Como Bantai Leipzig di Kandang, Demichelis: Dua Gol Awal Jadi Hadiah

Como

DuniaBola – Como tampil luar biasa pada debutnya di Liga Champions 2026/2027. Bermain di Stadio Giuseppe Sinigaglia, klub Italia tersebut berhasil menghancurkan RB Leipzig dengan skor telak 4-1. Pelatih Leipzig, Martín Demichelis, menilai dua gol awal yang diberikan timnya menjadi salah satu penyebab utama kekalahan tersebut.

Como menciptakan sejarah dalam pertandingan ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, mereka tampil di kompetisi elite Eropa dan langsung menghadapi lawan yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak di Liga Champions. Namun, status sebagai debutan tidak membuat Como gentar.

Di hadapan pendukung sendiri, tim asuhan Cesc Fàbregas justru bermain agresif, berani menguasai bola, serta mampu memanfaatkan setiap kesalahan Leipzig. Empat gol masing-masing dicetak Martin Baturina, Tasos Douvikas, Assane Diao, dan Máximo Perrone. Sementara itu, Leipzig hanya mampu membalas melalui Andrija Maksimovic.

Leipzig Langsung Kesulitan Sejak Awal

RB Leipzig sebenarnya datang ke Italia dengan ambisi besar. Setelah sempat melewatkan satu musim dari Liga Champions, Die Roten Bullen kembali ke kompetisi paling bergengsi di Eropa dengan Martín Demichelis sebagai pelatih baru.

Namun, pertandingan justru berjalan jauh dari harapan.

Como tampil lebih agresif sejak menit awal. Mereka menekan Leipzig dengan intensitas tinggi dan membuat para pemain tamu kesulitan mengembangkan permainan. Bahkan, Leipzig terlihat tidak mampu memanfaatkan penguasaan bola untuk menciptakan peluang berbahaya.

Gol pembuka Gli Azzurri hadir pada menit ke-15 melalui Martin Baturina.

Berawal dari serangan yang dibangun dari sisi kiri, bola akhirnya jatuh ke Baturina setelah upaya Leipzig melakukan sapuan tidak sempurna. Sang gelandang kemudian memanfaatkannya dengan penyelesaian yang membuat Maarten Vandevoordt tidak berdaya.

Gol tersebut menjadi sangat bersejarah karena merupakan gol pertama Gli Azzurri dalam sejarah mereka di Liga Champions.

Dua Gol Awal Jadi Masalah Besar

Setelah tertinggal, Leipzig sebenarnya sempat mencoba meningkatkan tekanan. Akan tetapi, lini pertahanan mereka kembali melakukan kesalahan ketika Como melancarkan serangan cepat.

Tasos Douvikas berhasil mencetak gol kedua pada menit ke-38. Penyerang Como tersebut memanfaatkan situasi ketika lini belakang Leipzig gagal menjaga garis pertahanan dengan baik.

Douvikas mendapatkan ruang yang cukup besar untuk berlari menuju kotak penalti sebelum menaklukkan Vandevoordt.

Skor 2-0 bertahan hingga turun minum.

Bagi Demichelis, dua gol tersebut menjadi pukulan besar karena Leipzig sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk mengontrol pertandingan. Namun, kesalahan-kesalahan kecil membuat Gli Azzurri mendapatkan keuntungan besar.

Menurut laporan setelah pertandingan, Demichelis menilai dua gol pertama tersebut pada dasarnya merupakan hadiah yang diberikan Leipzig kepada lawannya.

Como Semakin Menggila di Babak Kedua

Memasuki babak kedua, Leipzig mencoba bermain lebih agresif. Mereka meningkatkan penguasaan bola dan berusaha mencari gol untuk memperkecil ketertinggalan.

Namun, Gli Azzurri justru menunjukkan kualitas mereka dalam melakukan serangan balik.

Pada menit ke-54, Assane Diao memperbesar keunggulan menjadi 3-0. Nico Paz menjadi salah satu aktor penting dalam proses gol tersebut setelah memberikan umpan yang membuka ruang bagi Diao.

Diao kemudian menyelesaikan peluang dari sudut yang cukup sulit untuk membuat Vandevoordt kembali harus memungut bola dari gawangnya.

Gol tersebut semakin memperlihatkan masalah Leipzig dalam menghadapi transisi cepat Gli Azzurri.

Maksimovic Sempat Hidupkan Harapan Leipzig

Leipzig belum menyerah meskipun tertinggal tiga gol.

Pada menit ke-58, Andrija Maksimovic berhasil memperkecil skor menjadi 3-1. Christopher Nkunku memberikan kontribusi dalam proses terciptanya gol tersebut dengan memainkan bola kepada Maksimovic.

Pemain muda Leipzig itu kemudian melepaskan tembakan yang tidak mampu dihentikan Butez.

Gol tersebut sempat memberikan harapan bagi Leipzig untuk melakukan comeback.

Namun, Como tetap mampu menjaga konsentrasi. Alih-alih panik, tim Fàbregas justru kembali bertahan dengan disiplin dan menunggu kesempatan untuk melakukan serangan balik.

Perrone Tutup Pesta Como

Harapan Leipzig untuk mengejar ketertinggalan akhirnya benar-benar berakhir pada masa injury time.

