Chelsea vs Bournemouth 2-2 Drama di Stamford Bridge: Analisis Mendalam Hasil Imbang

Chelsea vs Bournemouth 2-2 Drama di Stamford Bridge: Analisis Mendalam Hasil Imbang

Drama di Stamford Bridge: Analisis Mendalam Hasil Imbang Chelsea vs Bournemouth

Oleh: Analis Bola Terpercaya Lokasi: London, Inggris

Pertandingan pekan ini di Liga Inggris menyajikan salah satu tontonan paling menarik namun sekaligus menjengkelkan bagi para pendukung tuan rumah. Chelsea, yang sedang dalam misi membangun kembali kejayaan mereka, harus menerima kenyataan pahit bahwa penguasaan bola yang dominan tidak selalu berujung pada kemenangan. Di sisi lain, Bournemouth menunjukkan kepada dunia bahwa efisiensi dan serangan balik yang terorganisir adalah senjata mematikan bagi tim-tim besar yang lengah. Chelsea

Skor akhir 2-2 mencerminkan sebuah pertandingan yang terbagi menjadi dua narasi: dominasi statistik Chelsea melawan efektivitas serangan Bournemouth. Chelsea

1. Anatomi Gol: Aksi Balas-Membalas di Babak Pertama

Pertandingan baru berjalan enam menit ketika publik Stamford Bridge terbungkam. David Brooks berhasil memanfaatkan celah di lini pertahanan Chelsea yang tampak belum sepenuhnya fokus di awal laga. Gol ini lahir dari transisi cepat yang menjadi ciri khas Bournemouth di bawah asuhan pelatih mereka. Brooks dengan tenang menaklukkan kiper Chelsea setelah menerima umpan terobosan yang membelah lini tengah. Chelsea

Chelsea tidak tinggal diam. Didorong oleh dukungan suporter, mereka mulai mengurung pertahanan The Cherries. Pada menit ke-15, sebuah pelanggaran di kotak terlarang memberikan kesempatan emas bagi Cole Palmer. Pemain muda yang menjadi tumpuan harapan Chelsea ini maju sebagai algojo penalti. Dengan ketenangan luar biasa, Palmer mengarahkan bola ke pojok gawang, membuat skor menjadi 1-1. Chelsea

Momentum beralih sepenuhnya ke tuan rumah. Menit ke-23, Enzo Fernández menunjukkan kelasnya sebagai pemenang Piala Dunia. Melalui skema serangan yang rapi, Enzo berhasil melepaskan tembakan yang gagal dihalau kiper Bournemouth. Chelsea berbalik unggul 2-1 dan tampaknya akan memenangkan laga dengan mudah. Chelsea

Namun, Bournemouth membuktikan bahwa mereka memiliki mental baja. Hanya berselang empat menit setelah gol Enzo, tepatnya di menit ke-27, Justin Kluivert muncul sebagai pahlawan tim tamu. Memanfaatkan kelengahan koordinasi bek Chelsea, Kluivert menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Kecepatan reaksi Bournemouth dalam merespons gol lawan menjadi poin krusial dalam pertandingan ini. Chelsea

2. Bedah Statistik: Dominasi Semu The Blues

Jika kita hanya melihat statistik di atas kertas tanpa melihat skor akhir, siapa pun akan mengira Chelsea memenangkan pertandingan ini dengan selisih gol yang besar. Mari kita bedah data yang tersaji:

Penguasaan Bola dan Alur Operan

Chelsea mencatatkan 67% penguasaan bola. Angka ini menunjukkan bahwa selama hampir dua pertiga durasi pertandingan, bola berada di kaki pemain Chelsea. Dengan total 525 operan dan tingkat akurasi mencapai 89%, Chelsea sukses membangun permainan dari belakang ke depan dengan sangat rapi. Enzo Fernández dan kolega di lini tengah sangat dominan dalam mengatur ritme.

Namun, masalahnya terletak pada efektivitas. Bournemouth, dengan hanya 33% penguasaan bola dan 259 operan, justru mampu menciptakan peluang yang lebih berbahaya. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar bagi strategi tuan rumah: apakah penguasaan bola yang tinggi tersebut benar-benar progresif, atau hanya sekadar operan lateral yang tidak melukai lawan?

