duniabola – FIFA berpeluang mendapatkan izin untuk memakai aturan VAR versi mereka sendiri pada Piala Dunia 2026. Otoritas sepak bola dunia itu sedang mengajukan dispensasi khusus agar VAR bisa digunakan untuk memeriksa keputusan sepak pojok yang keliru.
Proposal tersebut sebelumnya mendapat respons beragam saat dibahas panel teknis IFAB (International Football Association Board), badan pembuat Laws of the Game. Meski begitu, IFAB kini mempertimb
Selain sepak pojok, FIFA juga tertarik membuka wacana review kartu kuning kedua. Namun, dalam jangka pendek, pemeriksaan untuk keputusan sepak pojok disebut sebagai prioritas utama.
Langkah FIFA tersebut diprediksi bakal menimbulkan tanda tanya, terutama dari Premier League. Manajer Nottingham Forest, Sean Dyche, beberapa pekan lalu mengkritik VAR karena dua pekan beruntun timnya kebobolan dari situasi sepak pojok yang dianggap keliru.
Meski begitu, perubahan aturan untuk kompetisi liga seperti Premier League tidak diharapkan terjadi dalam waktu dekat.
angkan memberi keleluasaan bagi FIFA untuk menerapkan aturan khusus di turnamen-turnamen pendek seperti Piala Dunia.
Meminimalisir Kesalahan

FIFA disebut ingin meminimalkan kesalahan mencolok, terlebih pada laga-laga besar seperti final Piala Dunia. Ide untuk memasukkan sepak pojok ke dalam jangkauan VAR sebenarnya sudah dibicarakan sejak musim panas lalu.
Meski demikian, penggunaan VAR untuk mengoreksi keputusan sepak pojok cukup kontroversial. Situasi itu dinilai berkaitan dengan salah satu prinsip dasar Law 5, yaitu wasit tidak bisa mengubah keputusan restart jika permainan sudah dimulai kembali.
Dalam satu pertandingan Premier League, terdapat rata-rata 10 sepak pojok. CEO Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Mark Bullingham, beberapa waktu lalu menolak perluasan cakupan VAR.
IFAB terdiri dari empat asosiasi sepak bola Inggris Raya (FA, FA Wales, FA Skotlandia, dan FA Irlandia Utara) yang masing-masing memiliki satu suara, serta FIFA yang memiliki empat suara.
Karena perubahan Laws of the Game membutuhkan enam dari delapan suara, dispensasi khusus untuk FIFA dianggap sebagai cara lebih mudah tanpa harus mengubah aturan global.
Premier League Tak Akan Ikuti Jejak FIFA
Jika disetujui pada pertemuan IFAB, Maret mendatang, aturan baru itu bisa langsung diterapkan pada Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Namun sebagian anggota IFAB masih skeptis terhadap perluasan wewenang VAR, terutama karena khawatir menambah durasi penundaan pertandingan.
Kecil kemungkinan kompetisi klub seperti Premier League akan mengikuti jejak FIFA. Keluhan Sean Dyche tentang gol gelandang Manchester United, Casemiro, dari sepak pojok yang dianggap keliru sempat memunculkan kembali wacana tersebut, tetapi di komunitas pembuat aturan, usulan ini masih mendapat resistensi.
Perbedaan Aturan FIFA dan Kompetisi Eropa
Jika FIFA akhirnya menerapkan VAR yang berbeda dari yang digunakan kompetisi domestik, hal itu bisa memperlebar jurang antara aturan turnamen FIFA dan kompetis Eropa. Isu tersebut sudah sejak lama memicu ketegangan.
Beberapa keputusan besar FIFA sebelumnya, seperti revisi siklus tuan rumah Piala Dunia dan perubahan kalender internasional, juga sempat menuai protes keras tetapi tetap berjalan.
Hanya sepekan setelah larangan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia dicabut, tidak mengherankan jika kini FIFA kembali mendapat kelonggaran untuk menentukan aturan VAR sesuai kehendak mereka.
Penggunaan teknologi dalam sepak bola modern telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Dimulai dari Goal-Line Technology yang resmi dipakai pada Piala Dunia 2014, hingga Video Assistant Referee (VAR) yang menjalani debutnya pada Piala Dunia 2018, teknologi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pengambilan keputusan wasit. Menjelang Piala Dunia 2026, FIFA kembali menyiapkan langkah besar berupa aturan VAR versi khusus yang akan diterapkan secara eksklusif untuk turnamen empat tahunan tersebut. Salah satu poin paling menarik perhatian publik adalah kemampuan VAR untuk membantu menentukan keputusan sepak pojok (corner kick)—sebuah hal yang sebelumnya tidak termasuk kategori review VAR.
