut Tebas, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko cedera.
Selain itu, kualitas pertandingan juga dapat menurun karena pemain tidak memiliki waktu pemulihan yang cukup.
Banyak Tokoh Sepak Bola Memilih Diam
Dalam wawancaranya, Tebas juga mengungkapkan pengalaman selama berada di Amerika Serikat.
Ia mengaku berbicara dengan banyak tokoh sepak bola.
Menurutnya, cukup banyak yang sebenarnya tidak sepakat dengan berbagai kebijakan FIFA.
Namun, mereka memilih untuk tidak mengungkapkannya secara terbuka.
Tebas menilai sikap diam tersebut justru memperburuk keadaan.
Menurutnya, jika semua pihak memilih bungkam, maka perubahan tidak akan pernah terjadi.
Ia bahkan menyebut diam bisa sama buruknya dengan keterlibatan.
Mengapa Kritik Tebas Selalu Menarik Perhatian?
Javier Tebas dikenal sebagai salah satu administrator sepak bola paling berpengaruh di Eropa.
Sebagai Presiden La Liga, pendapatnya sering menjadi perhatian media internasional.
Meski kerap menuai kontroversi, Tebas memiliki pengaruh besar dalam berbagai diskusi mengenai masa depan industri sepak bola.
Karena itu, kritiknya terhadap Gianni Infantino tidak dapat dianggap sebagai komentar biasa.
Pernyataannya berpotensi memicu perdebatan lebih luas mengenai arah kebijakan FIFA.
Apakah Gianni Infantino Akan Mundur?
Hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa Gianni Infantino akan mengundurkan diri.
Posisinya sebagai Presiden FIFA masih sangat kuat.
Selain itu, belum muncul kandidat yang benar-benar mampu menjadi penantang serius dalam pemilihan presiden berikutnya.
Karena itu, peluang terjadinya pergantian kepemimpinan dalam waktu dekat masih terlihat kecil.
Namun, kritik dari Javier Tebas dapat menjadi pemicu munculnya diskusi yang lebih besar mengenai reformasi FIFA.
Tantangan Besar FIFA di Masa Depan
Terlepas dari berbagai kritik yang muncul, FIFA tetap menghadapi tantangan besar.
Organisasi tersebut harus menjaga keseimbangan antara pengembangan bisnis dan kualitas kompetisi.
Selain itu, FIFA juga dituntut menjaga transparansi dalam setiap keputusan.
Kepercayaan publik menjadi aset paling penting bagi organisasi sepak bola dunia.
Jika berbagai kontroversi terus terjadi, citra FIFA berpotensi mengalami penurunan.
Karena itu, evaluasi terhadap kebijakan organisasi menjadi hal yang tidak bisa dihindari.
Dampak terhadap Sepak Bola Dunia
Pernyataan Javier Tebas bukan hanya soal hubungan pribadi dengan Gianni Infantino.
Lebih dari itu, kritik tersebut mencerminkan kekhawatiran banyak pihak mengenai arah perkembangan sepak bola modern.
Kompetisi yang semakin padat, meningkatnya kepentingan komersial, hingga munculnya berbagai kontroversi menjadi isu yang terus dibahas.
Klub, pemain, pelatih, hingga suporter berharap sepak bola tetap mengutamakan sportivitas.
FIFA sebagai organisasi tertinggi memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga nilai tersebut.
Kesimpulan
Seruan Javier Tebas agar Gianni Infantino mundur dari jabatan Presiden FIFA menjadi salah satu isu terbesar setelah berakhirnya Piala Dunia 2026.
Berbagai kontroversi selama turnamen, mulai dari jeda hidrasi, durasi turun minum final, kasus Folarin Balogun, hingga wacana Piala Dunia 64 tim menjadi dasar kritik yang disampaikan Presiden La Liga tersebut.
Tebas menilai kepemimpinan Gianni Infantino sudah memasuki akhir perjalanan dan FIFA membutuhkan perubahan demi menjaga kredibilitas sepak bola dunia.
Meski peluang pergantian presiden masih sangat kecil, kritik tersebut menunjukkan bahwa tuntutan terhadap transparansi, independensi, dan tata kelola yang lebih baik semakin kuat.
Ke depan, FIFA diharapkan mampu menjawab berbagai kritik dengan kebijakan yang lebih terbuka, adil, dan mengutamakan kepentingan sepak bola dibandingkan aspek komersial semata. Dengan demikian, kepercayaan publik terhadap organisasi sepak bola dunia dapat terus terjaga dan perkembangan olahraga paling populer di dunia ini tetap berada pada jalur yang positif.


