Mike Hoppenbrouwers Ungkap Proses Cepat Perkuat Timnas Indonesia U-17 : Awalnya Lewat DM Instagram, Sempat Butuh Waktu Lama untuk Berpikir

Aksi Mike Rajasa Hoppenbrouwers bersama Timnas Indonesia U-17 (Instagram/mh.rajasa)

Kiper FC Utrecht U-17, Mike Rajasa Hoppenbrouwers, menceritakan prosesnya menerima tawaran untuk memperkuat Timnas Indonesia U-17 yang berlaga pada Piala Dunia U-17 2025.

duniabola.it.com, Jakarta – Kiper FC Utrecht U-17, Mike Rajasa Hoppenbrouwers, menceritakan prosesnya menerima tawaran untuk memperkuat Timnas Indonesia U-17 yang berlaga pada Piala Dunia U-17 2025.

Jika melihat prosesnya, Mike memang sejak awal tak menyangka bisa mencapai tahap ini. Sebab, dia pertama kali justru berhubungan dengan salah satu akun media sosial yang kerap membahas informasi mengenai pemain keturunan dan diaspora Indonesia.

Ketika itu, Mike hanya dimintai video cuplikan penampilannya bersama FC Utrecht U-17 di Belanda. Siapa sangka, dari proses tersebut, keberadaannya pun akhirnya bisa terpantau oleh pelatih Timnas Indonesia U-17 saat itu, Nova Arianto.

“Saya pertama kali dipanggil Timnas Indonesia U-17 saat liburan musim panas. Sebetulnya pemanggilan ini datang secara tak terduga. Sebab, ketika itu saya baru menjalani liburan dengan temanku,” ujar Mike dikutip dari kanal YouTube FC Utrecht.

“Saya tiba-tiba mendapatkan DM dari salah satu akun media sosial yang biasanya membagikan berita soal pemain berdarah Indonesia dan diaspora. Lalu, saya memberikan respons dan mengirimkan video-video penampilan saya,” lanjutnya.

Dapat Panggilan Timnas

Aksi Mike Rajasa Hoppenbrouwers bersama tim muda FC Utrecht (Instagram/mh.rajasa)
Aksi Mike Rajasa Hoppenbrouwers bersama tim muda FC Utrecht (Instagram/mh.rajasa)

Mike awalnya sempat ragu dengan peluang memperkuat Timnas U-17. Namun, ketika ibunya memberi tahu bahwa pihak federasi menghubungi mereka, dia pun akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti TC yang kala itu berlangsung di Bali.

“Setelah itu, saya memberi tahu ibu saya. Saya tidak tahu apakah ini adalah cara yang benar bagi saya untuk mendapatkan panggilan Timnas U-17, karena itu benar-benar hanya datang dari Instagram,” ujar pemain kelahiran 6 Februari 2009 itu.

“Saat itu, saya sedang dalam perjalanan menuju bandara, lalu ibu saya menelepon dan memberi tahu bahwa pihak federasi mengontak kami. Ibu bilang ketika saya pulang, saya harus segera berkemas dan terbang ke Bali untuk menjalani TC. Sejak saat itu, semuanya berjalan dengan sangat cepat,” tambah dia.

 

