Harga Tiket Piala Dunia 2026 Melonjak Tajam dan Memicu Kemarahan Para Fans

Harga Tiket Piala Dunia 2026 Melonjak Tajam

DuniaBola – Gelombang protes terus bermunculan dari berbagai komunitas pendukung sepak bola setelah harga tiket FIFA World Cup 2026 memasuki fase penjualan terbaru. Kenaikan harga yang disebut “ekstrem”, “tak masuk akal”, dan “pengkhianatan monumental” membuat banyak penggemar merasa terpinggirkan dari turnamen yang seharusnya menjadi pesta sepak bola seluruh dunia.


1. Awal Mula Polemik: Ketika Harga Tiket Tak Sesuai Janji

Kontroversi memuncak ketika fans mengetahui bahwa harga tiket yang dibagikan melalui alokasi asosiasi nasional jauh lebih tinggi daripada kisaran harga yang selama ini disampaikan FIFA.
FIFA sebelumnya mempromosikan bahwa tiket fase grup akan tersedia mulai $60, sementara tiket final “hanya” sekitar $6.700. Namun data asli yang beredar menunjukkan nominal jauh melampaui perkiraan itu.

📌Harga Tiket dalam IDR

Fase Grup: $180–$700

  • $180 × 16.000 = Rp 2.880.000

  • $700 × 16.000 = Rp 11.200.000

➡️ Rp 2,88 juta – Rp 11,2 juta

Babak Knockout

(Harga bervariasi, “naik bertahap”, jadi tinggal menyesuaikan rentang USD jika ingin spesifik.)

Semifinal: $920–$1.125

  • $920 × 16.000 = Rp 14.720.000

  • $1.125 × 16.000 = Rp 18.000.000

➡️ Rp 14,72 juta – Rp 18 juta

Final: $4.185–$8.680

  • $4.185 × 16.000 = Rp 66.960.000

  • $8.680 × 16.000 = Rp 138.880.000

➡️ Rp 66,96 juta – Rp 138,88 juta

Sementara itu, beberapa situs pasar sekunder bahkan mulai menawarkan tiket final dengan harga lebih dari $11.000, jauh di atas estimasi awal.

Perbedaan besar antara janji awal FIFA dan harga aktual inilah yang memicu kemarahan besar.


2. Fans Menyebutnya Pengkhianatan Besar

Kelompok pendukung fans terbesar di Eropa, Football Supporters Europe (FSE), tidak tinggal diam. Mereka menuduh FIFA melakukan “pengkhianatan monumental” dan menyerukan agar penjualan tiket dihentikan sementara, menuntut peninjauan ulang struktur harga.

Menurut FSE dan asosiasi fans lainnya:

  • Harga tiket melambung di luar jangkauan fans biasa

  • Banyak kategori harga “terendah” hilang atau jumlahnya sangat sedikit

  • Kebijakan dynamic pricing membuat harga tidak stabil dan sulit diprediksi

  • Fans merasa FIFA lebih memprioritaskan keuntungan komersial dibanding aksesibilitas turnamen bagi masyarakat

Salah satu pernyataan paling keras dari para fans adalah bahwa Piala Dunia kini “berubah dari festival inklusif menjadi ajang eksklusif untuk yang mampu membayar mahal”.


3. Model Harga Dinamis: Inovasi atau Strategi Kontroversial?

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA menerapkan dynamic pricing, sebuah sistem yang membuat harga tiket dapat naik atau turun berdasarkan permintaan. Kebijakan ini umum di konser dan beberapa liga olahraga, tetapi belum pernah diterapkan dalam turnamen bola terbesar dunia.

Menurut FIFA, tujuan sistem ini adalah:

  • Menyesuaikan harga dengan permintaan global

  • Memberikan fleksibilitas lebih bagi fans

  • Meminimalkan dominasi pasar gelap

Namun, fans menilai kenyataannya justru sebaliknya:

  • Harga terus naik karena permintaan sangat tinggi

  • Transparansi rendah

  • Sulit bagi fans dengan anggaran terbatas untuk memprediksi biaya perjalanan

Banyak pendukung menyoroti bahwa Piala Dunia seharusnya bukan tempat bereksperimen dengan model harga seperti acara komersial lainnya.


4. Beban Besar untuk Fans Internasional

Keluhan terbesar bukan hanya soal tiket, tetapi soal total biaya perjalanan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia digelar di tiga negara dengan jarak antar kota yang sangat jauh, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Menurut laporan Reuters, harga yang tinggi “berpotensi membuat fans tidak dapat mengikuti tim mereka sepanjang turnamen” karena total biaya yang sangat besar.

