Dunia Bola – Bintang Real Madrid Timnas Spanyol memasuki fase krusial menuju Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Meski berstatus juara Euro 2024, La Roja tidak bisa bersantai. Pelatih Luis de la Fuente kini menghadapi tekanan besar untuk menentukan komposisi skuad terbaik, termasuk mengambil keputusan sulit yang berpotensi menyingkirkan sejumlah nama besar, bahkan pemain bintang dari Real Madrid.
Persaingan Ketat La Roja Memanas, Luis de la Fuente Dipaksa Ambil Keputusan Besar
Spanyol memang datang dengan reputasi kuat sebagai salah satu kandidat juara. Namun, sepak bola modern menuntut lebih dari sekadar nama besar. Performa terkini, konsistensi, kondisi fisik, dan fleksibilitas taktik kini menjadi faktor utama dalam seleksi pemain. Situasi inilah yang membuat persaingan internal di skuad Spanyol semakin panas.
Skuad Juara Euro 2024 Tak Lagi Aman
Kesuksesan di Euro 2024 memberi fondasi kuat bagi Timnas Spanyol. Banyak pemain dari turnamen tersebut masih menjadi tulang punggung tim. Namun, Luis de la Fuente tidak menutup mata terhadap perkembangan terbaru. Ia secara aktif memantau performa pemain muda, kebangkitan pemain lama, serta dinamika kompetisi di level klub.
De la Fuente menegaskan bahwa status juara Eropa tidak menjamin tempat otomatis di Piala Dunia. Ia ingin membawa pemain yang benar-benar siap bertarung selama turnamen panjang, bukan sekadar mengandalkan reputasi masa lalu.
Pendekatan ini membuat sejumlah pemain inti Euro 2024 mulai merasa terancam. Beberapa di antaranya bahkan harus bersaing langsung dengan pemain yang lebih muda dan lapar akan kesempatan.
Lini Tengah Jadi Medan Pertarungan Paling Sengit
Salah satu sektor yang mengalami perubahan signifikan adalah lini tengah. Spanyol selama bertahun-tahun dikenal dengan dominasi penguasaan bola, dan lini tengah selalu menjadi jantung permainan mereka.
Namun kini, komposisi ideal belum sepenuhnya aman.
Martin Zubimendi tampil konsisten bersama Real Sociedad dan menunjukkan kematangan luar biasa dalam membaca permainan. Ia tidak hanya kuat dalam bertahan, tetapi juga mampu mengalirkan bola dengan tempo cepat. Sementara itu, Mikel Merino terus berkembang sebagai gelandang box-to-box yang efektif.
Performa dua pemain ini mulai memberi tekanan besar kepada Rodri Hernández dan Fabián Ruiz. Meski Rodri masih dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik dunia, cedera dan beban pertandingan membuat posisinya tidak sepenuhnya aman. Fabián Ruiz pun menghadapi tantangan serupa akibat inkonsistensi performa di level klub.
Luis de la Fuente kini berada di persimpangan jalan: mempertahankan pemain senior atau memberi ruang lebih besar bagi gelandang yang sedang berada di puncak performa.
Morata Tak Lagi Tak Tersentuh
Nama Álvaro Morata juga ikut terseret dalam pusaran persaingan. Sebagai kapten Spanyol saat menjuarai Euro 2024, Morata memiliki nilai kepemimpinan yang tinggi. Namun, usia dan performa yang fluktuatif membuat posisinya tidak lagi aman.
De la Fuente menginginkan striker yang tidak hanya berpengalaman, tetapi juga tajam dan konsisten sepanjang musim. Beberapa penyerang muda mulai menunjukkan kualitas yang membuat Morata harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan tempatnya.
Situasi ini memperlihatkan bahwa tidak ada ruang untuk zona nyaman di Timnas Spanyol.
Lini Pertahanan Jadi Tanda Tanya Terbesar
Jika lini tengah penuh persaingan, maka lini pertahanan justru dipenuhi tanda tanya besar. Spanyol masih mencari kombinasi bek tengah terbaik yang mampu bertahan solid sekaligus membangun serangan dari belakang.
Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Dean Huijsen.
Dean Huijsen: Harapan Baru yang Mulai Goyah
Dean Huijsen muncul sebagai wajah segar di Timnas Spanyol sejak FIFA Matchday Maret 2025. Pelatih de la Fuente rutin memanggil bek muda ini dan memberinya kepercayaan tampil sebagai starter dalam beberapa laga penting.
Huijsen tampil mengesankan di perempat final UEFA Nations League. Ia menunjukkan keberanian, kekuatan fisik, serta kemampuan duel udara yang sangat baik. Posturnya yang menjulang setinggi 196 cm memberi dimensi baru dalam pertahanan Spanyol.
Sepanjang 2025, Huijsen mencatatkan enam penampilan bersama La Roja. Statistik ini menunjukkan betapa besar kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Namun, perjalanan Huijsen tidak berjalan mulus.
Cedera dan Kesalahan Fatal Jadi Masalah Bintang Real Madrid
Belakangan ini, Huijsen mengalami beberapa gangguan fisik yang membuat performanya menurun. Cedera ringan tapi berulang mengganggu ritme bermainnya, baik di level klub maupun tim nasional.