  • Dapat Panggilan Timnas: Menilik Aksi Mike Rajasa Hoppenbrouwers bersama Tim Muda FC Utrecht
Panggilan untuk membela tim nasional adalah puncak kebanggaan bagi setiap atlet. Bagi Mike Rajasa Hoppenbrouwers, kiper muda berbakat berdarah campuran Indonesia-Belanda,
panggilan dari PSSI untuk bergabung dengan skuad Garuda Muda U-17 adalah hasil dari dedikasi dan performa gemilangnya di kompetisi usia dini Eropa.
Fokus utama pemanggilannya tidak lepas dari pengalamannya bermain di level tertinggi akademi sepak bola Belanda, khususnya bersama FC Utrecht.
  • Mengasah Bakat di Jantung Belanda
Karier sepak bola Mike dimulai di salah satu kawah candradimuka terbaik di dunia, akademi Ajax Amsterdam, sejak usia U-9 hingga U-13.
Lingkungan yang sarat akan filosofi “Total Football” ini membentuk dasar teknik dan mentalitasnya sebagai penjaga gawang modern yang tidak hanya piawai menghalau bola, tetapi juga mahir menggunakan kakinya.
Namun, fase krusial dalam perkembangannya terjadi ketika ia pindah ke FC Utrecht. Di klub yang dikenal kuat dalam pengembangan pemain muda ini,
Mike mendapatkan menit bermain dan kepercayaan diri yang dibutuhkan. Saat ini, ia menjadi bagian integral dari tim FC Utrecht U-17 yang berlaga di kompetisi elit Belanda.
  • Aksi Konsisten di Bawah Mistar Utrecht
Di Utrecht, Mike Hoppenbrouwers dikenal sebagai kiper dengan postur ideal (1,85 meter) yang ditunjang oleh refleks cepat dan kemampuan membaca permainan yang matang.
Dalam berbagai aksinya di pertandingan liga junior Belanda, ia sering menunjukkan ketenangan yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Pelatih-pelatih di FC Utrecht memuji kemampuannya dalam duel udara dan distribusi bola yang akurat, menjadikannya aset berharga dalam skema permainan tim yang sering memulai serangan dari lini belakang.
Konsistensi performanya di level klub inilah yang akhirnya menarik perhatian pemandu bakat dan tim pelatih Timnas Indonesia U-17 yang saat itu sedang mencari pemain diaspora berkualitas.
  • Jalan Menuju Timnas Indonesia
PSSI, melalui program pencarian bakat di Eropa, memantau ketat perkembangan Mike. Keyakinan atas kualitasnya semakin kuat setelah melihat rekam jejaknya di Utrecht.
Pengalaman berkompetisi melawan tim-tim akademi terbaik di Belanda dianggap sebagai bekal berharga yang bisa ditransfer ke dalam skuad Garuda Muda.
Panggilan timnas ini menjadi jembatan bagi Mike untuk mewujudkan impian ibunya dan menyambung tali silaturahmi dengan tanah leluhurnya di Mamasa, Sulawesi Barat.
“Pengalaman bermain di FC Utrecht telah mempersiapkan saya secara fisik dan mental. Saya siap memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” ujar Mike, menyambut panggilan tersebut.
Kini, Mike Rajasa Hoppenbrouwers telah mengukir debutnya bersama Timnas Indonesia di kancah Piala Dunia U-17. Namun,
fondasi kuat yang membuatnya bisa berdiri di panggung dunia itu tetap berasal dari kerja keras dan aksi impresifnya bersama tim muda FC Utrecht di Belanda.

Butuh Waktu Berpikir

Mike merasa sangat tertarik karena skuad asuhan Nova Arianto
Mike merasa sangat tertarik karena skuad asuhan Nova Arianto

Sebetulnya, Mike merasa sangat tertarik karena skuad asuhan Nova Arianto ketika itu tengah bersiap menghadapi Piala Dunia U-17 2025. Namun, dia tetap membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan keputusan ini dengan matang.

“Saat Indonesia datang mengetuk pintu, saya sudah pernah menyaksikannya di televisi. Dan ketika mereka meminta saya bergabung dalam persiapan untuk Piala Dunia U-17 2025, saya tentu tak bisa mengatakan tidak,” ujar dia.

“Sejujurnya, saya belum pernah dipanggil Timnas Belanda di usia muda. Jadi, keputusan untuk menerima tawaran itu adalah sesuatu yang harus saya pikirkan dalam waktu yang lama,” lanjut pemain dengan tinggi 185 cm itu.

Keputusan seorang pemain muda yang besar di lingkungan sepak bola Eropa untuk memilih membela Tim Nasional Indonesia sering kali dilandasi oleh berbagai faktor,
mulai dari ikatan emosional hingga prospek karier. Bagi Mike Rajasa Hoppenbrouwers, penjaga gawang muda FC Utrecht,
salah satu daya tarik terkuat yang membuatnya mantap memilih Merah Putih adalah visi dan filosofi yang diusung oleh pelatih kepala Timnas U-17, Nova Arianto.
  • Visi Jangka Panjang Sang Pelatih
Nova Arianto, yang dikenal dengan latar belakangnya sebagai asisten pelatih Shin Tae-yong di timnas senior, membawa pendekatan modern dalam melatih skuad muda.
Mike, yang terbiasa dengan metode latihan di akademi top Belanda seperti Ajax dan Utrecht, menemukan adanya kesamaan filosofi yang membuatnya
yakin bahwa Timnas Indonesia U-17 adalah tempat yang tepat untuk mengembangkan potensinya.
“Ketika saya berkomunikasi dengan tim pelatih,
terutama coach Nova, saya merasakan adanya visi yang jelas mengenai bagaimana sepak bola harus dimainkan,” ungkap Mike. “Pendekatan mereka terhadap taktik, disiplin, dan pengembangan pemain muda sangat menarik bagi saya.”
  • Kesamaan Filosofi Permainan Modern
Di bawah asuhan Nova Arianto, Timnas U-17 tidak hanya fokus pada hasil instan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan gaya bermain yang adaptif.
Gaya permainan yang menekankan penguasaan bola, transisi cepat, dan peran aktif penjaga gawang dalam build-up serangan sangat sesuai dengan apa yang Mike pelajari di Eropa.
Bagi Mike, yang memiliki kemampuan distribusi bola mumpuni, filosofi ini menjadi nilai tambah yang signifikan. Ia melihat adanya keseriusan dari staf pelatih untuk menerapkan standar internasional dalam tim muda Indonesia.
  • Faktor Krusial dalam Pengambilan Keputusan
Dalam proses memilih antara Belanda atau Indonesia, faktor pelatih seringkali menjadi penentu. Lingkungan yang diciptakan oleh Nova Arianto,
yang dikenal tegas namun suportif, memberikan keyakinan bagi Mike dan keluarganya bahwa sang pemain akan berada di tangan yang tepat.
Ketertarikan Mike yang mendalam terhadap proyek timnas di bawah Nova Arianto menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia kini semakin profesional dan menarik bagi talenta-talenta diaspora.
Ini adalah sinyal positif bahwa visi pelatih kepala menjadi magnet kuat yang mampu meyakinkan pemain muda berbakat untuk pulang dan membela panji Merah Putih.
Bagi Mike Hoppenbrouwers, panggilan timnas bukan hanya tentang bermain di Piala Dunia U-17, tetapi juga tentang menjadi bagian dari fondasi kuat yang sedang dibangun oleh Nova Arianto untuk masa depan sepak bola Indonesia.

