duniabola Timnas Inggris mulai memasuki fase penting menuju Piala Dunia dengan persaingan ketat di lini tengah. Thomas Tuchel kini memiliki sejumlah opsi kreatif yang tampil impresif bersama klub masing-masing.
Morgan Rogers mencuri perhatian setelah membantu Aston Villa mengakhiri puasa gelar selama 30 tahun lewat kemenangan 3-0 atas Freiburg di final Liga Europa. Di sisi lain, Morgan Gibbs-White juga tampil konsisten bersama Nottingham Forest sepanjang musim.
Meski demikian, perdebatan soal siapa yang pantas mengisi posisi nomor 10 di belakang penyerang utama disebut belum benar-benar menggeser nama Jude Bellingham. Gelandang Real Madrid itu tetap dianggap sebagai pilihan utama untuk skuad The Three Lions.
Jude Bellingham Dinilai Tetap Unggul Thomas Tuchel
Dalam sistem favorit Thomas Tuchel, hanya ada satu slot nomor 10 yang tersedia. Dengan Elliot Anderson diperkirakan bermain lebih dalam bersama Declan Rice, posisi kreatif itu menjadi rebutan beberapa pemain.
Meski begitu, banyak pihak menilai slot tersebut tetap menjadi milik Bellingham. Penilaian itu muncul meski Rogers dan Gibbs-White sama-sama menjalani musim yang kuat di Premier League.

Mantan striker Aston Villa, Gabby Agbonlahor, sempat menyebut tidak ada lagi perdebatan soal siapa yang layak bermain sebagai nomor 10 setelah kemenangan Villa di final Liga Europa.
“Tidak ada lagi perdebatan dari sekarang sampai Piala Dunia soal siapa yang akan bermain sebagai nomor 10,” kata Agbonlahor kepada Ally McCoist.
“Kita harus mencari topik lain untuk dibahas di talkSPORT karena itu adalah Morgan Rogers. Sesederhana itu.”
Namun, pandangan tersebut dianggap bertolak belakang dengan pernyataan Agbonlahor sendiri beberapa bulan sebelumnya saat membela Bellingham setelah tampil bersama Inggris pada Maret lalu.
Thomas Tuchel Performa dan Rekam Jejak Jadi Pembeda
Bellingham dinilai tetap memiliki level berbeda dibanding para pesaingnya. Penilaian itu bukan hanya soal reputasi, tetapi juga pengalaman dan kontribusinya di level tertinggi Eropa.
Pemain berusia 22 tahun itu memang hanya mencetak lima gol dan empat assist dalam 27 pertandingan La Liga musim ini. Namun, situasinya dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk operasi bahu yang membuatnya absen sepanjang pramusim.
Bellingham baru kembali bermain penuh pada akhir September setelah menjalani operasi untuk mengatasi cedera bahu yang sudah lama mengganggunya. Cedera itu sebelumnya tetap ia tahan demi tampil di Euro 2024.
Setelah kembali fit, performanya sempat meningkat di bawah Xabi Alonso. Dari Oktober hingga Desember, ia mencetak empat gol dan tiga assist dalam rentang sembilan pertandingan.
Cedera Buat Performa Bellingham Menurun

Situasi berubah setelah Alonso pergi dan digantikan Alvaro Arbeloa. Penurunan performa Bellingham disebut juga terjadi pada sebagian besar skuad Real Madrid musim ini.
Kondisinya makin sulit setelah cedera hamstring pada Februari membuatnya menepi selama dua bulan. Saat Bellingham absen, Rogers dan Gibbs-White justru semakin memperkuat peluang mereka masuk skuad Inggris.
Meski begitu, penulis sumber menilai sulit membayangkan Inggris mencadangkan Bellingham jika ia berada dalam kondisi bugar.
Bahkan, disebut hanya fans Inggris yang akan memperdebatkan kemungkinan tersebut untuk memberi tempat kepada Rogers, Gibbs-White, Cole Palmer, atau Phil Foden.
Dilema Kreativitas di Skuad The Three Lions
Kehadiran Thomas Tuchel di kursi kepelatihan Inggris membawa angin segar sekaligus tantangan besar dalam meramu komposisi pemain. Melimpahnya talenta di lini serang, terutama untuk peran gelandang serang dinamis, membuat persaingan internal semakin memanas. Selain performa impresif Morgan Rogers yang sukses membawa Aston Villa berjaya di panggung Eropa, lonjakan performa Cole Palmer bersama Chelsea dan kreativitas konsisten Phil Foden di Manchester City kian memperumit pilihan sang manajer.
Situasi ini menciptakan standar baru yang sangat tinggi untuk dapat menembus starting eleven. Publik dan pengamat sepak bola Inggris mulai terbelah antara mempertahankan loyalitas pada nama-nama besar yang terbukti di level internasional, atau memberikan panggung kepada mereka yang sedang berada dalam bentuk performa terbaiknya di level domestik.
Kematangan Bellingham di Level Internasional
Namun, meminggirkan Jude Bellingham dari pos utama nomor 10 bukanlah perkara mudah. Di usianya yang masih sangat muda, mantan pemain Borussia Dortmund ini telah memiliki atribut yang jarang dimiliki pemain seusianya: mentalitas pemenang dan ketenangan di bawah tekanan tinggi.
Pengalamannya memimpin lini tengah Real Madrid di kompetisi seketat Liga Champions memberikan keunggulan taktis yang sulit ditandingi oleh Rogers maupun Gibbs-White. Bagi Thomas Tuchel, turnamen sebesar Piala Dunia membutuhkan kombinasi antara kecerdasan taktikal dan ketahanan mental, sesuatu yang sudah melekat pada diri Bellingham dalam beberapa musim terakhir. Oleh karena itu, meskipun kompetisi internal terus memanas, Bellingham diprediksi akan tetap menjadi poros utama kreativitas permainan Inggris demi ambisi merengkuh trofi emas.

