Dunia Bola – Absennya Marselino Ferdinan dari skuad Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025 langsung menghadirkan tanda tanya besar di kalangan pecinta sepak bola nasional. Sang gelandang serang utama itu batal tampil karena masih dalam masa pemulihan cedera hamstring bersama klubnya, AS Trencin, di Liga Slovakia. Masyarakat sempat khawatir performa Indonesia di turnamen ini akan menurun, mengingat Marselino dikenal sebagai motor serangan Garuda Muda. Namun, pemberitaan dari Vietnam memberikan angin segar — media olahraga Soha menilai Timnas Indonesia tetap menjadi salah satu tim yang paling ditakuti di SEA Games 2025.
Garuda Muda Tetap Diunggulkan Berkat Kekuatan Kolektif, Trio Diaspora, dan Strategi Indra Sjafri
Kabar dari Vietnam ini menumbuhkan rasa percaya diri bahwa Timnas Indonesia U-22 masih memiliki kekuatan yang sulit digoyahkan di Asia Tenggara. Kehilangan Marselino memang menjadi pukulan telak, tetapi tim besutan Indra Sjafri tidak kekurangan pemain berbakat di lini lainnya. Para pemain muda terbaik dari klub dalam dan luar negeri kini siap mengisi peran dan menjaga dominasi Indonesia di kompetisi dua tahunan tersebut.
Absennya Marselino dan Dampaknya bagi Tim Nasional
Sejak awal persiapan menuju SEA Games 2025, Indra Sjafri sudah memasukkan nama Marselino Ferdinan ke dalam daftar inti 23 pemain. Keputusan tersebut sangat logis jika melihat peran Marselino selama ini sebagai kreator serangan yang eksplosif. Di usia 21 tahun, ia mampu menggabungkan kemampuan dribel, visi permainan tajam, serta penyelesaian akhir yang efektif. Catatan dua golnya untuk Timnas Indonesia di babak kualifikasi Piala Dunia 2026 membuktikan kualitasnya dalam mencetak angka.
Pelatih dan tim pelatih sebenarnya sudah memberi kelonggaran khusus terhadap sang pemain. Bahkan ketika Marselino tidak mengikuti pemusatan latihan selama Oktober–November dan tidak ambil bagian dalam laga uji coba melawan Mali, ia tetap mendapat izin khusus untuk tampil di SEA Games. Keputusan ini bukan tanpa dasar; statusnya sebagai pemain paling berpengaruh di lini serang membuatnya layak mendapatkan perlakuan berbeda.
Namun kenyataan berkata lain. Cedera hamstring yang mulai membaik justru kembali kambuh, memaksa pihak klub melakukan prosedur operasi agar sang pemain pulih total. Operasi tersebut membuatnya tidak bisa membela Indonesia. Setelah berkonsultasi dengan tim medis, Indra Sjafri pun memilih untuk mengganti posisinya dengan pemain muda Persik Kediri, Rifqi Ray.
Absennya Marselino memang terasa berat, tetapi Indra Sjafri tidak membiarkan tim larut dalam kekecewaan. Ia langsung mengatur penyesuaian taktik sambil memaksimalkan pemain yang ada.
Analisis Media Vietnam: Garuda Muda Tetap Tidak Terkalahkan
Media Vietnam Soha memandang hilangnya Marselino bukan akhir dari kekuatan Indonesia. Mereka menilai skuad Garuda Muda tetap solid karena memiliki kedalaman pemain yang merata dan berkualitas. Dalam analisanya, Soha menyebut bahwa banyak pemain lain yang juga memiliki kemampuan luar biasa, terutama dalam struktur permainan kolektif.
Soha bahkan menyoroti bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya bergantung pada satu bintang. Menurut mereka, Timnas Indonesia U-22 mengandalkan permainan cepat, agresif, dan penuh kreativitas yang dapat diperagakan oleh berbagai pemain berbeda. Selama skema taktik berjalan dan para pemain menjalankan peran masing-masing, Indonesia tetap akan menjadi penantang utama medali emas.
Penilaian ini menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia kini tidak lagi bergantung pada satu nama besar. Performa tim justru menjadi kunci utama keberhasilan — identitas permainan yang telah dibangun sejak era SEA Games 2023 kembali menjadi fondasi kuat untuk musim ini.
Kekuatan Baru: Trio Diaspora Jadi Andalan Garuda Muda
Satu hal yang paling menarik dari analisis media Vietnam adalah sorotan mereka terhadap tiga pemain diaspora Indonesia yang bermain di klub Belanda. Ketiganya dianggap sebagai poros kekuatan baru yang dapat menjaga keseimbangan permainan:
| Pemain | Klub | Peran |
|---|---|---|
| Ivar Jenner | FC Utrecht | Gelandang bertahan / playmaker |
| Mauro Zijlstra | FC Volendam | Gelandang serang / winger |
| Dion Markx | Top OSS | Gelandang box-to-box |
Ivar Jenner dikenal sangat kuat dalam duel, punya keakuratan umpan yang tinggi, dan piawai mengatur tempo pertandingan. Ia mampu menjadi motor transisi yang menghubungkan lini belakang dan lini depan. Kehadirannya membuat permainan Indonesia tetap stabil meski Marselino tidak ada.