Penerapan aturan baru ini bukan hanya sekadar penyesuaian teknis, tetapi merupakan bagian dari strategi jangka panjang FIFA dalam meningkatkan akurasi, konsistensi, dan transparansi dalam pertandingan. Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai seluruh aspek aturan baru VAR untuk Piala Dunia 2026, alasan dibuatnya aturan tersebut, potensi dampak pada jalannya pertandingan, hingga berbagai pro dan kontra yang muncul dari publik, pelatih, pemain, dan wasit.
1. Evolusi VAR dan Latar Belakang Aturan Baru
Sejak pertama kali diperkenalkan pada 2016 dan kemudian dipakai secara penuh pada Piala Dunia 2018 di Rusia, VAR mengalami banyak perkembangan. Pada fase awal, VAR hanya digunakan untuk empat kategori besar:
-
Goal / No Goal
-
Penalty / No Penalty
-
Direct Red Card
-
Mistaken Identity
Keempat kategori ini diformulasikan dengan tujuan agar VAR tidak terlalu mengintervensi permainan dan hanya bertindak pada momen krusial yang bisa mengubah hasil pertandingan. Namun seiring berjalannya waktu, banyak liga dan turnamen internasional menunjukkan bahwa penerapan VAR sering kali masih menimbulkan kebingungan penonton dan kontroversi, terutama tentang batasannya.
FIFA akhirnya melakukan evaluasi mendalam terhadap seluruh insiden VAR dalam berbagai kompetisi internasional. Mereka menemukan:
-
Ada banyak situasi penting yang tidak tercakup oleh kategori review VAR, padahal memiliki pengaruh besar pada alur pertandingan.
-
Keputusan bola keluar lapangan, termasuk sepak pojok atau lemparan ke dalam, bisa berujung pada gol atau peluang besar dalam hitungan detik.
-
Teknologi semakin presisi, sehingga batasan VAR bisa diperluas tanpa mengganggu ritme permainan.
Dari sinilah muncul gagasan untuk membuat aturan VAR khusus Piala Dunia 2026, sebuah aturan yang bersifat eksperimental namun sudah diuji pada sejumlah turnamen U-20, U-17, dan kompetisi klub.
2. Apa Saja Aturan VAR Baru untuk Piala Dunia 2026?
FIFA menambahkan beberapa kategori intervensi baru dan memperjelas batasan pada kategori lama. Berikut adalah aturan-aturan utama yang disiapkan:
2.1. VAR Bisa Meninjau Keputusan Sepak Pojok
Ini adalah aturan baru yang paling menarik perhatian. Dalam aturan sebelumnya, VAR tidak dapat memeriksa apakah bola keluar lapangan untuk menjadi corner kick atau goal kick, kecuali jika terkait langsung dengan peristiwa gol.
Namun kini:
-
VAR dapat memberi tahu wasit apakah bola terakhir menyentuh pemain tertentu sebelum keluar lapangan.
-
VAR bisa mengoreksi kesalahan pemberian sepak pojok atau goal kick jika kesalahan tersebut berpotensi memengaruhi jalannya pertandingan.
-
VAR hanya akan meninjau insiden yang jelas, bukan interpretasi 50:50.
2.2. Klarifikasi Offside Semi-Otomatis dengan Zona Baru
Piala Dunia 2026 akan memakai teknologi semi-automated offside 2.0, versi terbaru yang lebih cepat dan lebih presisi.
Perubahannya meliputi:
-
Penentuan offside tidak hanya berdasarkan titik tubuh, tetapi juga zona kontrol bola pemain.
-
Animasi 3D keputusan offside akan dibuat lebih transparan dan ditampilkan lebih cepat.
-
VAR berwenang menghentikan permainan beberapa detik lebih awal jika mendeteksi offside otomatis sebelum serangan berkembang.
2.3. Review Insiden Kartu Kuning Ganda
Kategori baru ini memungkinkan VAR memberi rekomendasi kepada wasit untuk memeriksa:
-
apakah kartu kuning kedua yang diberikan terlalu berat,
-
atau terjadi kekeliruan terkait pelanggaran sebelumnya.
Hal ini penting karena di turnamen singkat seperti Piala Dunia, kartu kuning ganda sangat menentukan nasib tim.