Máximo Perrone mencetak gol keempat pada menit ke-90 dan memastikan kemenangan spektakuler 4-1.

Gol tersebut lahir dari serangan balik yang kembali melibatkan Nico Paz. Pemain asal Argentina tersebut menjadi salah satu pemain paling menonjol dalam permainan Como dan berkali-kali menjadi sumber masalah bagi pertahanan Leipzig.

Peluit panjang kemudian memastikan Como meraih kemenangan terbesar sekaligus paling bersejarah dalam perjalanan klub di Eropa.

Demichelis Kini Berada di Bawah Tekanan

Kekalahan dari Como menjadi pukulan berat bagi Martín Demichelis.

Pelatih asal Argentina tersebut sebelumnya memulai kiprahnya di Leipzig dengan hasil positif setelah membawa tim menang atas Borussia Mönchengladbach. Dalam pertandingan tersebut, Leipzig tampil meyakinkan dan Demichelis sempat mendapatkan pujian atas pendekatan taktiknya.

Namun, situasi berubah drastis dalam beberapa hari terakhir.

Leipzig lebih dulu kalah 1-3 dari Werder Bremen di Bundesliga sebelum kemudian dihantam Como 1-4 di Liga Champions. Artinya, mereka telah kebobolan tujuh gol dalam dua pertandingan beruntun.

Tekanan terhadap Demichelis pun mulai meningkat.

Sebelum pertandingan melawan Como, Leipzig memang sudah mendapatkan peringatan setelah kekalahan dari Bremen. Mereka dianggap kesulitan menghadapi tim yang bertahan rapat dan terlalu mudah kehilangan kontrol ketika lawan meningkatkan intensitas.

Como Buktikan Mereka Bukan Sekadar Debutan

Di sisi lain, kemenangan ini menjadi bukti bahwa Como tidak datang ke Liga Champions hanya untuk menjadi pelengkap.

Perjalanan klub tersebut menuju level tertinggi Eropa sangat luar biasa. Beberapa tahun lalu Como masih berada di kasta bawah sepak bola Italia. Kini, mereka mampu tampil di Liga Champions dan langsung mengalahkan klub Bundesliga dengan skor 4-1.

Cesc Fàbregas menjadi sosok penting dalam perkembangan proyek Como.

Di bawah arahannya, Como memperlihatkan permainan yang terorganisasi, berani memainkan bola, serta sangat efektif ketika mendapatkan ruang untuk melakukan serangan balik.

Kemenangan atas Leipzig semakin memperkuat keyakinan bahwa Como mampu menjadi salah satu kejutan terbesar di Liga Champions musim ini.

Nico Paz Jadi Salah Satu Bintang Utama

Selain para pencetak gol, Nico Paz juga layak mendapatkan perhatian khusus.

Gelandang serang Argentina tersebut menjadi pusat kreativitas Como dan berkali-kali mampu menemukan ruang di antara lini tengah dan pertahanan Leipzig.

Umpannya untuk gol Diao menunjukkan kualitas visi yang dimilikinya. Pada penghujung pertandingan, kontribusinya juga kembali terlihat dalam proses gol Perrone.

Performa seperti ini menunjukkan bahwa Como memiliki pemain yang mampu menciptakan perbedaan ketika menghadapi lawan dengan kualitas tinggi.

Leipzig Harus Segera Bangkit

Kekalahan telak ini tentu bukan akhir perjalanan Leipzig di Liga Champions. Namun, hasil tersebut menjadi peringatan serius bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan Demichelis.

Willi Orban bahkan mengakui setelah pertandingan bahwa Como tampil lebih baik dalam sejumlah aspek, termasuk penguasaan bola, pengambilan keputusan, intensitas, dan duel fisik. Ia menilai Leipzig harus belajar dari cara Como bermain.

Permasalahan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu perubahan taktik.

Leipzig membutuhkan peningkatan dalam organisasi permainan, intensitas ketika kehilangan bola, efektivitas dalam membangun serangan, serta konsentrasi di lini belakang.

Terlebih lagi, tekanan akan semakin besar apabila hasil buruk kembali terjadi di pertandingan berikutnya.

Como Kirim Pesan Keras ke Eropa

Bagi Como, kemenangan 4-1 atas Leipzig lebih dari sekadar tiga poin.

Ini adalah pernyataan bahwa mereka layak berada di panggung terbesar Eropa.

Debut Liga Champions di kandang sendiri berakhir dengan pesta besar. Baturina mencetak gol pertama dalam sejarah Como di kompetisi tersebut, Douvikas dan Diao memperlebar keunggulan, sementara Perrone memastikan pesta semakin sempurna.

Sebaliknya, Leipzig harus pulang dengan banyak pertanyaan.

Martín Demichelis kini dituntut segera menemukan solusi agar timnya tidak semakin terpuruk. Setelah kalah dari Bremen dan Como secara beruntun, respons Leipzig pada pertandingan berikutnya akan menjadi ujian penting bagi sang pelatih.

Satu hal yang jelas, Como telah menciptakan malam yang tidak akan mudah dilupakan oleh para pendukungnya. Dari klub yang pernah bermain di kasta keempat Italia hingga menghancurkan RB Leipzig 4-1 dalam debut Liga Champions, perjalanan mereka benar-benar menjadi salah satu cerita paling menarik di sepak bola Eropa musim 2026/2027.

Leave a Reply