DuniaBola – Keberhasilan Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi salah satu kisah paling ikonik dalam sejarah sepak bola modern. Bagaimana tidak, kemenangan itu bukan sekadar mengembalikan Albiceleste ke puncak dunia setelah penantian 36 tahun, namun juga menjadi penutup epik bagi perjalanan Lionel Messi yang selama hampir dua dekade menghiasi panggung sepak bola dunia. Namun, euforia itu tidak membuat Argentina berpuas diri. Justru sebaliknya, mereka memasuki siklus Piala Dunia 2026 dengan tekad yang lebih kuat: mempertahankan mahkota juara dan menegaskan status sebagai kekuatan sepak bola terbesar di era modern.
Piala Dunia 2026 sendiri akan memiliki format baru, dengan jumlah peserta meningkat menjadi 48 negara dan diselenggarakan di tiga negara berbeda—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Perubahan format ini menciptakan dinamika baru bagi setiap kontestan, termasuk Argentina yang kini menjadi buruan utama. Sebagai juara bertahan, setiap lawan pasti menempatkan pertandingan melawan Argentina sebagai laga paling penting dalam fase grup maupun knockout. Tantangan ini menuntut tim asuhan Lionel Scaloni untuk terus berkembang, memperkuat skuat, dan menjaga konsistensi performa.
Artikel ini akan membahas secara mendalam persiapan Argentina menuju Piala Dunia 2026: mulai dari evolusi taktik Scaloni, perkembangan generasi baru, posisi Lionel Messi dalam tim, hingga tantangan yang harus mereka hadapi dalam perjalanan mempertahankan gelar dunia.
1. Warisan Kesuksesan 2022 dan Tekad untuk Mengulanginya
Kemenangan di Qatar bukanlah hasil yang datang tiba-tiba. Di bawah kepemimpinan Lionel Scaloni, tim mengalami transformasi besar sejak 2018—saat itu berada dalam masa-masa sulit, tersingkir dari Piala Dunia 2018 dengan performa yang dianggap mengecewakan. Scaloni datang dengan pendekatan yang rendah hati namun revolusioner: membangun tim berdasarkan kebersamaan, fleksibilitas taktik, dan keberanian untuk mengandalkan generasi baru.
Di Piala Dunia 2022, menampilkan sepak bola yang matang—menggabungkan penguasaan bola, soliditas pertahanan, dan kreativitas serangan. Pemain seperti Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, Julián Álvarez, hingga Cristian Romero muncul sebagai pilar baru yang mendukung Messi.
Kesuksesan itu membentuk kultur kemenangan yang menjadi fondasi mental tim. Ketika memasuki siklus 2026, ada satu kalimat yang sering disampaikan Scaloni kepada seluruh pemain:
“Menjadi juara dunia adalah kehormatan. Mempertahankannya adalah misi.”
2. Lionel Scaloni: Arsitek Generasi Emas Baru
Lionel Scaloni, yang pada awalnya diragukan karena dianggap minim pengalaman, telah membuktikan dirinya sebagai pelatih kelas dunia. Ketenangan, kecerdasan taktik, dan kemampuannya membangun hubungan personal dengan pemain menjadi kunci keberhasilan .
2.1 Fleksibilitas Taktik
Scaloni dikenal sangat adaptif. Ia mampu melakukan perubahan formasi dari 4-3-3 ke 4-4-2 atau 5-3-2 tergantung lawan. Fleksibilitas inilah yang membuat sulit ditebak dan mampu mengatasi berbagai situasi pertandingan.
2.2 Kepercayaan pada Pemain Muda
Scaloni tidak ragu memberi panggung kepada pemain muda bahkan di laga-laga besar. Keberanian inilah yang melahirkan bintang baru seperti Enzo Fernández dan Julián Álvarez.
2.3 Kesinambungan Menuju 2026
Kontrak Scaloni hingga setelah Piala Dunia 2026 memberikan stabilitas bagi . Ia telah menegaskan bahwa 2026 bukan sekadar pembaruan skuat, tetapi lanjutan dari proyek jangka panjang yang sudah dimulai sejak 2018.
3. Messi dan Pertanyaan Besar: Apakah Ia Akan Tampil di 2026?
Salah satu diskusi terbesar dalam perjalanan menuju 2026 adalah soal Lionel Messi. Pada usia 39 tahun, banyak yang meragukan apakah ia masih akan membela tim nasional. Namun Messi tetap menjadi figur sentral, baik secara teknis maupun emosional.