2.4. Review Pelanggaran Off the Ball yang Mempengaruhi Serangan
VAR kini dapat meninjau insiden di luar area bola yang sebelumnya tidak terlihat wasit tetapi berdampak signifikan pada jalannya serangan.
Contohnya:
-
Dorongan keras yang membuat bek kehilangan posisinya,
-
Tarikan jersey saat transisi,
-
Screening ilegal yang menghalangi penjaga gawang.
2.5. Komunikasi Terbuka dengan Penonton
Mirip seperti yang dilakukan di Liga Rugby dan American Football, wasit akan menjelaskan keputusan VAR melalui pengeras suara stadion setelah review selesai.
3. Alasan Utama FIFA Menerapkan Aturan Baru Ini
FIFA mengungkapkan tiga alasan besar yang mendasari inovasi ini.
3.1. Meningkatkan Konsistensi Putusan Wasit
Di laga-laga penting, kesalahan kecil seperti memberikan sepak pojok yang tidak seharusnya dapat memicu peluang besar atau bahkan gol. FIFA mencatat bahwa lebih dari 13% gol di Piala Dunia 2022 berasal dari bola mati termasuk sepak pojok. Oleh karena itu, akurasi dalam menentukan set-piece menjadi sangat krusial.
3.2. Meminimalkan Kontroversi Publik
VAR selama ini justru sering menimbulkan kontroversi karena ketidakkonsistenan penerapannya. Ada liga yang sangat ketat dalam penggunaan VAR, sementara liga lain lebih longgar. Dengan aturan khusus Piala Dunia, FIFA ingin menciptakan standar emas penggunaan VAR.
3.3. Teknologi Sudah Memungkinkan Review Lebih Detail
Kamera multi-angle, sensor posisi pemain, dan algoritma pelacakan bola memungkinkan keputusan teknis seperti sepak pojok dapat dianalisis secara akurat dalam hitungan detik tanpa memperlambat permainan.
4. Bagaimana Cara VAR Menganalisis Keputusan Sepak Pojok?
Untuk sepenuhnya memahami perubahan aturan ini, penting untuk mengetahui bagaimana VAR bekerja dalam menentukan apakah bola keluar untuk corner kick atau goal kick.
4.1. Teknologi Multi-Camera Tracking
FIFA menempatkan lebih dari 40 kamera berkecepatan tinggi di stadion Piala Dunia. Kamera ini:
-
menangkap momen sentuhan terakhir pemain dengan bola,
-
melacak bola dengan kecepatan 500 bingkai per detik,
-
mengidentifikasi perubahan arah mikro pada bola.
4.2. Integrasi Sensori Mikro pada Bola
Pada Piala Dunia 2026, bola akan memiliki sensor internal yang mendeteksi:
-
titik kontak,
-
rotasi,
-
perubahan kecepatan,
-
dan gaya gesek ketika disentuh.
Sensor ini membantu VAR menentukan siapa yang terakhir menyentuh bola sebelum keluar.
4.3. Proses Analisis dalam Waktu Nyata
-
Insiden terjadi
-
Asisten VAR menandai potensi kesalahan
-
Dalam 3–5 detik, VAR memeriksa semua sudut kamera
-
Jika terjadi kesalahan jelas (clear error), VAR memberi rekomendasi
-
Wasit mengonfirmasi melalui headset tanpa harus melihat monitor
Tingkat intervensi tetap minimal untuk menjaga ritme pertandingan.
5. Dampak Aturan Baru terhadap Jalannya Pertandingan
5.1. Pengurangan Kesalahan Teknis
Keputusan bola keluar lapangan sering kali sangat cepat sehingga wasit dan hakim garis salah menentukan arah. Dengan VAR, kesalahan jenis ini bisa ditekan hingga 95%.
5.2. Peluang dari Bola Mati Meningkat
Karena keakuratan set-piece lebih terjamin, setiap sepak pojok atau tendangan bebas akan memiliki kualitas lebih baik, membuat pertandingan lebih taktis dan detail orientated.
5.3. Pertandingan Lebih Transparan
Dengan diumumkannya hasil review di stadion, penonton tidak lagi kebingungan menebak-nebak keputusan wasit.
5.4. Potensi Waktu Tambahan Lebih Panjang
Karena review VAR tambahan dilakukan, waktu tambahan di akhir pertandingan mungkin bertambah 1–2 menit. Namun FIFA yakin teknologi cepat akan meminimalkan gangguan.
