Lewandowski hingga Donnarumma, 6 Bintang Top Absen di Piala Dunia 2026

Foto close-up Dominik Szoboszlai, kapten timnas Hungaria dan pemain Liverpool, mengenakan jersey putih dengan latar belakang lapangan hijau.

 Piala Dunia 2026 dipastikan diikuti 48 tim yang akan bertanding di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, turnamen ini juga akan kehilangan sejumlah pemain bintang kelas dunia yang gagal membawa negaranya lolos.

Kepastian peserta didapat setelah babak play-off Eropa dan interkontinental rampung. Irak dan RD Kongo menjadi tim terakhir yang mengamankan tiket ke putaran final.

Di sisi lain, kegagalan sejumlah negara besar membuat banyak pemain top harus gigit jari. Timnas Italia menjadi salah satu yang paling mencolok setelah kembali gagal lolos untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Selain Italia, beberapa negara lain juga harus mengubur mimpi tampil di Piala Dunia 2026. Kondisi ini berdampak langsung pada absennya nama-nama besar di panggung sepak bola dunia.

Robert Lewandowski Gagal Tampil di Piala Dunia Terakhirnya

Kegagalan Polandia lolos ke putaran final memastikan Robert Lewandowski absen di turnamen ini. Timnya kalah 2-3 dari Swedia pada partai play-off yang menentukan.

Lewandowski dikenal sebagai salah satu striker terbaik generasinya dengan hampir 700 gol sepanjang karier. Pada usia 37 tahun, penyerang Barcelona itu kemungkinan sudah melewati kesempatan terakhir tampil di Piala Dunia.

Robert Lewandowski mengenakan jersey timnas Polandia dan masker pelindung wajah, tampak kecewa di lapangan setelah pertandingan
Mimpi Robert Lewandowski untuk menutup karier internasionalnya di Piala Dunia 2026 sirna setelah Polandia kalah dari Swedia di babak play-off.

Victor Osimhen Tersingkir Dramatis

Nigeria harus tersingkir setelah kalah adu penalti dari RD Kongo pada November lalu. Hasil ini membuat Victor Osimhen tidak bisa tampil di Amerika Utara.

Osimhen tampil tajam dalam beberapa musim terakhir sejak pindah ke Napoli, dan kini memperkuat Galatasaray. Ia bahkan membawa Napoli meraih gelar Serie A 2023 dengan kontribusi 26 gol.

Gianluigi Donnarumma Ikut Terseret

Kegagalan Italia menjadi pukulan besar bagi Gianluigi Donnarumma. Kiper utama itu tetap harus absen meski tampil konsisten di level klub.

Italia terakhir kali tampil di Piala Dunia pada 2014. Situasi ini memperpanjang penantian panjang negara dengan empat gelar juara tersebut.

Kiper timnas Italia Gianluigi Donnarumma dengan seragam hijau, memegang kepala dengan kedua tangan menunjukkan ekspresi kecewa di lapangan.
Gianluigi Donnarumma harus kembali mengubur mimpinya tampil di Piala Dunia setelah Italia gagal mengamankan tiket ke putaran final untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Dominik Szoboszlai Kehilangan Momentum

Hungaria gagal lolos setelah kalah dramatis dari Republik Irlandia. Mereka sempat unggul sebelum kebobolan di menit akhir dan masa tambahan waktu.

Dominik Szoboszlai yang tampil impresif bersama Liverpool harus menerima kenyataan pahit, padahal performanya sedang berada di level terbaik musim ini.

Rasmus Hojlund Gagal di Titik Penalti

Denmark tersingkir lewat adu penalti saat menghadapi Republik Ceko. Rasmus Hojlund menjadi salah satu penendang yang gagal menjalankan tugasnya.

Striker muda itu belum pernah tampil di Piala Dunia sepanjang kariernya. Kesempatan pada Piala Dunia 2026 pun kembali terlewatkan.