Chelsea handed VAR verdict after penalty decision vs Bournemouth -  football.london

Ancaman di Depan Gawang

Inilah statistik yang paling mencolok. Chelsea melepaskan 19 tembakan, namun hanya 4 yang tepat sasaran (on target). Artinya, akurasi tembakan Chelsea sangat buruk. Banyak peluang yang terbuang karena penyelesaian akhir yang terburu-buru atau blokade dari barisan pertahanan Bournemouth yang tampil disiplin.

Sebaliknya, Bournemouth tampil sangat tajam. Dari 17 tembakan yang mereka lepaskan, 7 di antaranya tepat sasaran. Ini berarti hampir setiap serangan Bournemouth membawa ancaman nyata bagi kiper Chelsea. Efisiensi ini adalah kunci mengapa Bournemouth mampu mencuri satu poin meski ditekan habis-habisan.

Set-Piece dan Tendangan Sudut

Chelsea mendapatkan 12 tendangan sudut, berbanding hanya 3 milik Bournemouth. Dalam sepak bola modern, 12 tendangan sudut seharusnya bisa menghasilkan setidaknya satu gol. Ketidakmampuan Chelsea memaksimalkan situasi bola mati menunjukkan kurangnya variasi serangan atau buruknya penempatan posisi pemain di dalam kotak penalti saat situasi udara.

3. Analisis Taktik: Mengapa Chelsea Gagal Menang?

Ada beberapa faktor taktis yang menyebabkan Chelsea gagal mengamankan tiga poin:

  1. Lini Pertahanan yang Terlalu Tinggi: Strategi Chelsea untuk menekan ke depan membuat garis pertahanan mereka sangat tinggi. Bournemouth memanfaatkan hal ini dengan menempatkan pemain cepat seperti Kluivert untuk mengeksploitasi ruang di belakang bek.

  2. Kurangnya Target Man yang Klinis: Meskipun memiliki Cole Palmer yang kreatif, Chelsea tampak merindukan sosok striker murni yang bisa mengonversi peluang-peluang kecil menjadi gol di tengah kemelut kotak penalti.

  3. Disiplin Bournemouth: Bournemouth bermain dengan blok pertahanan rendah yang sangat rapat. Mereka membiarkan Chelsea menguasai bola di area tengah, namun menutup semua ruang tembak di area penalti.

4. Performa Individu Kunci

  • Cole Palmer (Chelsea): Kembali membuktikan bahwa dia adalah pusat gravitasi serangan Chelsea. Gol penaltinya menunjukkan mentalitas pemimpin di usia muda.

  • Enzo Fernández (Chelsea): Mengatur aliran bola dengan sangat baik. Golnya adalah buah dari visinya yang tajam. Namun, ia juga memiliki tugas berat untuk menyeimbangkan transisi saat tim kehilangan bola.

  • Justin Kluivert (Bournemouth): Menjadi momok menakutkan bagi bek sayap Chelsea. Kecepatannya dalam serangan balik adalah kunci efisiensi tim tamu.

5. Dampak ke Klasemen dan Masa Depan

Hasil imbang 2-2 ini tentu menjadi kerugian bagi Chelsea dalam persaingan menuju zona Eropa. Kehilangan dua poin di kandang melawan tim yang secara statistik berada di bawah mereka adalah pukulan telak. Sementara itu, bagi Bournemouth, hasil ini memperpanjang tren positif mereka sebagai tim “Giant Killer” yang sulit dikalahkan.


Analisis Mendalam: Drama Empat Gol di London Stadium, Efisiensi West Ham vs Dominasi Brighton yang Berakhir Antiklimaks

Oleh: Editor Olahraga

Pertandingan pekan ini di Liga Inggris menyajikan salah satu tontonan paling menarik musim ini saat West Ham United menjamu Brighton & Hove Albion. Laga yang berakhir dengan skor imbang 2-2 ini bukan sekadar soal berbagi satu poin, melainkan sebuah pertunjukan kontras filosofi sepak bola antara gaya pragmatis David Moyes dan pendekatan berbasis penguasaan bola yang menjadi ciri khas Brighton.


1. Narasi Sebelum Pertandingan: Duel Dua Tim Papan Tengah ke Atas

Sebelum peluit pertama dibunyikan, atmosfer di London Stadium sudah sangat panas. West Ham masuk ke pertandingan ini dengan misi mengamankan posisi di zona kompetisi Eropa. Dengan dukungan penuh dari para penggemar setia mereka, The Hammers diharapkan mampu mengintimidasi tamu mereka dari pesisir selatan.