3.1 Messi Masih Punya Peran
Meski tidak lagi berada di usia emas, Messi tetap mampu memberikan kualitas yang tidak dapat digantikan. Visi bermain, ketenangan, umpan kunci, serta pengalaman menjadikannya pemain yang masih sangat berguna.
Selain itu, keberadaan Messi menciptakan efek psikologis positif—kepercayaan diri rekan-rekannya, rasa hormat lawan, dan atmosfer khusus ketika bermain.
3.2 Adaptasi Peran
Jika tampil di 2026, Messi kemungkinan tidak akan memainkan peran seperti di 2022. Ia mungkin lebih diandalkan sebagai “playmaker murni”, tidak lagi dituntut pressing tinggi atau sprint panjang. Dengan pemain muda yang energik di sekelilingnya, peran kreator menjadi opsi ideal.
3.3 Pengaruh di Luar Lapangan
Terlepas dari apakah ia tampil atau tidak, Messi tetap menjadi ikon dan motivator. Keputusan akhirnya tentu akan diambil mendekati turnamen, tetapi Scaloni telah menegaskan bahwa pintu selalu terbuka untuk sang maestro.
4. Generasi Emas Baru Argentina
Argentina mungkin memiliki materi pemain terbaik sejak era kejayaan 2006–2010. Namun generasi saat ini menunjukkan karakter yang berbeda: lebih kompak, lebih matang secara mental, dan siap mengemban tanggung jawab besar.
4.1 Sektor Pertahanan
Cristian Romero dan Lisandro Martínez menjadi poros pertahanan yang agresif dan kokoh. Romero dengan gaya bertahan keras dan leadership, sedangkan Lisandro dengan kecerdasan membaca permainan dan distribusi bola.
Di sisi bek sayap, pemain seperti Nahuel Molina dan Marcos Acuña konsisten memberikan kontribusi ofensif.
4.2 Lini Tengah yang Kompetitif
Kehadiran Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul, hingga Exequiel Palacios menjadikan lini tengah Argentina
sebagai yang terbaik di dunia. Kombinasi kreativitas, stamina, dan kerja keras menjadi fondasi utama permainan Scaloni.
4.3 Lini Depan Masa Depan
Julián Álvarez menjadi striker utama generasi baru. Mobilitasnya memungkinkan Argentina memainkan sepak bola modern yang dinamis. Ditambah pemain seperti Lautaro Martínez, Ángel Di María (bila masih dipanggil), hingga wonderkid yang muncul di liga lokal, lini depan Argentina sangat berpotensi.
5. Tantangan Menuju Piala Dunia 2026
Walaupun Argentina berstatus juara bertahan, ada sederet tantangan besar yang tidak bisa diabaikan.
5.1 Tekanan Psikologis sebagai Juara Bertahan
Tim juara bertahan selalu menjadi target utama. Setiap lawan menganggap pertandingan melawan Argentina sebagai kesempatan untuk mencatat sejarah. Tekanan ini bisa berdampak besar, terutama bagi pemain muda.
5.2 Perubahan Format Piala Dunia
Dengan format 48 tim, fase grup bisa menjadi lebih tidak terduga. Banyak tim baru akan tampil tanpa beban, menciptakan potensi kejutan.
5.3 Kelelahan dan Cedera Pemain
Mayoritas pemain inti bermain di liga-liga top Eropa dengan jadwal padat. Konsistensi fisik menjadi kunci penting.
5.4 Regenerasi Berlanjut
Argentina harus memastikan pergantian generasi tidak mengganggu kestabilan taktik. Scaloni perlu memastikan kedalaman skuat tetap merata.
6. Taktik dan Strategi yang Akan Digunakan Argentina
Scaloni dikenal tidak terpaku pada satu pola. Namun ada beberapa elemen yang sudah menjadi ciri khas:
6.1 Dominasi Lini Tengah
Argentina sangat bergantung pada kontrol di lini tengah. Mac Allister dan Enzo bertugas mengatur ritme, sementara De Paul menjadi mesin penggerak sekaligus pelindung ruang Messi.