Faktor yang memperberat:

  • Harga hotel di kota besar Amerika naik signifikan selama periode turnamen

  • Tiket pesawat antar negara selama turnamen sangat mahal

  • Transportasi lokal dan biaya kebutuhan harian di Amerika Serikat jauh lebih tinggi dibanding tuan rumah sebelumnya

Jika seorang fans mengikuti tim favorit dari fase grup hingga final, total biaya bisa mencapai:

  • Pembelian tiket ± 5–8 pertandingan

  • Tiket pesawat antar kota/negara

  • Hotel selama hampir satu bulan

  • Konsumsi dan transportasi harian

Beberapa fans menilai keseluruhan pengalaman bisa menelan biaya lebih dari $15.000–$20.000, menjadikannya Piala Dunia termahal sepanjang sejarah.


5. Pendaftaran Lotere Tiket: Antrean Panjang dan Harapan Tipis

Meskipun gelombang kritik semakin besar, fase penjualan tiket tetap berlangsung. Fans masih mencoba mendapatkan kursi mereka melalui:

  • Random Selection Draw (undian acak)

  • Penjualan langsung

  • Alokasi asosiasi nasional

Menurut laporan dari TheScore, proses pendaftaran sangat membludak, antrean online panjang, dan banyak fans yang gagal mendapatkan tiket meski telah menunggu berjam-jam.

Beberapa pengguna media sosial melaporkan:

  • Server sering penuh

  • Opsi kategori murah cepat “sold out”

  • Sistem merasa tidak adil karena fans dengan anggaran kecil sulit mendapatkan kesempatan yang sama

Bahkan untuk pertandingan fase grup di stadion kecil, tiket “termurah” tetap dianggap tidak terjangkau bagi banyak penggemar.


6. Gelombang Kritik dari Media Internasional

Kontroversi tiket ini menarik banyak perhatian media dunia.
AP News menyebut kebijakan harga sebagai “bahan bakar kemarahan fans global”.
Financial Times menekankan bahwa “harga tiket yang tidak masuk akal telah memicu perdebatan serius tentang arah masa depan FIFA”.

Sports Illustrated bahkan menyoroti bahwa harga tiket final telah mencapai level “menginspirasi serangan dan kritik sengit terhadap FIFA”.

Semua media sepakat pada satu hal: Harga tiket kali ini bukan sekadar mahal, tetapi berada di level yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola modern.


7. Bagaimana Respons FIFA?

Hingga kini, FIFA tetap bertahan dengan model harga barunya. Mereka menyebut bahwa:

  • Harga tiket “tetap kompetitif untuk pasar Amerika Utara”

  • Sistem dynamic pricing memberi fleksibilitas bagi fans

  • Banyak tiket kategori terendah tersedia, hanya saja cepat habis
    Namun tudingan fans bahwa tiket murah “sengaja dibuat sangat sedikit” masih menjadi perdebatan besar.

FIFA belum menunjukkan tanda akan meninjau ulang harga, meskipun organisasi fans besar menuntut penghentian penjualan.


8. Masa Depan Akses Fans ke Piala Dunia

Banyak analis memperingatkan bahwa jika tren harga ini terus meningkat, pengalaman menyaksikan Piala Dunia langsung akan menjadi privilege, bukan lagi tradisi universal.

Isu ini juga menimbulkan pertanyaan lebih besar:

  • Apakah Piala Dunia sedang bergerak menuju arah hiper-komersialisasi?

  • Apakah fans dari negara berkembang akan semakin tersingkir?

  • Apakah sistem harga dinamis cocok untuk turnamen global?

Untuk saat ini, kontroversi harga tiket masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi FIFA dalam menyambut Piala Dunia 2026.


Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi ajang paling inklusif dalam sejarah, mengingat jumlah peserta bertambah dan gelar “turnamen terbesar sepanjang masa” disematkan padanya. Namun kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik: fans merasa harga tiket terlalu tinggi, akses terbatas, dan kebijakan penjualan kurang transparan.

Dengan gelombang kritik yang belum mereda, FIFA berada di bawah sorotan tajam: apakah mereka akan menegaskan kebijakan harga baru, atau mendengar suara jutaan pencinta sepak bola di seluruh dunia? Saat ini, jawaban itu belum jelas — tetapi tekanan publik terus meningkat.

Leave a Reply