Merasa Sangat Bangga

Timnas Indonesia U-17
Timnas Indonesia U-17

Tawaran untuk membela Timnas Indonesia U-17 pada akhirnya disambut dengan gembira dan bangga, tak hanya oleh kedua orang tuanya, tetapi juga keluarga besarnya. Inilah yang membuat Mike mantap untuk mengambil keputusan memperkuat Garuda Muda.

“Keluarga saya sangat bangga, terutama ibu saya yang berasal dari Indonesia. Ayah saya juga sama. Dia memang sangat senang melihat saya bermain sepak bola. Saya merasa sangat bangga bisa memperkuat negara dengan sepak bola yang besar.”

“Tentu saja keluarga besar saya yang berasal dari Indonesia, mereka juga gembira. Saya pun menerima banyak pesan mengharukan. Ya, itulah yang membuat saya lebih mudah untuk mengambil keputusan ini,” ujar dia.

 

Ukir Laga Perdana

Mike Rajasa Hoppenbrouwers
Mike Rajasa Hoppenbrouwers

Mike Rajasa Hoppenbrouwers memang harus menunggu cukup lama untuk bisa mengukir penampilan resminya bersama Timnas Indonesia U-17. Sebab, dia sempat dibangkucadangkan Nova Arianto pada dua laga perdana Grup H.

Pasalnya, Mike harus bersaing dengan kiper utama Timnas U-17, Dafa Al Gasemi. Dafa memang sudah cukup lama jadi andalan Nova, bahkan saat masih memperkuat Timnas Indonesia U-16 di Piala AFF U-16 2024.

Kesempatan bermain pun baru tiba pada laga ketiga menghadapi Honduras U-17. Yang spesial, debut Mike bersama Garuda Muda berakhir dengan kemenangan bersejarah dengan skor 2-1.

Ini menjadi kemenangan pertama Indonesia di panggung Piala Dunia U-17.

 

  • Ukir Laga Perdana: Debut Emosional Mike Hoppenbrouwers Bersama Timnas U-17
Bagi banyak pemain muda, Piala Dunia adalah puncak impian. Bagi Mike Rajasa Hoppenbrouwers, turnamen U-17 di Qatar menjadi panggung untuk mengukir sejarah pribadi yang mendalam:
debut internasional pertamanya, bukan untuk negara kelahirannya Belanda, melainkan untuk Indonesia, tanah leluhurnya.
  • Dari Ajax ke Garuda di Dada
Lahir di Amsterdam pada 6 Februari 2009, Mike tumbuh dalam lingkungan sepak bola Eropa yang disiplin. Ia mengasah bakatnya di akademi ternama seperti Ajax U-9 hingga U-13,
sebelum akhirnya berlabuh di FC Utrecht U-17, klubnya saat ini. Dengan tinggi 1,85 meter, postur idealnya sebagai penjaga gawang membuatnya menonjol sejak dini.
Namun, di balik seragam klub Belanda, mengalir darah Indonesia dari sang ibunda yang berasal dari Mamasa, Sulawesi Barat. Panggilan untuk membela Merah Putih datang, dan Mike menyambutnya dengan antusias.
“Ini adalah kesempatan besar bagi saya untuk terhubung dengan akar budaya saya dan merasakan langsung dukungan luar biasa dari para penggemar Indonesia,” ungkap Mike beberapa waktu lalu.
  • Momen Laga Perdana
Puncak penantian itu tiba di turnamen U-17. Dalam pertandingan melawan Honduras, pelatih timnas Indonesia U-17 memberikan kepercayaan penuh kepada Mike.
Momen saat ia melangkah ke lapangan untuk pertama kalinya dengan lambang Garuda di dada adalah momen yang penuh emosi dan kebanggaan.


Leave a Reply