Laga burnley 2-3 fulham yang berakhir 2-3 di Turf Moor pada Sabtu, 13 Desember 2025 langsung jadi salah satu cerita paling panas di Premier League. Bukan cuma karena skor tipis penuh drama, tapi karena kemenangan ini memutus rekor horor Fulham yang tidak pernah menang di kandang Burnley sejak tahun 1951. Hampir tujuh dekade lamanya setiap perjalanan ke Turf Moor berakhir tanpa tiga poin, sampai akhirnya malam ini kutukan itu resmi pecah.
Buat Burnley, kekalahan ini terasa dua kali lipat pahit. Mereka bukan hanya gagal menyelamatkan poin di kandang sendiri, tetapi juga mencatat tujuh kekalahan beruntun di liga, rekor terburuk klub di kasta tertinggi sejak akhir abad ke-19. Tekanan kepada manajer Scott Parker pun otomatis makin berat karena timnya makin tenggelam di zona degradasi.
Di sisi lain, Fulham justru pulang dengan rasa lega luar biasa. Kemenangan ini membawa mereka menjauh dari zona merah dan naik ke peringkat ke-13 klasemen sementara dengan 20 poin, plus kepercayaan diri meningkat karena berhasil menang di salah satu away paling angker dalam sejarah klub.

Burnley 2-3 Fulham: Babak Pertama Langsung Penuh Drama
Sejak menit-menit awal, ritme pertandingan Burnley 2-3 Fulham sudah terasa terbuka. Kedua tim sama-sama tahu betapa pentingnya laga ini: Burnley butuh kemenangan untuk menghentikan tren negatif dan menjaga asa bertahan di Premier League, sementara Fulham ingin memutus rekor buruk di Turf Moor dan menjauh dari papan bawah.
Fulham memulai laga dengan berani, menekan tinggi ketika Burnley membangun serangan dari belakang. Strategi itu berbuah hasil ketika tim tamu mendapatkan sepak pojok. Umpan Harry Wilson yang dilepaskan rendah dan kencang ke kotak enam belas menciptakan kekacauan, dan Emile Smith Rowe yang bergerak tajam di tiang dekat berhasil menyentuh bola sehingga menaklukkan kiper Burnley. Gol ini membuka skor 1-0 untuk Fulham dan langsung mengubah atmosfer di stadion.
Tertinggal, Burnley tidak tinggal diam. Mereka menumpuk pemain di depan untuk mengejar gol balasan, memanfaatkan dukungan penuh publik Turf Moor. Usaha itu membuahkan hasil saat Lesley Ugochukwu menyamakan kedudukan. Berawal dari umpan terukur Josh Cullen yang membelah pertahanan Fulham, Ugochukwu lepas dari kawalan dan menyelesaikan peluang dengan tenang untuk membuat skor 1-1. Gol ini sempat menyuntikkan energi baru bagi Burnley yang sedang terluka.
Namun sebelum babak pertama berakhir, Fulham kembali menusuk jantung tuan rumah lewat skema bola mati. Harry Wilson kembali menjadi kreator, kali ini melalui umpan silang yang diarahkan ke tiang jauh. Bek Calvin Bassey yang bergerak tanpa kawalan berhasil menyundul bola ke gawang dan mengembalikan keunggulan Fulham menjadi 2-1. Gol ini bukan hanya menunjukkan kelemahan organisasi pertahanan Burnley, tetapi juga memperlihatkan betapa tajamnya eksekusi bola mati Fulham malam itu.

Harry Wilson On Fire: 2 Assist + 1 Gol
Jika harus memilih satu sosok yang paling menentukan di laga Burnley 2-3 Fulham, nama Harry Wilson jelas berada di urutan teratas. Winger asal Wales itu terlibat langsung dalam tiga gol Fulham: mengirim dua assist dari situasi bola mati dan mencetak satu gol cantik di babak kedua.
Setelah dua kontribusi di babak pertama, Wilson seolah belum puas. Di paruh kedua, ketika Burnley mulai bermain lebih terbuka untuk mengejar skor, Fulham memanfaatkan ruang di lini belakang tuan rumah. Samuel Chukwueze yang juga tampil impresif mengirim umpan terobosan ke arah Wilson yang menusuk dari sisi kanan. Dengan satu sentuhan untuk mengontrol dan satu sentuhan untuk menembak, Wilson menceploskan bola dengan finishing klinis yang membuat skor menjadi 3-1 untuk Fulham.
Gol ini terasa seperti “killer blow” bagi Burnley. Publik tuan rumah sempat terdiam, menyadari bahwa tim mereka sedang berada dalam situasi sangat sulit. Bagi Fulham, momen itu seperti konfirmasi bahwa malam ini milik mereka: malam ketika rekor buruk di Turf Moor akhirnya rubuh berkat permainan berani dan efisiensi lini serang.