Namun, Brighton bukan tim sembarangan. Di bawah asuhan manajer mereka yang progresif, Brighton telah menjelma menjadi salah satu tim yang paling sulit dihadapi di Liga Inggris karena kemampuan mereka mendikte tempo permainan. Pertandingan ini diprediksi akan menjadi ujian sejauh mana lini pertahanan West Ham mampu menahan gempuran serangan terstruktur Brighton.


2. Babak Pertama: Momentum Cepat dan Keunggulan Tuan Rumah

West Ham memulai laga dengan intensitas tinggi. Mereka tidak butuh waktu lama untuk membakar semangat tribun penonton.

Kejutan Jarrod Bowen (10′)

Gol pembuka datang di menit ke-10. Melalui sebuah transisi cepat yang menjadi senjata andalan mereka, Jarrod Bowen berhasil meloloskan diri dari pengawalan bek Brighton. Dengan ketenangan luar biasa, Bowen menaklukkan kiper lawan dan mengubah skor menjadi 1-0. Gol ini menegaskan status Bowen sebagai salah satu penyerang sayap paling berbahaya di liga saat ini. Kecepatannya dalam mengeksploitasi ruang kosong di belakang garis pertahanan lawan menjadi kunci utama.

Respon Brighton dan Penalti Danny Welbeck (32′)

Ketinggalan satu gol tidak membuat Brighton panik. Mereka tetap setia pada skema permainan operan pendek. Dominasi mereka membuahkan hasil di menit ke-32. Sebuah pelanggaran di dalam kotak terlarang membuat wasit menunjuk titik putih. Danny Welbeck, striker berpengalaman yang pernah membela Manchester United dan Arsenal, maju sebagai eksekutor. Dengan penuh kepercayaan diri, ia menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Drama Masa Injury Time: Lucas Paquetá (45+4′)

Saat babak pertama tampaknya akan berakhir imbang, sebuah drama terjadi di masa injury time. Pelanggaran kembali terjadi di area penalti Brighton. Bintang asal Brasil, Lucas Paquetá, mengambil tanggung jawab tersebut. Dengan gaya khasnya yang penuh teknik, ia berhasil membawa West Ham kembali unggul 2-2 sesaat sebelum turun minum. Skor ini memberikan keunggulan psikologis yang besar bagi tuan rumah saat memasuki ruang ganti.


3. Babak Kedua: Tekanan Tanpa Henti dari The Seagulls

Memasuki babak kedua, pola permainan berubah secara drastis. Brighton tampil sangat dominan, seolah-olah mereka adalah tuan rumahnya.

Gol Penyeimbang Joël Veltman (61′)

Terus ditekan, pertahanan West Ham akhirnya retak juga pada menit ke-61. Bek kanan Brighton, Joël Veltman, naik membantu serangan dan berhasil memanfaatkan kemelut di depan gawang. Gol ini merubah skor menjadi 2-2. Keberhasilan Veltman mencetak gol menunjukkan betapa dinamisnya pergerakan pemain Brighton, di mana bek pun memiliki lisensi untuk masuk ke area berbahaya.


4. Bedah Statistik: Mengapa Skor 2-2 Terasa Tidak Adil bagi Brighton?

West Ham United vs Brighton & Hove Albion LIVE: Premier League result,  final score and reaction | The Independent

Jika kita melihat angka-angka di atas kertas, Brighton seharusnya bisa memenangkan pertandingan ini dengan selisih gol yang cukup lebar.

Dominasi Penguasaan Bola (40% vs 60%)

Angka 60% penguasaan bola bagi Brighton di kandang West Ham adalah pernyataan yang kuat. Mereka berhasil “mencuri bola” dari tuan rumah dan memaksa West Ham bermain menunggu di area pertahanan sendiri.

Efisiensi Tembakan

  • Brighton: 17 Tembakan (8 ke arah gawang)

  • West Ham: 9 Tembakan (4 ke arah gawang)

Brighton menciptakan hampir dua kali lipat peluang dibandingkan West Ham. Namun, masalah penyelesaian akhir tetap menjadi PR besar bagi mereka. Delapan tembakan tepat sasaran hanya berbuah dua gol, berkat performa gemilang kiper West Ham di bawah mistar.

