DuniaBola — Pernyataan Toni Kroos bukan sekadar opini personal. Ia mencerminkan kegelisahan yang dirasakan banyak pemain, pelatih, dan pengamat sepak bola mengenai masa depan turnamen yang selama puluhan tahun dikenal karena kualitas dan ketegangan luar biasanya.
Piala Dunia FIFA selalu dipandang sebagai puncak tertinggi sepak bola internasional. Setiap empat tahun sekali, turnamen ini bukan hanya menjadi ajang adu taktik dan kualitas antarnegara, tetapi juga simbol prestise, sejarah, dan identitas nasional. Namun, menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, wajah turnamen terbesar di dunia itu mengalami perubahan paling radikal dalam sejarah modernnya: jumlah peserta meningkat drastis dari 32 menjadi 48 tim.
Keputusan FIFA ini memicu perdebatan panjang. Di satu sisi, format baru dianggap membuka peluang lebih luas bagi negara-negara kecil dan berkembang. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa ekspansi tersebut justru akan menurunkan kualitas kompetisi. Salah satu suara paling vokal datang dari Toni Kroos, legenda sepak bola Jerman dan mantan gelandang Real Madrid, yang secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap format baru Piala Dunia 2026.
Toni Kroos: Suara Berpengalaman dari Panggung Dunia
Nama Toni Kroos tidak bisa dilepaskan dari sepak bola modern. Ia adalah simbol konsistensi, kecerdasan taktik, dan kontrol permainan di lini tengah. Sepanjang kariernya, Kroos telah:
-
Menjuarai Piala Dunia 2014 bersama Timnas Jerman
-
Meraih berbagai gelar Liga Champions bersama Real Madrid
-
Bermain di level tertinggi selama lebih dari satu dekade
Dengan pengalaman tersebut, Kroos memahami betul tekanan turnamen besar, baik dari sisi pemain maupun kualitas kompetisi. Ketika ia berbicara soal Piala Dunia, pandangannya membawa bobot dan kredibilitas yang sulit dibantah.
Dalam beberapa wawancara terbaru, Kroos secara tegas menyatakan bahwa ia menentang Piala Dunia dengan format 48 tim, karena menurutnya perubahan ini lebih banyak membawa risiko dibandingkan manfaat.
Alasan Utama Kroos Menentang Format 48 Tim
1. Penurunan Kualitas Pertandingan di Fase Grup
Salah satu poin paling tajam dari kritik Kroos adalah potensi ketimpangan kualitas antar tim di fase grup. Dengan 48 negara peserta, otomatis akan ada lebih banyak tim yang secara level permainan masih jauh tertinggal dari kekuatan tradisional dunia.
Menurut Kroos, hal ini berisiko menciptakan banyak pertandingan dengan skor mencolok:
-
4–0
-
5–0
-
6–1
Hasil-hasil seperti ini, menurutnya, tidak mencerminkan esensi Piala Dunia sebagai ajang persaingan elit.
“Piala Dunia seharusnya menyajikan pertandingan tingkat tertinggi. Jika terlalu banyak laga yang hasilnya sudah bisa ditebak sejak awal, maka kita kehilangan sesuatu yang sangat penting,” ujar Kroos.
2. Hilangnya Ketegangan dan Drama Klasik Piala Dunia
Salah satu daya tarik terbesar Piala Dunia edisi-edisi sebelumnya adalah drama sejak pertandingan pertama. Dalam format 32 tim, setiap laga fase grup sangat menentukan. Satu kesalahan bisa berujung pada eliminasi.
Kroos menilai bahwa dengan format 48 tim dan peluang lolos yang lebih besar, tekanan tersebut akan berkurang. Tim-tim unggulan mungkin bisa “bersantai” di laga awal, sementara tim kecil tidak lagi bermain dengan mental hidup-mati.
Akibatnya, intensitas yang selama ini menjadi ciri khas Piala Dunia dikhawatirkan akan menurun.
3. Piala Dunia Bukan Sekadar Soal Jumlah Peserta
Kroos menegaskan bahwa lebih banyak tidak selalu berarti lebih baik. Ia mempertanyakan logika di balik ekspansi besar-besaran yang dilakukan FIFA.