Mauro Zijlstra menawarkan kecepatan dan fleksibilitas di sektor sayap. Ia sering memulai serangan dari sisi lapangan lalu menusuk ke kotak penalti. Kombinasi kecepatannya dengan kemampuan crossing akurat akan membuka banyak peluang gol.
Dion Markx menjadi penggerak serangan sekaligus penjaga ritme kecepatan. Ia mampu naik-turun secara konsisten, memberi tekanan pada lawan dan membantu pertahanan ketika dibutuhkan. Gaya bermain box-to-box-nya membuat Indonesia memiliki dimensi taktis yang lebih kaya.
Soha menilai ketiga pemain diaspora tersebut mampu mengompensasi hilangnya Marselino. Mereka tidak hanya menggantikan secara individu, tetapi juga menambah variasi permainan Timnas Indonesia U-22.
Strategi Indra Sjafri Menghadapi SEA Games 2025
Pelatih berpengalaman itu selalu menekankan filosofi permainan kolektif. Ia menggunakan skema yang memungkinkan para pemain saling terhubung dan saling mengisi. Dalam situasi kehilangan sosok sentral seperti Marselino, pendekatan ini menjadi sangat penting.
Beberapa penyesuaian yang mulai terlihat dalam latihan:
-
Fokus pada kerja sama antar gelandang
-
Serangan dari kedua sisi sayap dengan pergerakan cepat
-
Variasi high press dan low press tergantung lawan
-
Peningkatan kualitas build-up dari lini belakang
-
Penekanan pola triangle midfield
Indra Sjafri juga menegaskan bahwa motivasi dan mental juara harus dipertahankan. Ia menginginkan setiap pemain merasa berperan penting, bukan hanya sekadar pelengkap skuad.
Timnas Indonesia Optimisme Menjelang Laga Perdana
Timnas Indonesia U-22 akan menjalani laga perdana SEA Games 2025 pada Senin, 8 Desember 2025, menghadapi Filipina U-22 di 700 Anniversary Stadium, Chiang Mai, Thailand. Pertandingan tersebut akan menjadi kunci awal perjalanan Garuda Muda di Grup C. Start yang mulus sangat penting untuk mempermudah langkah menuju semifinal dan membuka peluang mempertahankan medali emas.
Saat ini, suasana di ruang ganti tim semakin positif. Para pemain menunjukkan energi tinggi dan keinginan besar untuk membuktikan kualitas mereka di lapangan. Trio diaspora sudah menyatu dengan baik, sementara pemain lokal tampil tanpa rasa canggung dalam sesi latihan.
Para penggemar juga semakin optimistis setelah melihat dukungan dari media luar negeri. Sanjungan dari Soha memberikan sinyal bahwa kekuatan Indonesia benar-benar diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.
Mengapa Timnas Indonesia U-22 Tetap Dijagokan? (Ringkasan Analitik)
| Faktor | Pengaruh |
|---|---|
| Kedalaman skuad merata | Tidak bergantung pada satu pemain |
| Trio diaspora | Menambah daya ledak permainan |
| Pengalaman pelatih | Paham karakter pemain muda |
| Identitas permainan jelas | Memudahkan adaptasi taktik |
| Mental juara | Bekal dari keberhasilan SEA Games 2023 |
Dengan seluruh elemen ini, wajar jika media Vietnam tetap menilai Garuda Muda sebagai kandidat utama peraih medali emas.
Harapan Publik dan Misi Besar Garuda Muda Timnas Indonesia
Publik Indonesia tentu ingin melihat skuad U-22 kembali mengharumkan nama bangsa. Absennya Marselino memang bukan kabar yang menggembirakan, tetapi sepak bola selalu menawarkan kesempatan bagi pemain lain untuk bersinar. Turnamen besar seperti SEA Games terkadang menjadi titik awal perjalanan karier pesepak bola menuju panggung internasional.
Jika Timnas Indonesia U-22 mampu kembali menjadi juara, generasi baru sepak bola nasional akan semakin percaya diri untuk menghadapi kompetisi lebih tinggi — baik Piala AFF, Kualifikasi Piala Asia, maupun Olimpiade.
Kesimpulan
Media Vietnam Soha menilai Timnas Indonesia U-22 masih sangat kuat meski tanpa Marselino Ferdinan. Tim tetap perkasa berkat kolektivitas permainan, kehadiran trio diaspora, kedalaman skuad yang merata, serta kecerdasan taktik Indra Sjafri. Laga pembuka kontra Filipina akan menjadi panggung pembuktian bahwa Garuda Muda benar-benar siap mempertahankan medali emas SEA Games 2025.
Marselino absen — tetapi ambisi Indonesia tidak ikut absen.
Garuda Muda datang ke Thailand dengan satu tujuan:
Juara lagi.