Akurasi Operan (77% vs 89%)

Akurasi operan sebesar 89% menunjukkan tingkat teknis yang sangat tinggi. Brighton melakukan 462 operan yang sangat terukur, sementara West Ham hanya melakukan 342 operan dengan akurasi yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa West Ham lebih banyak mengandalkan bola-bola panjang dan serangan balik langsung, daripada membangun serangan dari bawah.


5. Analisis Disiplin: Laga yang Keras dan Penuh Kontak

Wasit harus bekerja ekstra keras dalam pertandingan ini. Total 8 kartu kuning menunjukkan betapa tingginya tensi pertandingan. Brighton mengoleksi 5 kartu kuning dengan 17 pelanggaran, sebuah statistik yang cukup mengejutkan mengingat mereka adalah tim yang lebih banyak menguasai bola. Hal ini biasanya terjadi karena pemain melakukan tactical foul untuk menghentikan serangan balik cepat West Ham yang dipimpin oleh Paquetá dan Bowen.


6. Dampak Terhadap Klasemen dan Masa Depan

Bagi West Ham, hasil imbang ini adalah sebuah kerugian tipis karena mereka gagal mempertahankan keunggulan dua kali. Namun, mereka bisa mengambil pelajaran berharga mengenai ketahanan mental saat ditekan habis-habisan.

Bagi Brighton, poin satu di London Stadium adalah hasil yang solid, meskipun mereka mungkin merasa pantas mendapatkan lebih. Gaya bermain mereka kembali mendapat pujian dari para analis sepak bola, memperkuat reputasi mereka sebagai tim “Giant Killer” yang memiliki identitas bermain paling jelas di liga.


Kesimpulan: Sepak Bola yang Menghibur

Pertandingan West Ham vs Brighton ini mengingatkan kita mengapa Liga Inggris adalah liga terbaik di dunia. Skor 2-2 mencerminkan keseimbangan antara bakat individu (West Ham) dan sistem tim yang solid (Brighton). Jarrod Bowen, Danny Welbeck, Lucas Paquetá, dan Joël Veltman semuanya memberikan warna dalam pertandingan yang akan dikenang sebagai salah satu duel taktis terbaik musim ini.

Profil Mendalam Para Pencetak Gol: Sang Penentu Momentum

Setiap gol dalam pertandingan ini lahir dari profil pemain yang memiliki karakteristik berbeda, mulai dari talenta lokal Inggris hingga kreativitas ala Samba.

1. Jarrod Bowen (West Ham United – 10′)

Bowen telah bertransformasi dari pemain sayap berbakat di kasta bawah menjadi ujung tombak mematikan di Liga Inggris. Golnya pada menit ke-10 bukan sebuah kebetulan.

  • Karakteristik: Dikenal dengan julukan the tireless worker, Bowen memiliki insting “pencuri ruang”. Ia tidak butuh banyak sentuhan untuk mencetak gol.

  • Peran dalam Tim: Di bawah asuhan David Moyes, Bowen adalah outlet utama dalam transisi. Kemampuannya melakukan cutting inside dari sisi kanan menggunakan kaki kirinya merupakan ancaman permanen yang membuat bek sayap Brighton, Pervis Estupiñán, harus bekerja ekstra keras.

2. Danny Welbeck (Brighton – 32′)

Welbeck adalah definisi dari pemain senior yang memiliki kecerdasan posisi (positional awareness) yang luar biasa.

  • Karakteristik: Meskipun sering diterpa cedera sepanjang kariernya, “Dat Guy Welbeck” tetap menjadi momok karena kemampuannya menahan bola (hold-up play) dan memancing bek lawan keluar dari posisinya.

  • Eksekusi Penalti: Ketenangannya saat mengeksekusi penalti menunjukkan kematangan mentalnya. Di tengah tekanan ribuan pendukung West Ham, Welbeck mampu menipu kiper dengan penempatan bola yang akurat.

3. Lucas Paquetá (West Ham United – 45+4′)

Pemain asal Brasil ini adalah jantung kreativitas West Ham. Paquetá membawa elemen “joga bonito” ke dalam fisik keras Liga Inggris.

  • Karakteristik: Ia adalah playmaker modern. Selain memiliki visi operan yang jenius, ia juga tidak segan melakukan tekel keras.