Selain itu, ia juga melakukan beberapa kesalahan krusial di bawah arahan Xabi Alonso di level klub. Kesalahan posisi, kehilangan fokus saat transisi, dan keputusan yang terlambat membuat kepercayaan publik mulai goyah.
Media Spanyol, termasuk Marca, menyoroti situasi ini dan menyebut bahwa tiket Huijsen ke Piala Dunia 2026 sama sekali belum aman.
Kembalinya Aymeric Laporte Mengubah Peta Persaingan
Ancaman terbesar bagi Huijsen datang dari kembalinya Aymeric Laporte ke Liga Spanyol. Setelah sempat tersingkir dari radar La Roja saat bermain di Al-Nassr, Laporte kini kembali menemukan performa terbaiknya bersama Athletic Bilbao.
Laporte membawa pengalaman, ketenangan, dan kepemimpinan yang sangat dibutuhkan di turnamen besar. De la Fuente sangat mengenal kualitasnya dan pernah menjadikannya pilihan utama di Euro 2024.
Jika berada dalam kondisi fit, Laporte hampir pasti masuk dalam skuad Piala Dunia.
Bintang Real Madrid Duet Ideal Laporte dan Le Normand
Di Euro 2024, Luis de la Fuente mengandalkan duet Aymeric Laporte dan Robin Le Normand sebagai pasangan bek tengah utama. Kombinasi ini terbukti solid, disiplin, dan mampu membaca permainan lawan dengan baik.
Le Normand masih menunjukkan konsistensi tinggi hingga kini. Jika Laporte kembali ke performa terbaik, duet ini berpeluang besar dipertahankan untuk Piala Dunia 2026.
Situasi ini otomatis memperkecil peluang Huijsen untuk mengamankan tempat utama.
Bintang Real Madrid Akibat Persaingan Ketat dengan Cubarsí dan Vivian
Huijsen tidak hanya bersaing dengan Laporte. Ia juga harus menghadapi persaingan dari Pau Cubarsí dan Dani Vivian.
Cubarsí dikenal sebagai bek muda dengan kemampuan distribusi bola yang sangat baik. Sementara itu, Vivian menawarkan kekuatan fisik dan kedisiplinan taktik.
Namun, ketiga pemain ini sama-sama tidak menjalani musim terbaik mereka. Inkonsistensi dan masalah kebugaran membuat de la Fuente harus berpikir keras.
Cristhian Mosquera, Kartu As dari Arsenal
Nama lain yang mulai masuk radar adalah Cristhian Mosquera. Bek Arsenal ini tampil impresif dan menunjukkan peningkatan signifikan dalam membaca permainan.
Keunggulan Mosquera terletak pada fleksibilitasnya. Ia mampu bermain sebagai bek tengah maupun bek kanan. Dalam turnamen panjang seperti Piala Dunia, fleksibilitas menjadi aset berharga.
Jika Mosquera terus tampil konsisten, peluangnya menembus skuad La Roja sangat terbuka.
De la Fuente Prioritaskan Fleksibilitas dan Mental Turnamen
Luis de la Fuente dikenal sebagai pelatih yang sangat memperhatikan detail. Ia tidak hanya menilai kualitas teknis, tetapi juga mentalitas pemain dalam situasi tekanan tinggi.
Piala Dunia menuntut pemain yang mampu beradaptasi dengan cepat, tampil stabil, dan siap bermain di berbagai skenario. Faktor ini bisa menjadi pembeda utama dalam menentukan siapa yang berangkat dan siapa yang tersingkir.
Bintang Real Madrid Tak Lagi Kebal Seleksi
Dalam konteks ini, status sebagai pemain Real Madrid tidak lagi menjadi jaminan. De la Fuente ingin menciptakan tim yang seimbang, bukan kumpulan nama besar.
Ia siap mengambil keputusan tidak populer demi kepentingan tim. Jika seorang pemain bintang gagal menunjukkan konsistensi, pintu keluar selalu terbuka.
Waktu Terus Berjalan Bagi Bintang Real Madrid Menuju 2026
Menuju Piala Dunia 2026, Spanyol masih memiliki waktu untuk bereksperimen. Namun, setiap pertandingan kini bernilai sangat penting.
Cedera kecil, penurunan performa, atau kehilangan fokus bisa berdampak besar pada peluang seorang pemain.
Kesimpulan: Bintang Real Madrid Tidak Ada Tempat Aman di La Roja
Timnas Spanyol memasuki era baru yang penuh persaingan sehat namun brutal. Keberhasilan di Euro 2024 menjadi pijakan, bukan jaminan masa depan.
Dean Huijsen, meski bertalenta besar, harus bekerja ekstra keras untuk mempertahankan tempatnya. Kembalinya Aymeric Laporte, konsistensi Le Normand, serta munculnya Mosquera membuat peta persaingan semakin kompleks.
Luis de la Fuente akan memilih pemain terbaik, bukan yang paling terkenal. Dalam situasi ini, hanya performa, kesehatan, dan mentalitas juara yang akan berbicara.
Menuju Piala Dunia 2026, La Roja bersiap melakukan seleksi paling ketat dalam satu dekade terakhir — dan tidak semua bintang akan selamat dari proses tersebut.





