DuniaBola – Tottenham Hotspur mengawali Premier League 2026/2027 dengan hasil yang jauh dari harapan. Di tengah investasi besar-besaran pada bursa transfer musim panas, Spurs justru harus menelan kekalahan telak 0-3 dari Brentford pada laga pekan pertama di Gtech Community Stadium, Sabtu (22/8/2026).
Kekalahan tersebut menjadi tamparan keras bagi Tottenham yang sedang membangun kembali kekuatan di bawah Roberto De Zerbi. Klub London Utara itu menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan sejumlah pemain baru dengan harapan mampu memperbaiki performa setelah dua musim terakhir berakhir mengecewakan.
Namun, uang yang dikeluarkan di bursa transfer belum langsung berbanding lurus dengan performa di atas lapangan. Tottenham terlihat belum menemukan keseimbangan permainan dan kesulitan menghadapi tekanan Brentford sejak menit awal.
Brentford Langsung Menghukum Tottenham

Pertandingan berlangsung dengan tempo tinggi sejak awal. Brentford tampil agresif dan mampu memanfaatkan kelemahan yang terlihat belum sepenuhnya menyatu.
Keane Lewis-Potter membuka keunggulan Brentford sebelum Vitaly Janelt menggandakan skor. Dua gol tersebut membuat Tottenham memasuki ruang ganti dalam posisi tertinggal 0-2.
Situasi Spurs semakin buruk setelah Michael Kayode mencetak gol ketiga tidak lama setelah babak kedua dimulai. Brentford bahkan memiliki peluang memperbesar keunggulan ketika Igor Thiago mendapatkan kesempatan melalui titik penalti, meski eksekusinya gagal dan membentur tiang.
Tottenham tidak mampu memberikan respons yang cukup kuat. Lini tengah mereka kesulitan mengontrol permainan, sementara lini depan juga gagal memberikan ancaman konsisten kepada pertahanan tuan rumah.
Hasil akhirnya pun menjadi 3-0 untuk Brentford.
Belanja Besar Tottenham Jadi Sorotan

Yang membuat kekalahan ini semakin menjadi sorotan adalah besarnya investasi Tottenham pada musim panas 2026.
Spurs mendatangkan sejumlah pemain dengan biaya transfer yang sangat tinggi. Sandro Tonali dan Mateus Fernandes menjadi dua nama paling mencolok. Sky Sports sebelumnya melaporkan bahwa kombinasi biaya kedua pemain tersebut mencapai £185 juta dan membuat pengeluaran Tottenham ketika itu menembus £237 juta.
Sejumlah laporan kemudian menyebut total belanja Tottenham terus meningkat. Angka yang beredar bahkan mencapai lebih dari £300 juta setelah klub melakukan aktivitas transfer tambahan. Reuters menggambarkan situasi tersebut sebagai pembangunan skuad mahal yang langsung mendapat hasil buruk pada pertandingan pembuka.
Dalam rupiah, angka tersebut berada di kisaran Rp5 triliun lebih, tergantung kurs yang digunakan. Karena itu, kekalahan 0-3 dari Brentford terasa semakin ironis.
Tottenham bukan sekadar mengalami kekalahan. Mereka gagal menunjukkan bahwa investasi besar tersebut telah menghasilkan sebuah tim yang lebih solid.
Banyak Pemain Baru Belum Menyatu
Salah satu alasan yang muncul setelah pertandingan adalah proses adaptasi.
Tottenham mengalami perubahan besar pada skuad. Beberapa pemain baru langsung dipercaya tampil, termasuk Tonali dan Fernandes. Kehadiran pemain baru memang meningkatkan kualitas individu, tetapi membangun sebuah tim membutuhkan waktu.
Roberto De Zerbi pun mengakui bahwa Spurs belum sepenuhnya menjadi sebuah tim yang padu. Menurut laporan setelah pertandingan, sang pelatih menyoroti kondisi fisik dan kurangnya integrasi antarpemain sebagai salah satu masalah utama.
Kondisi tersebut terlihat jelas ketika menghadapi Brentford.
Spurs mempunyai pemain dengan kualitas individu tinggi, tetapi koordinasi antarlini belum terlihat meyakinkan. Ketika Brentford meningkatkan tekanan, Spurs justru kesulitan keluar dari situasi tersebut.
Masalah seperti ini sebenarnya cukup wajar bagi klub yang melakukan perubahan besar. Namun, Tottenham berada dalam situasi yang berbeda karena ekspektasi terhadap mereka sangat tinggi setelah menghabiskan dana dalam jumlah besar.
De Zerbi Menghadapi Tekanan Sejak Awal