6. Tanggapan Pelatih, Pemain, dan Pengamat Sepak Bola
6.1. Tanggapan Pelatih
Sebagian pelatih menyambut baik aturan ini karena:
-
mereka sering dirugikan oleh kesalahan sepak pojok yang tidak tepat,
-
set-piece adalah bagian penting dari strategi mereka.
Namun ada juga pelatih yang khawatir permainan akan semakin terfragmentasi dan terlalu bergantung pada teknologi.
6.2. Tanggapan Pemain
Para pemain bertahan menyambut baik kejelasan baru ini, karena mereka sering kali dituduh salah menghalau bola. Pemain menyerang juga merasa lebih adil karena bisa mendapat sepak pojok yang seharusnya mereka dapatkan.
Namun ada kekhawatiran bahwa permainan bisa menjadi terlalu berhati-hati karena pemain takut membuat sentuhan kecil yang bisa terdeteksi teknologi.
6.3. Tanggapan Pengamat dan Media
Media internasional mencatat bahwa keputusan ini adalah langkah logis, tetapi perlu diuji secara intensif agar tidak menimbulkan kontroversi baru. Analis sepak bola menyoroti bahwa teknologi harus digunakan untuk melengkapi, bukan mendominasi, keputusan wasit.
7. Tantangan dalam Penerapan Aturan Baru
7.1. Terlalu Banyak Intervensi VAR
Jika VAR meninjau terlalu sering, ritme pertandingan bisa terganggu. Oleh karena itu, FIFA membatasi hanya insiden yang “jelas dan nyata” yang akan diperiksa.
7.2. Perbedaan Daya Tangkap Teknologi Antara Stadion
Piala Dunia 2026 akan digelar di tiga negara (AS, Kanada, Meksiko), dan masing-masing stadion memiliki infrastruktur berbeda. Konsistensi teknologi menjadi tantangan besar.
7.3. Penjelasan kepada Penonton Awam
Tidak semua penonton memahami detail teknis VAR. FIFA harus menyediakan edukasi agar keputusan yang diumumkan di stadion mudah dimengerti.
8. Contoh Kasus: Bagaimana VAR Baru Akan Mengubah Keputusan Penting
8.1. Insiden Sepak Pojok yang Berujung Gol
Bayangkan situasi berikut:
Bek menyundul bola, dan wasit memberikan goal kick. Namun tayangan ulang menunjukkan bola sebenarnya menyentuh striker terakhir.
Dengan aturan lama:
-
Permainan berlanjut tanpa review.
-
Tim lawan kehilangan peluang.
Dengan aturan baru:
-
VAR langsung memberi tahu wasit dalam beberapa detik.
-
Keputusan diubah menjadi sepak pojok.
-
Potensi gol bisa tercipta.
8.2. Offside Semi-Otomatis dengan Zona Kontrol
Dalam transisi cepat, striker sedikit berada dalam posisi offside secara tubuh, tetapi tidak dalam zona kontrol bola. Teknologi baru dapat mengkategorikan situasi ini lebih akurat dan menghindari keputusan yang merugikan serangan natural.
9. Dampak Jangka Panjang bagi Sepak Bola Dunia
Jika aturan khusus Piala Dunia 2026 berjalan sukses, FIFA kemungkinan akan:
-
menerapkannya di seluruh turnamen FIFA lainnya,
-
mendorong liga-liga besar meniru aturan yang sama,
-
memperluas cakupan VAR ke keputusan teknis lainnya.
Selain itu, teknologi bisa berkembang ke arah:
-
AI Referee Assistant,
-
stadion dengan kamera 360°,
-
sensor sentuhan di jersey pemain,
-
dan analisis gerak otomatis untuk mendeteksi pelanggaran halus.
10. Kesimpulan
Penerapan aturan VAR khusus Piala Dunia 2026, termasuk kemampuan meninjau keputusan sepak pojok, adalah langkah revolusioner dalam sejarah sepak bola modern. Aturan ini mencerminkan upaya FIFA untuk membuat pertandingan semakin adil, akurat, dan transparan. Meskipun ada tantangan dan kekhawatiran dari berbagai pihak, inovasi ini dapat membawa sepak bola ke era baru yang lebih presisi dan minim kontroversi.
Pada akhirnya, keberhasilan aturan ini akan sangat bergantung pada:
-
efektivitas teknologi,
-
konsistensi wasit dalam menerapkannya,
-
serta penerimaan pemain dan penonton.
Jika semua berjalan baik, Piala Dunia 2026 bisa menjadi tonggak sejarah baru dalam penerapan teknologi sepak bola.