Ekspresi emosional pemain sepak bola di lapangan saat pertandingan kualifikasi, merepresentasikan kekecewaan timnas Denmark.
Penyesalan mendalam menyelimuti skuad Denmark setelah tersingkir di babak kualifikasi, membuat bintang muda Rasmus Hojlund harus menunda debutnya di panggung dunia.

Khvicha Kvaratskhelia Tak Lolos dari Grup Sulit

Georgia gagal bersaing di babak kualifikasi setelah tergabung dengan Spanyol dan Turki. Mereka harus puas finis di posisi ketiga.

Khvicha Kvaratskhelia sebenarnya tampil impresif dalam beberapa musim terakhir. Namun, ia tetap tidak bisa membawa negaranya tampil di turnamen terbesar sepak bola dunia ini.

Tragedi Skandinavia: Martin Ødegaard dan Erling Haaland

Kegagalan Norwegia melaju ke putaran final mungkin menjadi salah satu berita paling menyesakkan bagi penggemar sepak bola netral. Dua sosok ikonik Liga Inggris, Martin Ødegaard dan Erling Haaland, dipastikan hanya akan menjadi penonton saat rekan-rekan setimnya di level klub bertarung di Amerika Utara.

Haaland, yang terus memecahkan rekor gol di Manchester City, belum mampu mengangkat performa kolektif tim nasionalnya di panggung kualifikasi yang kompetitif. Kehilangan striker dengan insting predator seperti Haaland berarti Piala Dunia 2026 kehilangan salah satu magnet utama penonton. Sementara itu, Ødegaard, sang jenderal lapangan tengah Arsenal, juga harus menunda mimpinya untuk memimpin negaranya tampil di turnamen mayor pertama sejak Euro 2000.

Pudarnya Sihir Mohamed Salah

Dari zona Afrika, absennya Mesir menjadi luka mendalam bagi Mohamed Salah. Setelah kegagalan menyakitkan di edisi sebelumnya, harapan besar sempat dipikul Salah untuk membawa The Pharaohs kembali ke panggung dunia. Namun, ketatnya persaingan di zona CAF serta performa tim yang inkonsisten di laga-laga krusial membuat Salah kembali harus gigit jari. Bagi pemain yang telah mencapai segalanya di level klub bersama Liverpool, absen di Piala Dunia saat berada di penghujung usia emas tentu menjadi catatan pahit dalam karier internasionalnya.

Absennya Tembok Pertahanan Kokoh

Bukan hanya lini serang yang kehilangan tajinya, lini pertahanan dunia pun kehilangan sosok-sosok karismatik. David Alaba dipastikan absen setelah Austria gagal melewati babak kualifikasi yang sengit. Cedera panjang yang sempat membekapnya di Real Madrid turut memengaruhi kesiapannya memimpin tim nasional. Selain Alaba, bek tangguh Manchester City, Manuel Akanji, juga harus menelan pil pahit setelah Swiss secara mengejutkan tumbang di fase krusial.


Dampak Absennya Para Bintang terhadap Turnamen

Kehilangan pemain-pemain sekaliber Lewandowski, Haaland, hingga Donnarumma bukan sekadar kehilangan angka di atas kertas, melainkan kehilangan nilai hiburan dan prestise bagi turnamen itu sendiri. Piala Dunia adalah etalase bagi pemain terbaik di planet ini; ketika nama-nama besar ini absen, ada narasi yang terputus bagi jutaan penggemar global.

Namun, di balik kegagalan para raksasa ini, terselip sisi positif bagi perkembangan sepak bola dunia. Keberhasilan tim seperti Irak dan RD Kongo menunjukkan bahwa peta kekuatan sepak bola mulai merata. Ekspansi menjadi 48 tim memberikan ruang bagi “kekuatan baru” untuk menulis sejarah mereka sendiri, meskipun itu harus dibayar mahal dengan absennya beberapa ikon sepak bola modern yang kita kenal hari ini.

Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tetap akan menyuguhkan kemeriahan, namun bayang-bayang para bintang yang gagal lolos ini akan selalu menjadi pengingat betapa kejamnya jalan menuju takhta tertinggi sepak bola dunia.

Leave a Reply