Kekalahan ini juga menjadi awal yang buruk bagi Roberto De Zerbi dalam musim penuh pertamanya menangani Tottenham.
De Zerbi datang dengan tugas berat untuk mengubah Spurs menjadi tim yang lebih kompetitif. Musim sebelumnya Tottenham hanya finis di posisi ke-17 dan kembali berada dalam situasi yang jauh dari target klub.
Karena itu, manajemen memberikan dukungan besar di bursa transfer.
Sejumlah pemain baru didatangkan untuk memperkuat berbagai posisi. Namun, pertandingan melawan Brentford memperlihatkan bahwa pekerjaan De Zerbi masih sangat panjang.
Sang pelatih bahkan menilai Spurs belum menunjukkan karakter yang dibutuhkan. Ia menyoroti minimnya kekompakan dan perjuangan tim dalam pertandingan tersebut.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena masalah Tottenham bukan hanya soal taktik.
Spurs juga terlihat kalah dalam hal intensitas, duel, dan organisasi permainan.
Brentford Justru Tampil Lebih Matang
Di sisi lain, Brentford menunjukkan bagaimana sebuah tim bisa tampil efektif tanpa harus mengeluarkan uang yang begitu banyak.
Pasukan Keith Andrews bermain dengan organisasi yang jauh lebih baik. Mereka mampu mempertahankan intensitas, menekan ketika diperlukan, dan memanfaatkan kesalahan Tottenham dengan sangat efisien.
Mamadou Sangaré menjadi salah satu pemain yang mendapatkan perhatian setelah tampil impresif di lini tengah. Pemain tersebut bahkan memberikan kontribusi penting dalam proses terciptanya gol Brentford.
Brentford juga menunjukkan keuntungan dari mempertahankan kerangka tim yang sudah terbentuk. Sementara Tottenham masih sibuk menggabungkan banyak pemain baru, Brentford terlihat lebih siap secara kolektif.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam pertandingan.
Bukan Berarti Musim Tottenham Sudah Berakhir
Meski hasil 0-3 sangat mengecewakan, Tottenham masih memiliki 37 pertandingan Premier League untuk memperbaiki keadaan.
Satu pertandingan memang tidak bisa menjadi ukuran mutlak perjalanan satu musim. Namun, kekalahan ini harus menjadi peringatan serius bagi De Zerbi dan manajemen klub.
Tottenham perlu segera memperbaiki beberapa aspek, terutama koordinasi antarlini, intensitas permainan, keseimbangan lini tengah, serta efektivitas serangan.
Para pemain baru juga membutuhkan waktu untuk memahami sistem permainan dan karakter rekan-rekan setimnya.
Masalahnya, Premier League tidak memberikan banyak ruang untuk beradaptasi. Setelah Brentford, Tottenham harus segera menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya dengan tekanan yang lebih besar.
Uang Besar Harus Segera Dibuktikan
Bursa transfer yang spektakuler membuat ekspektasi terhadap Spurs meningkat drastis.
Fans tentu tidak hanya ingin melihat nama besar dalam daftar pemain. Mereka ingin melihat perubahan nyata dalam performa tim.
Kekalahan 0-3 dari Brentford menjadi bukti bahwa investasi besar tidak otomatis menghasilkan tim yang langsung kompetitif.
Spurs telah mendatangkan pemain berkualitas, tetapi tantangan berikutnya adalah membuat seluruh pemain tersebut bekerja sebagai satu kesatuan.
Jika De Zerbi mampu menyelesaikan persoalan tersebut, kekalahan di Brentford bisa menjadi pelajaran awal dalam proyek jangka panjang. Namun, jika masalah yang sama terus berulang, tekanan terhadap pelatih dan manajemen akan semakin besar.
Untuk sementara, fakta yang tidak bisa dibantah adalah Tottenham sudah mengeluarkan dana sekitar Rp5,5 triliun dalam proyek pembangunan skuad, tetapi pertandingan pembuka justru berakhir dengan kekalahan telak 0-3.
Brentford membuktikan bahwa kekompakan, organisasi, dan intensitas permainan bisa mengalahkan kekuatan finansial. Kini Tottenham harus segera menunjukkan bahwa belanja besar mereka bukan sekadar angka di bursa transfer, melainkan investasi yang benar-benar mampu mengubah performa tim.