  • Momen Gol: Mencetak gol penalti di masa injury time membutuhkan saraf baja. Paquetá menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin teknis di lapangan yang siap mengambil tanggung jawab di saat kritis.

4. Joël Veltman (Brighton – 61′)

Veltman adalah sosok yang sering kali tidak mendapat sorotan (unsung hero), namun gol penyeimbangnya membuktikan betapa pentingnya ia dalam skema ofensif Brighton.

  • Karakteristik: Jebolan akademi Ajax ini memiliki pemahaman taktik yang sangat disiplin. Sebagai bek, ia sangat tenang dalam penguasaan bola, sejalan dengan filosofi Brighton yang membangun serangan dari belakang.

  • Insting Ofensif: Golnya lahir dari kemampuannya membaca arah bola muntah. Ini membuktikan bahwa dalam sistem Brighton, siapa pun—termasuk bek—diberikan kebebasan untuk menyerang kotak penalti jika situasi memungkinkan.

Analisis Taktik: Catur Manajerial di Pinggir Lapangan

Pertandingan ini bukan hanya duel fisik, tapi juga adu kecerdasan antara David Moyes dan Fabian Hürzeler (atau manajer Brighton saat itu).

Strategi David Moyes (West Ham)

Moyes menerapkan pendekatan “Low Block & Fast Break”. Dengan penguasaan bola yang hanya 40%, ia sengaja memberikan area tengah kepada Brighton dan menunggu mereka melakukan kesalahan.

  • Taktik Bertahan: Moyes menginstruksikan pemainnya untuk menumpuk pemain di area kotak penalti sendiri, memaksa Brighton melakukan umpan silang yang bisa dengan mudah dipatahkan oleh bek tengah West Ham yang tinggi besar.

  • Pergantian Pemain: Menjelang akhir laga, Moyes biasanya memasukkan pemain dengan fisik kuat untuk mengamankan poin. Namun, keterlambatan dalam menyegarkan lini tengah membuat Brighton terus mendominasi hingga menit akhir.

Strategi Manajer Brighton

Brighton menggunakan formasi yang sangat cair, seringkali berubah menjadi 2-3-5 saat menyerang.

  • Overload di Lini Tengah: Dengan menempatkan banyak pemain di tengah, mereka memenangkan pertarungan lini tengah (akurasi operan 89%). Ini memaksa West Ham untuk terus berlari mengejar bola, yang pada akhirnya menguras stamina pemain tuan rumah di 20 menit terakhir.

  • Pergantian Pemain yang Berani: Melihat timnya tertinggal di babak pertama, manajer Brighton melakukan pergantian yang meningkatkan intensitas serangan. Masuknya pemain sayap yang segar memberikan lebar lapangan yang lebih luas, sehingga merenggangkan pertahanan rapat West Ham. Gol Veltman adalah hasil dari tekanan beruntun yang diciptakan oleh penyegaran taktik ini.

Kesimpulan Taktis

Pertandingan berakhir imbang karena kedua manajer berhasil menetralisir keunggulan satu sama lain. Moyes berhasil dengan efisiensinya, sementara Brighton berhasil dengan dominasi sirkulasi bolanya. Skor 2-2 adalah refleksi adil dari pertarungan antara kekuatan fisik melawan kecerdasan posisi.


Arsenal Tampil Ganas, Libas Aston Villa 4-1 di Emirates

LONDON – Arsenal menunjukkan dominasi luar biasa saat menjamu Aston Villa dalam lanjutan Liga Inggris hari ini. Meski kalah dalam penguasaan bola, efektivitas serangan pasukan Meriam London terbukti mematikan dengan skor akhir telak 4-1.

Jalannya Pertandingan

Pertandingan berlangsung sengit sejak awal, namun keran gol baru terbuka di babak kedua. Arsenal mencetak empat gol beruntun yang membuat lini pertahanan Aston Villa kocar-kacir.

  • Gabriel Magalhaes membuka keunggulan di menit ke-48.

  • Pemain anyar Martín Zubimendi menggandakan skor pada menit ke-52.

  • Leandro Trossard menambah penderitaan tim tamu di menit ke-69.

  • Gabriel Jesus menutup pesta gol Arsenal pada menit ke-78.

Aston Villa hanya mampu membalas lewat gol hiburan dari Ollie Watkins di masa injury time (90+4′).

