Man City harus menerima kenyataan pahit usai gagal meraih kemenangan saat bertandang ke Goodison Park. Pada duel pekan ke-35 Premier League, Selasa (5/5) dini hari WIB, The Citizens hanya mampu bermain imbang dalam laga penuh drama.
Laga ini sejatinya sempat berada dalam kendali Man City. Mereka tampil dominan di babak pertama dan mampu unggul lebih dulu lewat gol indah Jeremy Doku.
Namun, segalanya berubah drastis setelah jeda pertandingan. Everton menunjukkan reaksi kuat yang membuat jalannya laga berbalik arah secara mengejutkan.
Hasil imbang 3-3 ini bukan sekadar kehilangan dua poin bagi City. Lebih dari itu, ini menjadi pukulan serius dalam perburuan gelar Premier League musim 2025/2026.
13 Menit yang Menghancurkan Man City
Petaka bagi Man City terjadi dalam rentang waktu singkat yang krusial, hanya 13 menit. Tepatnya antara menit ke-68 hingga 81, City kehilangan kendali permainan sepenuhnya.
Gol penyama kedudukan Everton lahir pada menit ke-68 melalui Thierno Barry. Ia memanfaatkan kesalahan fatal di lini belakang City untuk mencetak gol, meski sempat dianulir sebelum akhirnya disahkan.
Hanya lima menit berselang, Everton kembali menghukum kelengahan City. Jake O’Brien mencetak gol lewat situasi sepak pojok yang gagal diantisipasi dengan baik.
Puncak mimpi buruk itu datang pada menit ke-81. Thierno Barry kembali mencatatkan namanya di papan skor dan membawa Everton unggul, membuat City berada di ambang kekalahan.

Bangkit Terlambat, Gelar Mulai Menjauh
Man City memang menunjukkan respons cepat setelah tertinggal. Erling Haaland mencetak gol pada menit ke-83 untuk menjaga asa timnya.
Drama berlanjut di masa tambahan waktu ketika Jeremy Doku mencetak gol penyama kedudukan. Gol tersebut menyelamatkan City dari kekalahan yang tampak tak terhindarkan.
Meski demikian, hasil imbang ini tetap terasa seperti kekalahan bagi City. Mereka kehilangan momentum penting dalam fase krusial perebutan gelar.
“Saya rasa tidak ada yang menyangka mereka akan kehilangan dua poin malam ini. Sekarang persaingannya sangat terbuka. Gelar juara harus menjadi milik Arsenal sekarang,” ucap pandit BBC Sport, Shay Given.
Dengan selisih poin yang kini mencapai lima angka dari Arsenal, posisi City semakin tertekan. 13 menit buruk di Goodison Park menjadi titik balik kegagalan mereka musim ini. Man City telah membuat jalan bagi Arsenal untuk juara.
Mengapa Pertahanan Man City Runtuh di Goodison Park?
Kegagalan Man City mempertahankan keunggulan di markas Everton memunculkan pertanyaan besar mengenai stabilitas mental skuad asuhan Pep Guardiola. Selama bertahun-tahun, City dikenal sebagai tim yang mampu membekukan permainan saat unggul. Namun, di Goodison Park, atmosfer tribun The Toffees seolah melucuti ketenangan sang juara bertahan. Absennya komunikasi yang efektif di jantung pertahanan saat menghadapi skema bola mati menjadi sorotan tajam. Thierno Barry, yang tampil spartan sepanjang laga, berhasil mengeksploitasi celah antara bek tengah dan penjaga gawang yang biasanya tampil tanpa cela.
Statistik menunjukkan bahwa City menguasai lebih dari 65% penguasaan bola, namun efektivitas serangan balik Everton membuktikan bahwa dominasi tanpa kewaspadaan adalah resep menuju bencana. Kecepatan transisi Everton dari bertahan ke menyerang memaksa para gelandang City melakukan pelanggaran-pelanggaran tak perlu, yang berujung pada tendangan bebas dan sepak pojok—titik lemah City dalam laga ini.
Peran Krusial Thierno Barry dan Strategi Sean Dyche
Keberhasilan Everton menahan imbang City tak lepas dari tangan dingin Sean Dyche. Dyche menginstruksikan para pemainnya untuk bermain fisik dan tidak memberikan ruang bagi Kevin De Bruyne untuk mendikte ritme. Thierno Barry muncul sebagai pahlawan yang tidak terduga. Dengan fisik yang kuat dan penempatan posisi yang cerdik, ia menjadi mimpi buruk bagi Manuel Akanji dan kolega.
Gol kedua Barry yang lahir pada menit ke-81 bukan sekadar faktor keberuntungan. Itu adalah hasil dari tekanan konstan yang dilakukan Everton terhadap lini tengah City yang mulai kelelahan. Strategi “Direct Football” yang diterapkan Dyche memaksa City bermain dalam zona yang tidak nyaman, menjauh dari gaya possession yang biasa mereka peragakan di Etihad Stadium.

Dampak Psikologis bagi Skuad The Citizens
Secara mental, hasil imbang ini bisa menjadi awal dari keretakan kepercayaan diri City. Menuju akhir musim 2025/2026, tekanan untuk terus menempel Arsenal di puncak klasemen sangatlah berat. Kehilangan poin melawan tim papan tengah seperti Everton di saat-saat krusial seringkali menjadi indikator memudarnya determinasi sebuah tim juara.
Pep Guardiola kini dihadapkan pada tugas berat untuk membangkitkan moral pemainnya. Dalam sesi konferensi pers pasca-pertandingan, Pep terlihat frustrasi, menyebut bahwa timnya “kehilangan kendali dalam detail-detail kecil.” Detail kecil itulah yang dalam kompetisi seketat Premier League, menjadi pembeda antara mengangkat trofi atau finis sebagai runner-up.
Perbandingan Persaingan Gelar: City vs Arsenal
Melihat tabel di atas, Arsenal berada dalam posisi yang sangat diuntungkan. Konsistensi The Gunners dalam menyapu bersih poin di laga-laga sulit menjadi pembeda musim ini. Jika City tidak segera membenahi lini belakang mereka, jarak lima poin ini bisa semakin melebar dalam satu pekan ke depan.
Menanti Keajaiban di Sisa Musim
Meski Shay Given menyatakan bahwa gelar juara kini sudah menjadi milik Arsenal, sejarah Premier League mengajarkan kita untuk tidak pernah meremehkan Man City hingga peluit akhir musim dibunyikan. Erling Haaland masih menjadi ancaman nyata bagi siapa pun, dan Jeremy Doku menunjukkan bahwa ia bisa menjadi pemecah kebuntuan di saat-saat paling genting.
Namun, keajaiban membutuhkan lebih dari sekadar individu yang hebat; ia membutuhkan kegagalan dari pihak lawan. City kini tidak lagi memegang kendali atas nasib mereka sendiri. Mereka harus memenangkan seluruh laga tersisa sambil berharap Arsenal terpeleset di pertandingan-pertandingan sulit seperti saat bertandang ke St. James’ Park. Bagi para penggemar sepak bola, drama di Goodison Park ini hanyalah pembuka dari akhir musim yang dipastikan akan menguras emosi dan adrenalin hingga detik terakhir.