Menurutnya, Piala Dunia seharusnya tetap menjadi panggung bagi tim-tim terbaik, bukan sekadar turnamen yang mengejar inklusivitas tanpa mempertimbangkan kualitas.
“Saya tidak menentang negara-negara kecil. Tapi Piala Dunia harus mempertahankan standar tertinggi. Itu yang membuatnya spesial,” tegas Kroos.
Format 48 Tim: Ambisi Global FIFA
Keputusan menambah jumlah peserta ke 48 tim merupakan bagian dari strategi FIFA untuk:
-
Memperluas pasar sepak bola global
-
Memberikan kesempatan lebih besar bagi Asia, Afrika, dan Amerika Utara
-
Meningkatkan pendapatan dari hak siar dan sponsor
Secara politik dan bisnis, format ini dinilai sukses karena lebih banyak negara merasa dilibatkan. Namun, kritik seperti yang disampaikan Kroos menunjukkan bahwa ada jarak antara kepentingan bisnis dan kepentingan olahraga murni.
Dampak Terhadap Pemain: Beban Fisik dan Mental
Selain soal kualitas pertandingan, Kroos juga menyinggung masalah beban pemain. Dengan jumlah pertandingan yang lebih banyak dan jarak antarkota tuan rumah yang sangat luas di Piala Dunia 2026, risiko kelelahan meningkat.
Pemain top dunia saat ini sudah menghadapi:
-
Jadwal liga domestik yang padat
-
Kompetisi Eropa dan internasional
-
Turnamen tambahan seperti Nations League dan Piala Dunia Antarklub
Piala Dunia dengan format lebih besar bisa menjadi beban tambahan yang berbahaya bagi kesehatan pemain dalam jangka panjang.
Pandangan Pro dan Kontra di Dunia Sepak Bola
Pendukung Format 48 Tim
Pendukung format baru berargumen bahwa:
-
Negara kecil berhak merasakan atmosfer Piala Dunia
-
Pengalaman tampil di turnamen besar bisa meningkatkan kualitas sepak bola nasional
-
Kejutan-kejutan baru bisa muncul dari tim nonunggulan
Bagi mereka, Piala Dunia bukan hanya soal kualitas elit, tetapi juga representasi global.
Pihak yang Sependapat dengan Kroos
Namun, banyak legenda dan pengamat yang sepakat dengan Kroos. Mereka khawatir bahwa:
-
Terlalu banyak pertandingan “setengah serius”
-
Nilai eksklusivitas Piala Dunia berkurang
-
Turnamen menjadi terlalu panjang dan melelahkan
Pandangan ini menekankan bahwa Piala Dunia justru istimewa karena sulit dimasuki.
Piala Dunia 2026: Ujian Besar bagi FIFA
Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian nyata apakah format 48 tim bisa berjalan sesuai harapan. Jika turnamen berjalan kompetitif dan menarik, kritik seperti dari Kroos mungkin akan mereda.
Namun jika kekhawatiran tentang:
-
Banyaknya laga timpang
-
Penurunan intensitas
-
Kelelahan pemain
benar-benar terjadi, maka FIFA akan menghadapi tekanan besar untuk mengevaluasi format tersebut di masa depan.
Warisan Piala Dunia di Persimpangan Jalan
Kritik Toni Kroos sejatinya bukan sekadar penolakan terhadap perubahan. Ia adalah refleksi dari kegelisahan tentang arah masa depan sepak bola modern — antara menjaga tradisi dan mengikuti tuntutan globalisasi serta komersialisasi.
Piala Dunia selama puluhan tahun dikenal sebagai turnamen dengan kualitas tertinggi, drama luar biasa, dan nilai historis yang kuat. Format 48 tim berpotensi membawa era baru, tetapi juga berisiko menggerus nilai-nilai tersebut.
Kritik keras Toni Kroos terhadap Piala Dunia 2026 dengan 48 tim menambah dimensi penting dalam perdebatan global tentang masa depan sepak bola internasional. Dengan pengalamannya sebagai juara dunia dan pemain elit, suara Kroos tidak bisa dianggap remeh.
Apakah format 48 tim akan memperkaya Piala Dunia atau justru menurunkan kualitasnya, hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal pasti: Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi paling menentukan dalam sejarah modern turnamen ini.