Arsenal Vs Aston Villa: The Gunners Libas The Villans 4-1

Statistik Kunci: Efisiensi vs Penguasaan Bola

Menariknya, statistik menunjukkan bahwa Aston Villa sebenarnya lebih banyak memegang bola (52%) dan melakukan operan lebih banyak (406 operan). Namun, Arsenal jauh lebih tajam saat mendapatkan peluang.

Statistik Arsenal Aston Villa
Skor Akhir 4 1
Total Tembakan 19 9
Tembakan Tepat Sasaran 7 2
Penguasaan Bola 48% 52%
Akurasi Operan 88% 87%
Pelanggaran 16 9

Analisis Singkat

Kemenangan ini menegaskan ketajaman lini depan Arsenal yang berhasil mengonversi 7 tembakan tepat sasaran menjadi 4 gol. Di sisi lain, Aston Villa tampak kesulitan menembus pertahanan disiplin tuan rumah, meski mereka unggul tipis dalam distribusi bola.

Pertandingan juga berjalan cukup keras dengan total 5 kartu kuning yang dikeluarkan wasit (2 untuk Arsenal, 3 untuk Aston Villa).

Analisis Mendalam Performa Pemain

1. Martín Zubimendi: Sang Metronom Baru

Mencetak gol di menit ke-52 bukan satu-satunya kontribusi Zubimendi. Dalam pertandingan ini, ia membuktikan mengapa ia menjadi incaran utama. Meski Arsenal kalah penguasaan bola secara keseluruhan (48%), Zubimendi tampil efektif sebagai jembatan antara lini belakang dan depan. Akurasi operan tim yang mencapai 88% banyak dipengaruhi oleh ketenangannya dalam mendistribusikan bola di bawah tekanan pemain tengah Villa.

2. Gabriel Magalhaes: “The Wall” yang Produktif

Selain menjaga pertahanan tetap solid hingga menit-menit akhir, Gabriel kembali menunjukkan tajinya dalam situasi bola mati. Gol pembukanya di menit ke-48 menjadi pemecah kebuntuan yang krusial. Secara defensif, ia berhasil meredam Ollie Watkins hampir sepanjang laga sebelum akhirnya kecolongan di menit akhir.

3. Leandro Trossard: Efisiensi Tanpa Batas

Trossard kembali membuktikan bahwa ia adalah pemain paling efisien di skuad. Golnya di menit ke-69 mematikan momentum kebangkitan Aston Villa. Kemampuannya mencari ruang kosong di antara lini bertahan Villa yang rapat menjadi kunci Arsenal bisa melepaskan 19 tembakan sepanjang laga.

4. Ollie Watkins (Aston Villa): Terisolasi

Watkins mencetak gol di menit 90+4, namun statistik menunjukkan ia sangat terisolasi. Villa melepaskan 406 operan, tetapi hanya mampu menghasilkan 2 tembakan tepat sasaran. Ini menunjukkan bahwa suplai bola ke Watkins berhasil diputus oleh duet Gabriel dan Saliba.


Caption Media Sosial

Pilih gaya yang paling sesuai dengan platform Anda:

Opsi 1: Gaya Agresif & Bangga (Cocok untuk Instagram)

“London is RED! 🔴⚪ Dominasi total di Emirates. 4 gol, 3 poin, dan performa berkelas dari para penggawa Gunners. Zubimendi langsung nyetel, Gabriel Jesus kembali cetak gol! ⚡

Skor akhir: Arsenal 4-1 Aston Villa. Bagaimana pendapatmu tentang gol Zubimendi tadi, Gunners? 👇

#Arsenal #COYG #Premier League #Gunners #Zubimendi”

Opsi 2: Gaya Statistik & Taktis (Cocok untuk Twitter/X)

“Efisiensi adalah kunci. 🗝️ Meskipun kalah penguasaan bola (48% vs 52%), Arsenal tampil jauh lebih tajam dengan 19 tembakan dan 4 gol.

⚽ Gabriel 48’ ⚽ Zubimendi 52’ ⚽ Trossard 69’ ⚽ Jesus 78’

Clean sheet pecah di menit akhir, tapi 3 poin tetap aman di London Utara. Top performance! 🔝

#ARSAVL #PremierLeague #Stats”

Opsi 3: Singkat & Chill (Cocok untuk Story)

“Another day at the office. 4 goals, easy win! 🔥 Gunners on fire! 🔴⚪ #COYG”

Leave a Reply