6.2 Fleksibilitas Formasi
Argentina kemungkinan tetap memainkan 4-3-3 atau 4-4-2 yang bisa berubah menjadi 3-5-2 saat menyerang. Sayap menjadi area vital, terutama dalam menciptakan ruang untuk Messi.
6.3 Pressing Cerdas
Scaloni tidak menerapkan pressing agresif sepanjang pertandingan. lebih memilih pressing terstruktur, menekan di waktu tertentu untuk menciptakan peluang transisi cepat.
6.4 Serangan Terencana Lewat Kombinasi
Argentina terkenal dengan triangulasi pemain: Messi–Julián–Enzo atau Molina–De Paul–Álvarez. Pola ini diperkirakan akan tetap menjadi senjata utama.
7. Prediksi Komposisi Skuad Argentina 2026
Walaupun masih bisa berubah, inilah gambaran komposisi skuat:
Kiper
-
Emiliano Martínez
-
Gerónimo Rulli
-
Juan Musso
Bek
-
Cristian Romero
-
Lisandro Martínez
-
Nahuel Molina
-
Nicolás Tagliafico / Marcos Acuña
-
Gonzalo Montiel
-
Facundo Medina
Gelandang
-
Enzo Fernández
-
Alexis Mac Allister
-
Rodrigo De Paul
-
Guido Rodríguez
-
Exequiel Palacios
-
Thiago Almada
Penyerang
-
Lionel Messi
-
Julián Álvarez
-
Lautaro Martínez
-
Ángel Di María (bila tetap bermain)
-
Alejandro Garnacho
Kehadiran pemain muda seperti Garnacho dan Almada menambah dimensi baru: kecepatan, kreativitas, dan gaya bermain yang agresif.
8. Rival Utama Argentina di Piala Dunia 2026
Untuk mempertahankan gelar, harus menghadapi beberapa raksasa dunia.
Brasil
Selalu menjadi rival utama dalam sejarah.
Prancis
Lawan yang mereka kalahkan di final 2022. Generasi baru Prancis terus bermunculan.
Jerman
Walau sempat terpuruk, Jerman selalu bangkit ketika turnamen besar.
Inggris
Memiliki generasi muda paling menjanjikan di Eropa.
Portugal
Jika Cristiano Ronaldo tampil terakhir kalinya, Portugal akan bermain dengan semangat ekstra.
9. Teknologi, Analitik, dan Ilmu Penunjang
Federasi Sepak Bola (AFA) kini mulai mengadopsi metode modern—analisis data performa, GPS tracking, hingga nutrisi dan recovery berbasis sains. Semua ini mendukung pemain untuk tampil maksimal di turnamen yang berlangsung panjang dan melelahkan.
10. Harapan dan Antusiasme Publik Argentina
Sepak bola bagi rakyat Argentina bukan sekadar olahraga—itu adalah identitas nasional. Gelombang kebanggaan setelah juara 2022 menciptakan ekspektasi besar. Namun publik juga sadar bahwa mempertahankan gelar bukan tugas mudah.
Meskipun demikian, dukungan untuk timnas sangat besar. Stadion-stadion selalu penuh saat laga kualifikasi, lagu-lagu dukungan seperti “Muchachos” terus menggema, dan setiap pemain diperlakukan seperti pahlawan.
11. Kesimpulan: Misi Besar Menuju 2026
Argentina memasuki Piala Dunia 2026 dengan tekad mempertahankan gelar yang diraih dengan perjuangan epik. Mereka memiliki pelatih brilian, kombinasi pemain senior–muda yang seimbang, serta mentalitas juara yang sudah terbentuk.
Tantangan tentu besar—tekanan, perubahan format turnamen, dan dinamika skuat. Namun Argentina bukan tim yang mudah runtuh. Mereka telah membuktikan bahwa keberhasilan bukan hanya soal talenta, tetapi kebersamaan, disiplin, dan keyakinan.
Apakah Argentina mampu menorehkan sejarah sebagai juara back-to-back seperti Brasil 1958–1962?
Pertanyaan itu hanya bisa dijawab di lapangan. Namun satu hal pasti: Argentina berangkat ke Piala Dunia 2026 bukan sekadar untuk berpartisipasi—mereka datang sebagai juara bertahan, dan dengan tekad besar untuk mempertahankan mahkota dunia.
By : BomBom