Meski demikian, Harry Wilson tidak hanya berkontribusi di depan. Ia juga disiplin turun membantu pertahanan, ikut menutup jalur umpan dan menekan bek Burnley ketika bola hilang. Paket lengkap inilah yang membuat penampilannya dipuji banyak pihak sebagai salah satu performance individu terbaik Fulham musim ini.
Burnley 2-3 Fulham: Akhir Menegangkan di Turf Moor
Walau sempat tertinggal dua gol, Burnley tidak menyerah begitu saja. Di menit-menit akhir, mereka mengirim banyak bola panjang dan crossing ke kotak penalti Fulham, berharap bisa memanfaatkan kekuatan udara dan momen chaos di depan gawang. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Oliver Sonne sukses memperkecil ketertinggalan menjadi 3-2 menjelang penghujung laga.
Gol Sonne memberi harapan singkat bagi Burnley bahwa comeback dramatis masih mungkin terjadi. Turf Moor kembali bergemuruh, Fulham dipaksa bertahan sangat dalam, dan tiap bola yang masuk ke kotak penalti terasa seperti ancaman besar. Namun kali ini, lini belakang Fulham dan kiper Bernd Leno cukup tenang untuk mengatasi tekanan di menit-menit krusial.
Peluit panjang akhirnya berbunyi dengan papan skor tetap menunjukkan 2-3. Bagi Fulham, ini bukan sekadar tiga poin biasa, melainkan kemenangan bersejarah di markas yang selama puluhan tahun selalu menjadi tempat mimpi buruk. Bagi Burnley, kekalahan tipis namun menyakitkan ini memperdalam luka dan membuat jalan mereka untuk keluar dari zona degradasi semakin terjal.
Dampak Burnley 2-3 Fulham di Klasemen dan Masa Depan Kedua Klub
Secara klasemen, hasil Burnley 2-3 Fulham mengubah peta di papan bawah Premier League. Fulham kini naik ke posisi ke-13 dengan 20 poin, menjauh dari zona degradasi dan bisa bernapas sedikit lega menjelang periode Natal dan Tahun Baru yang terkenal padat. Kemenangan tandang kedua musim ini juga mengirim pesan bahwa mereka bukan lagi tim yang mudah dipukul ketika bermain di luar kandang.
Untuk Burnley, kekalahan ini memperpanjang rangkaian hasil buruk menjadi tujuh kekalahan liga secara beruntun. Catatan itu disebut sebagai laju terburuk mereka di liga tertinggi sejak tahun 1895, sebuah angka yang otomatis memperbesar tekanan pada manajer Scott Parker. Tim kini tertahan di peringkat 19 dan terpaut lima poin dari zona aman, situasi yang membuat tiap laga ke depan terasa seperti final.
Secara psikologis, sulit membayangkan bagaimana ruang ganti Burnley setelah kekalahan ini. Mereka mampu mencetak dua gol, menciptakan tekanan di akhir laga, namun tetap gagal meraih poin. Kombinasi kebocoran di pertahanan, ketergantungan pada momen individu, dan kepercayaan diri yang menurun bisa menjadi bom waktu jika tidak segera diatasi.
Sebaliknya, ruang ganti Fulham pasti penuh senyum. Marco Silva bahkan mengaku terkejut ketika diberi tahu rekor buruk Fulham di Turf Moor: lebih dari 30 pertandingan tanpa kemenangan sejak 1951. Fakta bahwa skuad asuhannya mampu mematahkan rekor itu dengan cara yang cukup meyakinkan menjadi bahan bakar motivasi besar untuk sisa musim.
Penutup: Burnley 2-3 Fulham, Malam Bersejarah di Turf Moor
Pertandingan Burnley 2-3 Fulham akan diingat lama oleh kedua kubu. Untuk Fulham, ini adalah malam bersejarah ketika mereka akhirnya memecahkan kutukan Turf Moor dan menyuntikkan energi baru dalam perjuangan mengamankan posisi di papan tengah. Untuk Burnley, ini adalah alarm keras bahwa situasi mereka di Premier League sudah masuk fase kritis dan perubahan besar mungkin diperlukan jika ingin bertahan.
Di tengah semua drama, satu hal jelas: laga ini memberikan contoh sempurna bagaimana satu pertandingan bisa membawa konsekuensi besar. Bagi satu tim, kemenangan menjadi “power boost” untuk sisa musim. Bagi tim lain, kekalahan menjadikan angka di klasemen terasa semakin berat. Dan di antara itu semua, nama Harry Wilson akan selalu melekat sebagai pemain yang paling bersinar di malam ketika skor Burnley 2-3 Fulham mengubah sejarah kecil Premier League di Turf Moor.

